LombokPost- Selalu online, cepat membalas pesan, dan mengikuti tren media sosial seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini. Namun, dibalik kemudahan komunikasi digital, muncul tekanan untuk terus terhubung. Akibatnya, waktu istirahat hingga interaksi di dunia nyata berpotensi terganggu.
Fenomena ini membuat digital detox semakin relevan. Istilah tersebut merujuk pada upaya mengambil jeda dari penggunaan teknologi digital untuk mengembalikan kendali atas waktu dan perhatian. Bukan berarti harus menghapus akun media sosial atau menjauhi ponsel sepenuhnya. Digital detox justru mengajak seseorang menggunakan teknologi secara lebih sadar dan terukur.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram Abdurrahman menilai, digital detox bukan sekadar tren gaya hidup. Fenomena ini mencerminkan upaya mengambil kembali kendali atas waktu, perhatian, dan kehidupan pribadi ditengah budaya digital yang menuntut setiap orang selalu terhubung.
Baca Juga: Bisnis Photo Booth di Mataram Tumbuh, Jadi Ruang Ekspresi dan Ikatan Sosial
Teknologi memang menawarkan banyak manfaat. Namun, ketika setiap waktu luang diisi dengan memeriksa notifikasi dan setiap jeda berubah menjadi waktu menatap layar, muncul pertanyaan mendasar. Siapa yang sebenarnya mengendalikan ritme kehidupan kita?
Tekanan Media Sosial
Dalam budaya digital, kehadiran seseorang kerap diukur melalui aktivitas didunia maya. Mulai unggahan, story, komentar, jumlah respons, status aktif, hingga kecepatan membalas pesan. Bagi sebagian anak muda, media sosial bukan hanya sarana komunikasi. Platform digital juga menjadi ruang untuk membangun identitas, mencari pengakuan, menjaga hubungan sosial, dan mengikuti tren.
Masalah muncul ketika aktivitas tersebut berkembang menjadi tekanan untuk terus hadir dan terlihat. Tidak mengunggah sesuatu bisa menimbulkan perasaan tertinggal. Sementara itu, melihat kehidupan orang lain yang tampak selalu menarik dapat memicu perbandingan sosial yang melelahkan.
Baca Juga: Kopi Keliling Makin Kreatif, Kopling Tawarkan Kopi Kekinian Harga Terjangkau
Tekanan tersebut tidak selalu datang dalam bentuk tuntutan langsung. Salah satunya berupa fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal informasi, tren, atau pengalaman yang dialami orang lain.
Kekhawatiran dianggap tidak peduli karena terlambat membalas pesan juga dapat menjadi beban tersendiri. Tanda pesan telah dibaca, status sedang online, dan budaya merespons dengan cepat membuat batas antara waktu pribadi dan kewajiban sosial semakin kabur. Padahal, kemudahan menghubungi seseorang melalui ponsel tidak berarti setiap pesan harus langsung dibalas. Anak muda tetap membutuhkan ruang pribadi untuk beristirahat, belajar, bekerja, dan berinteraksi tanpa tekanan notifikasi.
Perkembangan teknologi telah mempercepat komunikasi. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, hubungan jarak jauh lebih mudah dijaga, dan informasi bisa diperoleh kapan saja.
Baca Juga: Olahraga Saat Cuaca Panas, Jangan Abaikan Hidrasi
Namun, komunikasi yang semakin cepat tidak selalu membuat hubungan antarmanusia semakin dekat. Seseorang bisa duduk bersama keluarga atau teman, tetapi perhatiannya justru terpecah oleh layar ponsel. Secara fisik berada di tengah percakapan, tetapi secara mental sibuk mengikuti lini masa media sosial.
Abdurrahman menilai, persoalan utamanya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana teknologi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ruang digital tetap penting untuk belajar, bekerja, mengembangkan usaha, menjaga hubungan jarak jauh, dan membangun komunitas. Karena itu, digital detox bukan gerakan untuk mempertentangkan dunia digital dengan kehidupan nyata.
Sebaliknya, jeda digital menjadi upaya menempatkan teknologi sesuai kebutuhan. Tujuannya agar teknologi memperkaya hubungan manusia, bukan mengambil alih perhatian ketika seseorang sedang bersama orang-orang terdekat.
