LombokPost - Arus digitalisasi keuangan di Indonesia terus melaju kencang, mengubah cara masyarakat bertransaksi dan UMKM berbisnis.
Sebagai salah satu pemain di industri teknologi finansial (tekfin), DANA Indonesia menyatakan optimisme besar terhadap pertumbuhan ini, sekaligus menyoroti pentingnya literasi dan keamanan digital.
Head of Communications DANA Indonesia, Sharon Issabella memaparkan bagaimana dompet digital telah bertransformasi menjadi tulang punggung inklusi ekonomi, menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya terpinggirkan.
Dana melihat digitalisasi keuangan, khususnya di tingkat daerah, sebagai kekuatan pendorong inklusivitas. Tujuannya jelas: menciptakan kesempatan yang setara bagi setiap daerah untuk berkembang.
"Inovasi QRIS dari Bank Indonesia, yang adopsinya didukung oleh industri perbankan dan tekfin seperti DANA, telah menjadi katalis penting dalam digitalisasi pembayaran," ujar Sharon.
Data menunjukkan dampak masif dari adopsi ini. Pada paro pertama tahun 2025 saja, QRIS telah membukukan 6,05 miliar transaksi dengan total nilai fantastis mencapai Rp 579 triliun. Yang menarik, perputaran transaksi ini tidak lagi terpusat di ibu kota atau Pulau Jawa.
Pemerataan Digital Daerah
Di NTB, pengguna QRIS telah mencapai lebih dari 499 ribu. Di Papua, jumlah pengguna QRIS melampaui 200 ribu.
Angka-angka ini, menurut Sharon, adalah bukti nyata dari tingginya kepercayaan dan kenyamanan masyarakat di berbagai daerah terhadap pembayaran digital.
Meski adopsi teknologi tinggi, DANA mengakui bahwa pekerjaan rumah terbesar ada pada sisi pengetahuan.
Dengan tingkat literasi keuangan Indonesia yang baru mencapai 66,46 persen, kolaborasi menjadi kunci.
"Ini menjadi ruang kolaborasi seluruh pelaku industri, termasuk DANA dan regulator, dalam memperkuat literasi keuangan," tegas Sharon
Kata dia, DANA terus giat memberikan edukasi melalui aplikasi dan kemitraan ekosistem digital.
Efisiensi, Ekspansi, dan Tantangan Keamanan
Bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pengusaha, adopsi cashless menawarkan loncatan besar. Metode pembayaran digital memastikan transaksi yang lebih cepat, efisien, dan aman. Lebih dari itu, sistem ini membuka pintu bagi perluasan jangkauan pelanggan dan peluang bisnis yang lebih besar.
Namun, digitalisasi membawa risiko yang tak terhindarkan: kejahatan siber yang semakin canggih.
Untuk mengoptimalkan manfaat pembayaran digital, seluruh pihak diimbau berkolaborasi dalam meningkatkan keamanan infrastruktur serta kewaspadaan UMKM dan pengusaha terhadap beragam modus penipuan.
Tingkat adopsi masyarakat Indonesia terhadap sistem pembayaran cashless dinilai sangat baik dan prospektif.
Data Bank Indonesia per Januari 2025 mencatat nilai pembayaran digital sudah mencapai 3,5 miliar transaksi atau tumbuh 35,3 persen (yoy).
Momentum positif ini dimanfaatkan DANA untuk terus mengembangkan kapabilitasnya.
Dompet digital kini tidak lagi sekadar alat bayar, tetapi telah diperkaya dengan layanan keuangan digital yang lebih dalam, seperti emas digital hingga mikro asuransi.
Semua kapabilitas ini dikemas dengan teknologi keamanan terdepan dan tampilan yang ramah pengguna, demi memastikan penggunaan yang inklusif dan menyeluruh.
"Industri tekfin seperti DANA bisa bersama-sama ikut memastikan tumbuhnya literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia," imbuh Sharon.
Masa Depan E-Wallet
Ke depan, peran e-wallet diproyeksikan akan semakin dominan, seiring dengan pertumbuhan konektivitas digital.
Data APJII 2024 menunjukkan pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221,56 juta, dengan penetrasi sebesar 79,5 persen.
Survei Jakpat pada semester kedua 2024 juga mencatat 93 persen responden telah memiliki e-wallet.
DANA melihat bahwa e-wallet tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembayaran, tetapi akan berkembang menjadi ekosistem digital yang lebih holistik.
Ini adalah ruang di mana pengguna dapat mengelola keuangan, berinvestasi, hingga meningkatkan literasi keuangan melalui fitur interaktif dan terintegrasi dalam keseharian. (nur/r3)
Editor : Kimda Farida