LombokPost - USAHA barbershop saat ini mulai menjamur, mulai dari pedesaan hingga setiap sudut kota.
Meski banyak fasilitas yang tersedia, jualan utama barbershop tetap cukur rambut. Sehingga kemampuan seorang capster sangat penting.
Alik, salah seorang capster di Barber House di Jalan Pejanggik, Pancor, Kecamatan Selong mengaku telah belasan bahkan puluhan kali pindah-pindah bekerja. Dari barbershop satu ke barbershop lain di Pulau Lombok.
Pemuda asal Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Lombok Barat (Lobar) itu mengaku hanya Bima, Dompu dan Lombok Utara yang belum pernah didatangi saat menjadi capster.
“Selain itu sudah semua, kemarin terakhir di Sumbawa dan pindah ke sini (Lotim). Mungkin sekitar 18-20 Barbershop sudah tempat saya bekerja,” terang pemuda yang lebih akrab dan lebih senang dipanggil Alex itu kepada Lombok Post, Jumat (3/10).
Alek menceritakan, awal dirinya menjadi tukang cukur bermula dari tempat tongkrongan.
Di tempat itu, hanya satu orang yang bisa mencukur menggunakan gunting biasa, sementara orang yang dicukur cukup, banyak.
Sehingga ia memberanikan diri untuk membantu temannya mencukur.
Setelah diajarkan teknik mencukur, ia kemudian memberanikan diri untuk mencukur salah seorang temannya, dan hasilnya cukup bagus.
Sejak itu, ia mulai tertarik untuk menjadi capster, sehingga ia terus mempelajari ilmu mencukur secara otodidak melalui YouTube.
"Sejak itu saya belajar di YouTube, kemudian saya belajar di barbershop milik teman, untuk mencoba menggunakan mesin, karena saya tidak pernah pegang mesin. Setelah coba ternyata hasil cukuran saya cukup bagus," jelasnya.
Sejak itu, ia kerap diminta untuk membatu di barbershop milik temannya, bahkan ia menjadi capster panggilan, untuk mencukur santri di sejumlah pondok pesantren di Lombok Barat.
Karena merasa sudah bisa mencukur, ia kemudian melamar kerja di salah satu barbershop di Kota Mataram, dan langsung diterima.
Namun tidak berlangsung lama, hanya bertahan satu bulan.
"Saat itu saya belum memiliki sepeda motor, saya nebeng sama teman. Setelah teman saya berhenti saya juga ikut berhenti," Katanya.
Berangkat dari pengalaman itu, ia kemudian mencari tempat lain.
Dan hampir belasan hingga puluhan barbershop pernah diduduki sebagai karyawan.
Dan terakhir di Barber House pulau Sumbawa dan pindah di cabang Pancor milik seorang warna negara asing asal Yaman.
Kata dia, selama menjadi capster, banyak pengalaman telah dilalui, mulai dari mencukur bupati, ketua dewan dan pejabat penting lainnya.
"Awal-awal mencukur pejabat saya agak grogi, tapi lama-lama biasa. Namun yang paling sulit itu mencukur anak-anak. Selain banyak keinginan orang tua, anak-anak juga tidak bisa diam saat dicukur, itu yang menyulitkan proses cukurnya," bebernya.
Dalam sehari ia bisa mencukur 20-25 orang. Namun biasanya menjelang hari raya, terutama Idul Fitri.
Orang yang datang mencukur akan meningkat dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat.
Gaji yang didapatkan tergantung jumlah pengunjung yang dicukur.
Semakin banyak pelanggan maka semakin banyak juga gaji yang didapatkan.
Sehingga saat bulan puasa ia bisa mendapatkan gaji dua kali lipat.
"Kemarin di Sumbawa itu gaji saya sampai Rp 6 juta. Gaji kita itu tidak tetap, tergantung orang yang datang. Ongkos cukur bervariasi, mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 300 ribu. Tergantung paket yang diambil," jelasnya.
Ia menyebut, jika melihat dari sisi gaji, gaji yang didapatkan dinilai sudah sangat layak.
Namun baginya bekerja di barbershop bukan semata-mata untuk mencari uang.
Terpenting baginya ialah mencari ilmu dan pengalaman.
Dia berencana ke depan akan membuat barbershop sendiri.
Dengan tujuan agar bisa membuka lapang pekerjaan bagi pemuda-pemuda di desanya. (par/r3)
Editor : Kimda Farida