LombokPost - I Wayan Jati, instruktur yoga sekaligus pemilik dari Lombok Yoga Center menjelaskan, yoga tidak memiliki batasan, baik dari segi usia maupun kondisi fisik.
Ia mencontohkan, member tertua di studionya berusia 60 tahun.
Yoga sebenarnya tidak membutuhkan bahwa orang harus lentur. Kaku pun bisa.
“Cuma disesuaikan dengan kemampuan tubuh masing-masing,” terangnya.
Ia juga menekankan pentingnya tidak memaksakan diri atau berkompetisi saat beryoga, karena hal itu justru dapat memicu cedera.
Bagi pemula, ia menyarankan untuk memilih kelas beginner atau mengikuti opsi gerakan yang disederhanakan.
“Intinya harus rutin. Jangan melebihi dari batas kemampuan badan kita untuk bergerak. Pose yoga itu banyak sekali, ribuan. Hanya sekadar miring atau duduk gini saja itu sudah pose. Jadi semua usia sebenarnya bisa,” jelasnya.
Bersifat Holistik
Berbeda dengan olahraga lain yang fokus pada fisik, Wayan Jati menjelaskan bahwa yoga bersifat holistik, artinya menyeluruh, mencakup jasmani dan rohani.
"Melakukan pose asanas itu sebenarnya melatih fisik kita, kelenturan, dan kekuatan. Selain melatih fisik, juga melatih dari dalam, istilahnya memperoleh ketenangan pikiran,” paparnya.
Melalui konsentrasi pada tubuh dan napas saat berpose, pikiran menjadi fokus, sehingga tercipta keselarasan antara tubuh, pikiran, dan napas.
Hal ini yang membuat orang merasa fresh, tenang, dan rileks setelah beryoga.
Manfaat ini semakin terasa dengan adanya sesi Pranayama (latihan pernapasan) dan relaksasi di akhir kelas.
“Secara rohani dapatnya pas kita relaksasi ataupun latihan pernapasan dan meditasi. Makanya dikatakan yoga itu bersifat holistik, untuk jasmani dan rohani,”pungkasnya.
Dengan manfaat yang mencakup physical dan mental wellness, yoga juga dapat menjadi salah satu solusi untuk healing atau masalah mental, asalkan dilakukan dengan niat dan komitmen yang kuat.
Intinya, yoga tidak hanya tentang pose akrobatik yang keren, melainkan sebuah jalan untuk mencapai kesadaran diri, ketenangan, dan keseimbangan hidup yang holistik.
Hal senada diungkapkan Ni Nengah Ayu Bulandari, instruktur yoga.
Bulan menjelaskan yoga memiliki manfaat yang jauh lebih mendalam daripada sekadar gerakan kelenturan.
“Yoga ini satu, untuk memperlancar peredaran darah. Selain itu, untuk memperbaiki metabolisme karena beberapa gerakan itu memberi efek pemijatan ke organ dalam,” katanya.
Ia juga menekankan fungsi yoga sebagai terapi. Bulan sering menemui murid yang memiliki gangguan kesehatan, seperti syaraf kejepit, yang memanfaatkan yoga sebagai sarana pemulihan.
Namun, ia mengingatkan, yoga harus dilakukan dengan teknik yang benar.
“Begitu dia dilakukan dengan benar, dia bisa mengobati. Begitu tidak dilakukan dengan benar, dia juga bisa menyakiti,” tegasnya.
Bulan juga membantah anggapan jika yoga hanya untuk orang bertubuh ramping atau lentur, sebab tidak ada batasan kriteria atau usia.
Gerakan yoga bisa disesuaikan, bahkan untuk anak-anak, orang sakit, hingga orang tua.
Mengenai anggapan yoga yang tidak banyak bergerak dan kurang membakar kalori, Bulan memberikan klarifikasi.
“Itu tergantung tipe-tipe yoga. Kalau mau yang lebih berat dan berkeringat lebih banyak, ambil yang Power Yoga atau Astanga Yoga,” jelasnya.
Sementara untuk pemula atau yang mencari relaksasi, bisa memilih Yin Yoga yang gerakannya ditahan lebih lama dan lebih santai.
Bulan turut mengamini bahwa yoga bisa menjadi sarana healing untuk masalah mental.
Dea Putri, Yoga Manager di Mana Yoga Retreat menambahkan, yoga bukan hanya soal gerakan fisik.
Mereka juga mencari pengalaman holistik yang menggabungkan tubuh, pikiran, dan jiwa.
"Yoga ini kan bukan olahraga biasa seperti bulutangkis atau sepak bola. Dia kombinasi gerakan tubuh, pernapasan, dan meditasi,” tutur Dea yang mengaku hampir 20 tahun menekuni Yoga sejak duduk di bangku kuliah.
Lebih jauh, ia menjelaskan manfaat yoga yang dirasakan peserta.
Dari sisi fisik, tubuh menjadi lebih kuat, lentur, dan sehat. Dari sisi emosi dan energi, seseorang merasa lebih tenang, damai, bahkan bahagia.
Sementara pada aspek mental, pikiran terasa jernih dan fokus.
"Banyak orang berubah karakternya setelah rutin yoga. Jadi lebih sabar, tidak mudah meledak-ledak. Itu karena gelombang otak berubah, dari beta yang aktif ke alpha yang lebih fokus, bahkan theta yang meditatif,” jelasnya.
Menurut Dea, yoga juga menjadi proses healing karena mengaktifkan parasympathetic nervous system, sistem saraf yang berperan dalam istirahat, pencernaan, dan regenerasi tubuh.
Jenis yoga yang tersedia pun beragam, mulai dari yang lambat untuk meditasi, Vinyasa yang dinamis, Ashtanga yang disiplin, hingga Yoga Nidra yang berfokus pada relaksasi mendalam.
Meski cocok untuk semua orang, Dea menekankan pentingnya penyesuaian bagi mereka yang punya kondisi kesehatan khusus.
Baginya, yoga adalah kombinasi antara gaya hidup sehat dan peluang usaha berkelanjutan.
"Manfaat utama yoga saat ini bukan hanya kesehatan fisik dan mental, tapi juga bisa mendukung ekonomi kreatif. Lombok sangat potensial untuk itu," tandasnya. (chi/ton/r3)
Editor : Kimda Farida