Baca Juga: Tren WFC Makin Marak, Kafe Kini Jadi Tempat Kerja dan Peluang Bisnis Baru
Persoalan penggunaan media sosial juga menjadi perhatian dalam penelitian ilmiah.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis Ahmed dan rekan-rekan yang diterbitkan pada 2024 mengkaji hubungan penggunaan media sosial dengan kesehatan mental dan kualitas tidur. Penelitian tersebut mencakup 182 studi pada tahap tinjauan, dengan 98 studi masuk ke dalam meta-analisis. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan depresi, kecemasan, masalah tidur, dan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.
Temuan tersebut menegaskan pentingnya memperhatikan pola penggunaan media sosial. Persoalannya bukan semata-mata berapa lama seseorang menatap layar, melainkan apakah penggunaan tersebut sulit dikendalikan dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, digital detox bukan solusi tunggal untuk semua persoalan kesehatan mental. Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada kondisi dan pola penggunaan teknologi.
Baca Juga: Sewa iPhone Makin Tren, Risiko Data Pribadi Mengintai
Kelola Penggunaan Teknologi
Kajian Ramadhan dan rekan-rekan pada 2024 juga menemukan penurunan gejala depresi yang signifikan secara statistik setelah intervensi digital detox. Namun, bukti yang tersedia belum cukup kuat untuk menyimpulkan adanya perbaikan pada seluruh aspek, termasuk stres, kepuasan hidup, dan kesejahteraan mental secara keseluruhan.
Karena itu, jeda digital lebih tepat dipahami sebagai salah satu upaya mengelola kebiasaan penggunaan teknologi. Langkah ini bukan pengganti bantuan profesional apabila seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang membutuhkan penanganan khusus.
“Penggunaan ponsel dalam intensitas tinggi tidak otomatis menunjukkan kecanduan. Bagi sebagian orang, gawai menjadi perangkat penting untuk menunjang perkuliahan, pekerjaan, penelitian, maupun usaha,” ujar Abdurrahman.
Baca Juga: Tetap Bugar di Tengah Cuaca Panas ala Kreator Konten Enio Shadu
Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika penggunaan sulit dikendalikan dan mulai mengganggu tanggung jawab sehari-hari. Misalnya, seseorang berulang kali gagal mengurangi waktu bermedia sosial, merasa sangat gelisah ketika tidak memegang ponsel, mengabaikan waktu tidur, atau tetap menggunakan media sosial meskipun dampaknya merugikan.
Dalam situasi seperti itu, evaluasi terhadap kebiasaan digital menjadi penting. Tujuannya bukan memberikan label kepada pengguna, melainkan mengenali pola penggunaan yang mulai mengganggu keseimbangan kehidupan.
“Bagi anak muda, kesadaran tersebut menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi,” ucapnya.
Baca Juga: Self Reward, Jeda Kecil untuk Energi Bisnis
Mengambil jeda dari dunia maya tidak harus dilakukan secara ekstrem. Anak muda di Kota Mataram dapat memulai digital detox melalui perubahan kebiasaan kecil yang realistis.
“Intinya, penggunaan teknologi perlu disesuaikan dengan kebutuhan, bukan menjadi aktivitas otomatis yang mengisi setiap waktu kosong,” terangnya.
Keberhasilan digital detox tidak semestinya diukur dari berapa lama seseorang tidak mengunggah story atau meninggalkan media sosial. Ukuran yang lebih bermakna adalah kemampuan mengelola perhatian, beristirahat dengan baik, menyelesaikan tanggung jawab, dan hadir ketika berinteraksi dengan orang lain.
Dalam budaya yang menganggap selalu online sebagai tanda kepedulian, mengambil jeda terkadang disalahartikan sebagai sikap tidak peduli. Padahal, tidak membalas pesan seketika bukan berarti tidak menghargai orang lain. Kemampuan menentukan kapan harus terhubung dan kapan perlu beristirahat menjadi bagian penting dari literasi digital. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, dan menjaga hubungan sosial tanpa harus mendominasi seluruh aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Bisnis Photo Booth Punya Peluang Cuan Menjanjikan
“Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia menjalani kehidupan, bukan justru menentukan bagaimana setiap waktu harus dihabiskan,” pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post