Tren WFC Makin Marak, Kafe Kini Jadi Tempat Kerja dan Peluang Bisnis Baru

Jay • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 17:57 WIB
Muhammad Mujahid Dakwah
Muhammad Mujahid Dakwah

 

LombokPost- Tren WFC kini tidak sekadar menjadi perubahan tempat bekerja. Kebiasaan membawa laptop dan menyelesaikan pekerjaan dari kafe justru memunculkan perubahan perilaku konsumen sekaligus membuka peluang bisnis kafe.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram) Muhammad Mujahid Dakwah menilai, fungsi kafe kini semakin beragam. Konsumen tidak hanya datang untuk menikmati kopi, makanan, atau bertemu teman. Sebagian pelanggan memilih WFC untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, menulis, hingga menyelesaikan pekerjaan profesional. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan baru yang bisa dibaca pelaku usaha sebagai peluang pasar.

“WFC menunjukkan adanya perubahan fungsi kafe. Konsumen tidak lagi datang hanya untuk minum kopi atau bertemu teman, tetapi juga menggunakan kafe sebagai tempat bekerja, berdiskusi, menulis, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan,” kata Mujahid.

Baca Juga: Desa Adat Sade Dibangun Lagi, Unram Siapkan Masterplan Pemulihan Pascakebakaran

Menurutnya, perubahan perilaku konsumen membuat kebutuhan terhadap sebuah kafe ikut berkembang. Produk utama seperti kopi dan makanan memang tetap menjadi daya tarik. Namun, pelanggan yang datang untuk WFC selama beberapa jam juga menggunakan berbagai fasilitas lain. Mulai dari tempat duduk, jaringan internet, stop kontak, suasana ruangan, hingga kenyamanan.

“Dalam konteks WFC, konsumen sebenarnya tidak hanya membeli kopi atau makanan. Mereka juga menggunakan ruang, kenyamanan, internet, suasana, dan fasilitas kafe untuk mendukung aktivitas kerjanya,” jelasnya.

Karena itu, tren WFC dapat menjadi peluang bagi pengusaha untuk membidik pelanggan sebagai segmen pasar tersendiri. Kelompok tersebut juga tidak homogen. Mahasiswa memiliki kebutuhan berbeda dengan freelancer. Begitu pula dosen, peneliti, pekerja kreatif, pelaku usaha, hingga kalangan profesional.

Baca Juga: Gaji PPPK Paro Waktu Berpotensi Diambil Alih Pusat, APBD Mataram Bisa Lebih Longgar

“Perubahan ini membuka peluang bagi pelaku usaha kafe untuk melihat pelanggan WFC sebagai segmen pasar tersendiri. Mahasiswa, freelancer, pekerja kreatif, dosen, peneliti, pelaku usaha, maupun profesional memiliki kebutuhan yang tidak selalu sama,” ujarnya.

Bagi mahasiswa, harga menu dan akses internet bisa menjadi pertimbangan utama. Sementara profesional yang bekerja selama beberapa jam mungkin lebih memperhatikan kenyamanan kursi, kestabilan wifi, pencahayaan, tingkat kebisingan, hingga ruang untuk berdiskusi. Artinya, pengelola kafe untuk WFC tidak harus memberikan layanan yang sama kepada seluruh pelanggan.

Mujahid menilai, pengusaha juga tidak perlu mengubah seluruh konsep kafenya menjadi coworking space. Sebagian area yang dibuat lebih ramah untuk bekerja sudah dapat menjadi nilai tambah.

Baca Juga: Gara-gara NIK Dicaplok Pengembang! Warga Miskin di Mataram Tiba-tiba Coret dari Daftar Bansos

“Kafe tidak harus berubah menjadi coworking space. Yang lebih penting adalah mampu menyediakan sebagian ruang yang lebih ramah untuk bekerja, misalnya wifi yang stabil, stopkontak, meja dan kursi yang nyaman, pencahayaan yang baik, serta suasana yang tidak terlalu bising,” katanya.

Fasilitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, menjadi penting ketika pelanggan WFC menghabiskan waktu tiga hingga lima jam atau bahkan lebih. Kursi yang menarik secara visual, misalnya, belum tentu nyaman digunakan untuk bekerja dalam waktu lama. Begitu juga jaringan internet.

Bagi pelanggan yang sekadar minum kopi, koneksi internet mungkin bukan persoalan utama. Tetapi bagi pekerja yang mengirim dokumen, melakukan rapat daring, menulis, atau mengerjakan pekerjaan digital, kestabilan koneksi menjadi bagian penting dari pengalaman di kafe.

Baca Juga: Mahasiswa Jerman PPL di SMAN 3 Mataram, Empat Bulan Mengajar hingga Belajar Budaya Indonesia

Tren WFC juga memiliki konsekuensi terhadap pengelolaan bisnis. Pelanggan WFC cenderung menggunakan meja lebih lama dibandingkan konsumen yang datang untuk makan atau minum.

“Pelanggan WFC juga memiliki karakter yang berbeda karena mereka dapat menggunakan meja selama beberapa jam. Karena itu, pelaku usaha perlu melihat bukan hanya berapa banyak pelanggan yang datang, tetapi juga berapa lama meja digunakan dan nilai transaksi yang dihasilkan selama pelanggan berada di kafe,” jelas Mujahid.

Menurutnya, kafe yang terlihat ramai belum tentu seluruh ruangnya menghasilkan nilai ekonomi secara optimal. Pengelola perlu mencari keseimbangan antara memberikan kenyamanan kepada pelanggan WFC dan menjaga produktivitas ruang usaha. Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang inovasi. Pengusaha dapat menyiapkan pilihan menu, paket layanan, atau fasilitas tertentu yang disesuaikan dengan karakter pelanggan yang menghabiskan waktu lebih lama di kafe.

Baca Juga: HUT ke-108 SDN 3 Mataram, Rayakan Maulid Nabi dan Berbagi Sembako

Namun, strategi tersebut tidak bisa diterapkan secara seragam. Setiap bisnis kafe perlu membaca karakter pelanggannya masing-masing. Dari sisi konsumen, bekerja dari kafe juga tidak otomatis membuat seseorang lebih produktif.

“WFC tidak otomatis membuat seseorang lebih produktif. Produktivitas tetap dipengaruhi jenis pekerjaan, kenyamanan ruang, tingkat kebisingan, teman bekerja, serta kemampuan seseorang berkonsentrasi,” terangnya.

Pekerjaan yang membutuhkan diskusi dan pertukaran ide bisa terbantu dengan suasana kafe. Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi mungkin lebih cocok dilakukan di tempat yang tenang. Karena itu, manfaat WFC  dapat berbeda pada setiap orang. Pemilihan tempat tetap harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan kebutuhan masing-masing.

Baca Juga: SDN 13 Mataram Perkuat Karakter Islami Siswa Lewat Pembiasaan Harian

Bagi pelaku usaha, fenomena WFC sebaiknya dibaca sebagai sinyal munculnya kebutuhan konsumen baru. “Ketika konsumen datang membawa laptop dan bertahan selama tiga sampai lima jam, itu menunjukkan adanya kebutuhan baru. Bagi pengusaha kafe, kebutuhan tersebut dapat dibaca sebagai peluang pasar, bukan sekadar pelanggan yang terlalu lama duduk di kafe,” tandas Mujahid.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
tren WFC Work From Cafe peluang bisnis kafe WFC di kafe tren Work From Cafe