Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Liburan Santai di Tengah Alam, Pengalaman Jadi Inti Utama Perjalanan Wisata

Redaksi • Sabtu, 16 Mei 2026 | 10:35 WIB
WISATA ALAM: Puluhan warga berkemah di bukit Korea Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Jumat (15/5). Dari pengunjung bisa melihat Kota Mataram dari ketinggian. ( IVAN/ LOMBOK POST )
WISATA ALAM: Puluhan warga berkemah di bukit Korea Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Jumat (15/5). Dari pengunjung bisa melihat Kota Mataram dari ketinggian. ( IVAN/ LOMBOK POST )

LombokPost - Melepas penat kini tak selalu identik dengan hotel mewah atau liburan mahal. Banyak masyarakat memilih camping dan glamping sebagai cara sederhana untuk healing. Tidur di bawah langit terbuka, menikmati udara dingin, api unggun, hingga sunrise perlahan menjadi gaya liburan baru yang digemari lintas usia.

Akhir pekan kini identik dengan tenda, kopi hangat, dan suasana alam terbuka. Tren camping dan glamping terus meningkat di NTB, didorong kebutuhan masyarakat mencari ketenangan di tengah rutinitas yang padat.

Dari bukit hingga pinggir pantai, lokasi-lokasi camping selalu ramai dipenuhi pengunjung yang ingin sekadar “kabur” sejenak dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Ditemukan Tak Sengaja di Bukit, Tanaman Langka Milik Warga Mataram Ini Dipercaya Jadi "Magnet" Rezeki

Sosiolog Universitas Mataram (Unram) Dwi Setiawan Chaniago menjelaskan, tren camping dan glamping di NTB menarik dilihat melalui perspektif tourism gaze yang diperkenalkan sosiolog Inggris John Urry.

Menurutnya, tourism gaze memandang pariwisata bukan hanya soal perjalanan menikmati tempat wisata, melainkan proses sosial tentang bagaimana wisatawan melihat, membayangkan, dan mengonsumsi pengalaman wisata.

“Camping dan glamping tidak hanya berkembang karena faktor alam yang indah. Tetapi juga karena konstruksi media sosial, promosi wisata, influencer, dan budaya visual yang membentuk imajinasi wisatawan,” ujarnya.

Baca Juga: Hutan yang Bisa “Cerita” di Bukit Peramun, Inovasi Digital Jadi Daya Tarik Utama

Pengaruh Media Sosial

Dalam perspektif tourism gaze, wisata alam NTB dikonstruksi sebagai ruang wisata modern yang identik dengan ketenangan, estetika visual, dan pengalaman healing. Karena itu, glamping NTB berkembang pesat sebagai simbol wisata alam modern yang nyaman sekaligus fotogenik.

Dwi menjelaskan, alam dalam tourism gaze tidak lagi dipandang sekadar ekosistem natural. Alam berubah menjadi objek visual, latar fotografi, simbol ketenangan, hingga komoditas estetika yang dipasarkan melalui media digital.

Baca Juga: Perkuat Jalur Lintas Sumatra, Mitsubishi Motors Resmikan Diler Pertama di Bukittinggi: Targetkan Pusat Niaga dan Wisata

Hal itu terlihat dari desain glamping NTB yang umumnya menghadap gunung, sunrise, sunset, atau panorama alam tertentu. Interior tenda dibuat estetik dengan spot foto yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan visual wisatawan.

“Glamping berkembang pesat karena menawarkan kombinasi antara kedekatan dengan alam dan kenyamanan modern. Visualnya juga sangat cocok untuk media sosial,” katanya.

Media sosial menjadi faktor utama berkembangnya glamping NTB. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube kini membentuk standar baru tentang wisata ideal, tempat healing, dan pengalaman liburan modern.

Dalam konteks tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga mendokumentasikan dan memamerkan pengalaman wisata sebagai simbol gaya hidup di ruang digital.

Fenomena camping dan glamping NTB juga didorong budaya healing, escaping, dan self-care yang semakin populer di kalangan masyarakat urban. Alam NTB diposisikan sebagai ruang ketenangan yang menawarkan pengalaman emosional sekaligus visual yang menarik.

“Camping dan glamping menjual kesunyian, suara alam, kabut pagi, sunset, dan sunrise sebagai kebutuhan emosional yang kini menjadi komoditas wisata,” tutur Dwi.

Beri Pengalaman Baru

Sementara, pengamat pariwisata Taufan Rahmadi menilai tren camping maupun glamping sebagai bentuk diversifikasi layanan dalam sektor pariwisata terus berkembang. Menurutnya, perkembangan tersebut muncul karena kebutuhan pasar wisata yang semakin beragam.

“Trend camping atau glamping sebagai tempat servis dalam pariwisata itu terus berkembang. Karena memang market membutuhkan diversifikasi layanan destinasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perkembangan layanan wisata harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan atau sustainability. Kebijakan layanan wisata, harus selaras dengan upaya menjaga lingkungan serta menjaga iklim usaha masyarakat di sekitar destinasi wisata.

“Artinya kebijakan terkait pelayanan wisatawan harus selaras dengan menjaga lingkungan dan menjaga iklim usaha yang ada di sana. Itu merupakan kebijakan layanan yang membuat ekonomi daerah hidup,” katanya.

Menurut Taufan, diversifikasi layanan wisata dapat dilakukan selama memiliki nilai peluang bagi industri pariwisata. Penilaian terhadap potensi layanan tersebut pada akhirnya ditentukan oleh kebutuhan pasar dan dunia industri. ”Di situlah, glamping itu bisa hidup,” ujarnya.

Taufan menilai daya tarik utama wisata camping maupun glamping terletak pada pengalaman atau experience yang dirasakan wisatawan. Menurutnya, pengalaman menjadi inti utama dari sebuah perjalanan wisata. “Ujung dari wisatawan itu adalah experience,” katanya.

Ia menyebut wisatawan memilih glamping karena ingin memperoleh pengalaman berbeda dibandingkan penginapan biasa. Oleh sebab itu, autentikasi layanan wisata harus dibangun melalui pengalaman yang berkesan.

“Kalau dia ingin mendapatkan pengalaman berbeda dengan menginap di glamping. Otentikasi dari layanan wisata adalah experience,” lanjutnya. (jay/arl/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#glamping #media sosial #healing #NTB #camping