LombokPost - Bayang-bayang krisis air bersih kerap menghantui masyarakat Lombok Tengah (Loteng) saat musim kemarau tiba. Meski masuk dalam peta wilayah rawan kekeringan, Pemerintah Desa (Pemdes) Kidang, Kecamatan Praya Timur, memastikan ketersediaan air bersih di wilayahnya saat ini masih berada dalam taraf aman.
Kepala Desa Kidang Tarnadi menyampaikan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan atau permintaan pengiriman air tangki dari warga. Berbeda dari periode kemarau sebelumnya—saat warga terpaksa membeli air tangki secara mandiri—kini situasi membaik berkat optimalisasi sumber air lokal dan pembangunan infrastruktur secara bertahap.
“Masih aman untuk stok air bersih sampai saat ini, belum masuk kategori kekeringan. Warga juga belum ada laporan meminta diantarkan air bersih,” ujar Tarnadi.
Baca Juga: Tiga Menteri Cek Kampung Nelayan Merah Putih
Untuk memperluas jangkauan pasokan air secara berkelanjutan, Pemdes Kidang mengalirkan air dari Mata Air Pasung melalui sistem pipanisasi, sekaligus mengerjakan proyek pipanisasi baru di Dusun Selak. Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko krisis air tanpa bergantung pada bantuan jangka panjang.
Mitigasi Jangka Pendek
Meski beberapa desa masih mampu bertahan, potensi lonjakan krisis air di wilayah terdampak tetap diantisipasi oleh pemerintah daerah. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng Ridwan Macruf menyatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah mitigasi jangka pendek dengan mengalokasikan sekitar 300 tangki air bersih.
“Insyaallah kebutuhan air bersih masyarakat bisa terpenuhi dengan baik,” kata Ridwan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air selama musim kemarau agar pasokan tetap terjaga. Dalam mendukung distribusi bantuan tersebut, BPBD berkoordinasi erat dengan Perusahaan Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Ardhia Rinjani yang memiliki armada tangki dalam jumlah besar.
Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Loteng pemanfaatan sumber mata air yang dikelola Perumdam Tirta Ardhia Rinjani sejauh ini baru mampu melayani sekitar 60 ribu pelanggan. Luasnya cakupan wilayah membuat pasokan air dari Perumdam belum dapat memenuhi kebutuhan 1,2 juta jiwa masyarakat Gumi Tastura secara menyeluruh.
Pamsimas dan Penanganan Berkelanjutan
Menanggapi keterbatasan cakupan air bersih tersebut, pemkab Loteng terus mendorong program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) serta pembuatan sumur bor di berbagai desa.
Baca Juga: IMI Borong 8.000 Tiket MotoGP Mandalika 2026
Wakil Bupati (wabup) Loteng M Nursiah, menilai program Pamsimas dan sumur bor memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan kapasitas satu titik Pamsimas yang mampu melayani sekitar 150 kepala keluarga (KK), warga kini dapat mengakses air bersih langsung ke rumah tanpa harus berjalan jauh.
“Program Pamsimas dan sumur bor ini terbukti memberikan dampak positif bagi pemenuhan air bersih masyarakat. Kami berharap sarana dan prasarana yang sudah dibangun ini dapat dirawat dengan baik oleh kelompok masyarakat agar manfaatnya berkelanjutan,” tegas M. Nursiah.
Selain pembangunan infrastruktur teknis, pemkab Loteng juga gencar melakukan upaya penanganan dari hulu melalui program penghijauan di kawasan potensial sumber mata air, seperti Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara.
Penanaman pohon di area tebing rawan longsor tersebut ditujukan untuk menjaga kelangsungan resapan air sekaligus melindungi jalur perpipaan demi ketersediaan air jangka panjang.
Inovasi SPAM dan Pelestarian Lingkungan
Di sisi lain, Perumdam Tirta Ardhia Rinjani Loteng terus melakukan berbagai langkah strategis guna memperluas jangkauan layanan air bersih bagi masyarakat Loteng. Selain telah mengoperasikan SPAM Mandalika, Perumdam Tiara juga tengah mengajukan usulan pembangunan SPAM Masmirah atau SPAM Cerorong Danau Biru untuk memperkuat pasokan air bersih di kawasan yang belum terjangkau.
Tidak hanya fokus pada infrastruktur teknis, Perumdam Tiara juga menekankan pentingnya pelestarian sumber air dari hulu. Salah satu bentuk aksi nyatanya adalah dengan menggelar kegiatan penanaman pohon buah di kawasan hutan lindung Desa Karang Sidemen, Batukliang Utara.
“Kalau listrik mati masih ada alternatif, tapi kalau air tidak ada, tidak ada yang bisa menggantikan. Karena itu, menjaga mata air sangat penting, salah satunya dengan menanam pohon agar tutupan hutan tetap terjaga,” tegas Direktur Utama Perumdam Tirta Ardhia Rinjani Loteng Bambang Soepratomo.
Bambang menambahkan, aksi penanaman pohon harus dibarengi dengan pengawasan dan perawatan rutin. “Jangan sampai hari ini kita tanam, tapi seminggu kemudian sudah tidak ada. Perlu pengawasan dan perawatan rutin agar pohon bisa tumbuh dengan baik,” pungkasnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post