Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Saat Musim Lomba, Pakan dan Sangkar Laris Manis, Pecinta Burung Bawa Multiplier Effect

Redaksi • Sabtu, 6 Juni 2026 | 13:17 WIB
DAPAT BERKAH: Pedagang makanan dan perlengkapan burung Jaya berdiri di depan tokonya, wilayah Cakranegara, Kota Mataram, Jumat (5/6).( HARLI/LOMBOK POST)
DAPAT BERKAH: Pedagang makanan dan perlengkapan burung Jaya berdiri di depan tokonya, wilayah Cakranegara, Kota Mataram, Jumat (5/6).( HARLI/LOMBOK POST)

LombokPost - Masih banyaknya kicau mania membawa angin segar bagi pedagang burung, pakan, sangkar, dan perlengkapan lainnya. Penjual dan penghobi burung Trio Fendi mengatakan, menjual burung tidak hanya harus memikirkan cara menjualnya. Yang terpenting adalah merawatnya. ”Merawatnya juga harus telaten,” kata Fendi.

Di rumahnya, Fendi memelihara berbagai jenis burung. Mulai dari burung jalak, kenari, murai, kecial, hingga burung tengkek buto. “Yang paling banyak saya punya adalah murai. Ada 40 ekor saya punya,” jelas Fendi. 

Peralatan membersihkan burung disimpan rapi di dekat sangkar burung miliknya. ”Kita pelihara burung ini seperti mau perang. Harus siap dengan segala peralatan,” ujarnya.

Baca Juga: Lebih Dekat dengan Komunitas Burung Kenari NTB, Gelar Lomba Perdana Berhadiah Jutaan Rupiah

Jika tujuannya hanya untuk memelihara burung, cukup dengan rutin memberikan makan. Tetapi, bagi penjual mesti harus telaten. ”Kita beli kualitas burung yang rendah, tetapi setelah kita rawat bisa menjadi burung berkualitas tinggi, itu pasti cuan mengalir,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kualitas burung dilihat dari burung sudah bisa bunyi, sehat, dan bugar. “Bisa mencapai itu juga butuh perjuangan dan modal,” kata dia.

Fendi sudah bergelut di dunia burung sejak 2013 lalu. Fokus memelihara burung murai. ”Karena saya juga untuk ikut lomba,” kata dia.

Baca Juga: Berantas Hama Tikus, Dinas Pertanian Karawang Kerahkan Burung Hantu ke Areal Persawahan

Dari perjalanannya mengikuti lomba, Fendi tidak pernah pulang dengan tangan kosong. “Ada sudah 100 kali saya menang,” jelasnya.

Burungnya yang menang tentu menjadi perhatian para penghobi. Sehingga banyak orang yang menawar. ”Pernah di perlombaan setelah menang, burung saya dibayar Rp 35 juta,” kata dia.

Jika menjual burung murai yang kualitasnya rendah, belum bunyi, dan ekornya belum panjang harganya hanya bisa sampai Rp 3 juta. ”Makanya saya membeli burung dengan harga di bawah itu. Nanti saya yang rawat. Setelah bisa bunyi baru saya bawa ke tempat lomba. Disitu kami tunjukan kelas burungnya,” sebut pria berusia 36 tahun itu.

Baca Juga: Manfaat Sarang Burung Walet Bisa Dirasakan Melalui Blibli Promo Cashback

Burung yang sudah bisa berbunyi minimal dibayar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Itu tergantung dari kualitas burungnya juga. ”Karena kebanyakan yang mengikuti lomba itu melihat burung murai dari bunyinya,” bebernya.

Dari maraknya hobi burung tidak hanya penjual yang mendapatkan berkah. Penjual makanan dan peralatan burung pun ditimpa cuan. Salah satunya, Jaya.

”Kalau lagi musim lomba burung itu, pakan, vitamin, sangkar, dan lainnya banyak laku terjual,” sebut Jaya.

Sebenarnya setiap akhir pekan selalu ada lomba burung di berbagai tempat. Seperti di Lombok Timur (Lotim), Lombok Tengah (Loteng), dan wilayah Kota Mataram. ”Di situ menjadi ajang melihat kualitas burung,” kata dia.

Satu sangkar burung dihargai bervariasi. Tergantung model dan bentuknya. “Satu sangkar burung paling murah saya jual Rp 350 ribu. Kalau yang berkelas Rp 1 juta,” ujarnya.

Yang paling banyak dicari adalah sangkar burung jenis paralon. Sebab, itu bisa membuat suara burung juga lebih memantul. “Suara burung terkesan terdengar lebih bagus. Memicu burung cepat berbunyi juga. Karena kalau lomba yang dihitung adalah yang paling banyak berkicau dalam kurun waktu 10 menit,” kata dia.

Sementara makanan burung yang paling banyak dicari adalah butiran. Selain itu, vitamin bermerek Ebod Vit. ”Itu saya jual dengan harga Rp 60 ribu per botolnya. Menurut saya itu masih terjangkau,” ungkapnya. (arl/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#harga #perlombaan #lomba #burung #makanan