Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gundam atau Gunpla, Mainan yang Tidak Lagi Main-Mainan

Alfian Yusni • Senin, 5 Mei 2025 | 14:56 WIB
Gunpla HG RX 78.(istimewa)
Gunpla HG RX 78.(istimewa)

LombokPost - Saya tak pernah menyangka bahwa potongan-potongan plastik kecil, yang awalnya terlihat remeh, bisa mengubah cara orang menikmati waktu luang.

Saya juga tak pernah menyangka bahwa sesuatu yang berasal dari anime tahun 1979 akan tetap relevan bahkan jauh lebih populer di tahun 2025 ini.

Namanya Gundam. Sebuah serial anime Jepang tentang robot raksasa yang dikendarai manusia. Waktu itu belum ada Iron Man, belum ada Pacific Rim.

Tapi Gundam sudah memperlihatkan konflik politik, idealisme, dan teknologi canggih yang membingungkan anak-anak tapi menggoda orang dewasa.

Lalu muncullah Gunpla. Singkatan dari Gundam Plastic Model Kit. Bandai yang jeli melihat pasar, segera memproduksi mainan rakitan dari robot-robot di anime itu.

Mainan yang bisa dibongkar pasang. Bisa diwarnai. Bisa dimodifikasi. Bahkan bisa diperlombakan.

Salah satu gunpla jenis MG, koleksi penulis.
Salah satu gunpla jenis MG, koleksi penulis.

Gunpla bukan mainan seperti biasanya. Ia menuntut ketelitian, kesabaran, dan konsentrasi. Bahkan, bisa jadi lebih rumit dari pekerjaan kantoran.

Tak sedikit yang rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, hanya untuk menyempurnakan satu model kit. Ada yang mendetailkan hingga ke sekrup-sekrup kecil. Ada yang menambahkan efek luka dan karat. Ada yang membuatnya seperti hidup.

Lalu lahirlah kasta. HG, MG, RG. High Grade, Master Grade, Real Grade. Makin tinggi kelasnya, makin rumit dan makin mahal. Tapi justru di situlah kesenangannya. Seperti orang yang senang merakit motor tua, atau membangun rumah kayu sendiri di desa.

Hari ini, Gunpla bukan cuma milik Jepang. Di Indonesia, komunitasnya hidup. Workshop-nya ramai. Kompetisinya bergengsi.

Ada orang-orang yang rela memamerkan hasil rakitannya ke luar negeri, dengan bangga membawa nama Indonesia.

Saya sempat bertanya: kenapa mereka begitu cinta pada benda ini? Jawabannya ternyata sederhana: karena ini bukan hanya soal robot. Ini tentang menciptakan.

Tentang meluapkan stres. Tentang melatih disiplin. Tentang menyusun sesuatu dari kekacauan. Dan di situlah manusia merasa berarti.

Ironisnya, mainan ini muncul dari cerita perang. Tapi ia menyatukan banyak orang. Dari berbagai usia, profesi, dan latar belakang.

Gunpla bukan lagi mainan. Ia menjadi meditasi. Ia menjadi seni. Ia menjadi pelarian yang sehat di tengah dunia yang makin riuh dan tak terduga.

Dan ya, kadang pelarian terbaik datang dari hal-hal yang terlihat sepele seperti potongan plastik kecil di meja kerja Anda. (***)

Editor : Alfian Yusni
#gundam #gunpla #mainan