Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lapak Palugada Jadi "Raja" Transaksi QRIS saat Ajang MotoGP: Penjual dan Pembeli Sama-Sama Dimudahkan

Lombok Post Online • Sabtu, 1 November 2025 | 14:50 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost  – Di tengah pesatnya adopsi pembayaran digital, Hendra Wijaya, pemilik lapak Palugada yang menjual lontong kikil empuk tanpa tulang, kini menjadi percontohan pedagang asongan yang melek teknologi.

Tak hanya fokus pada kualitas dagangan, Hendra juga memprioritaskan kemudahan bertransaksi, sebuah strategi yang membawanya meraih penghargaan transaksi QRIS terbanyak saat ajang MotoGP Mandalika 2025.

Semangkuk lontong kikil panas mengepul disajikan di lapak sederhana bernama Palugada. Lontong kikil racikan Hendra Wijaya berbeda; kikilnya dijamin empuk, tanpa tulang, dan harganya hanya Rp 15.000.

Prinsip jualan inilah yang menjadi kunci sukses Hendra, yang muncul setelah mengevaluasi lontong kikil di tempat lain.

"Saya coba buat di sini yang tanpa tulang, dia kikilnya itu empuk banget, dan harganya murah, cuma 15 ribuan saja," ungkap Hendra, menceritakan awal mula usahanya sekitar dua bulan lalu.

Lokasi lapak di pinggir jalan utama yang strategis, dekat sekolah dan kantor Bank NTB Syariah, menjadi pilihan untuk menjangkau semua kalangan. “Sasaran saya bukan untuk orang kantor saja, untuk umum," ujarnya.

Nama lapak 'Palugada' sendiri menguatkan niat itu: "Apa lo mau gue ada". Lapak yang buka dari jam 7 pagi ini memang menjual beraneka ragam menu tradisional.

"Komplet di sini, sampai jamu pun ada," tambahnya.

Dalam sehari, Hendra bisa menghabiskan 7-8 kg kikil.

Semua Metode Pembayaran Diterima, Yang Penting Jangan Ngebon!

Di era digital ini, kunci kemudahan bertransaksi menjadi senjata ampuh Hendra dalam mengelola lapak Palugada yang ramai. Ia dengan sigap mengadopsi sistem pembayaran non-tunai menggunakan QRIS dari Bank NTB Syariah.

“Kalau dengan QRIS ini sebenarnya ini sangat bermanfaat ya, menguntungkan juga bagi kita dan bagi pelanggan,” tegasnya.

Masalah klasik pedagang asongan, yaitu kesulitan mencari uang kembalian pecahan kecil, kini teratasi.

“Nah, jadi kita sangat tertolong dengan QRIS. Berapapun pecahan dari nominal uang itu sendiri, dengan QRIS itu semua beres. Lancar,” ucapnya.

Hendra bahkan tak segan menerima segala jenis pembayaran.

“Menerima semua. Mau cash, mau transfer, mau QRIS, semua kita terima. Yang penting jangan ngebon," candanya.

Ia mengaku, sekitar 70 persen transaksi di lapaknya kini menggunakan QRIS, karena pelanggan merasa lebih aman dan praktis.

MELEK DIGITAL: Hendra Wijaya bersama istrinya saat menerima penghargaan sebagai lapak dengan transaksi QRIS terbanyak, beberapa waktu lalu. 
MELEK DIGITAL: Hendra Wijaya bersama istrinya saat menerima penghargaan sebagai lapak dengan transaksi QRIS terbanyak, beberapa waktu lalu. 

Prinsip Jujur di Ajang MotoGP

Cerita penggunaan QRIS Hendra mencapai puncaknya saat ia berjualan di ajang MotoGP. Hendra menerapkan prinsip harga yang jujur dan tidak memanfaatkan kesempatan, atau 'aji mumpung'.

“Waktu itu saya pukul rata Rp 15.000. Hanya bakso yang saya jual Rp 20.000-an. Jadi itu kita juga membantu bagaimana untuk mengubah image dari orang-orang dari luar. Lombok itu sudah tidak mahal kok. Bukan haji mumpung," jelasnya.

Dengan prinsip tersebut, ia berhasil meraih predikat sebagai pedagang dengan transaksi QRIS terbanyak selama acara berlangsung, sebuah capaian yang ia tidak sadari awalnya adalah bagian dari lomba. Ia hanya berfokus untuk mempermudah transaksi pelanggan.

"Saya tidak tahu sebenarnya seberapa banyak. Waktu itu saya juga membantu, orang yang dengan QRIS itu saya bantu. Untuk mempermudah saya dan mempermudah pelanggan. Jadi saya arahkan ke QRIS sih sebenarnya," akunya.

Atas pencapaian ini, Hendra mendapatkan apresiasi berupa hadiah handphone Infinix Note 50 Pro dari Bank Indonesia (BI).

Bagi Hendra, mengadopsi QRIS bukan hanya tentang keuntungan pribadi, tetapi juga langkah untuk memajukan UMKM.

“Sangat menguntungkan. Sebenarnya seluruh pedagang kalau memang pakai QRIS ini sangat bagus. Supaya lebih enak, lebih gampang," pungkasnya. (SANCHIA VANEKA, Mataram)

Editor : Kimda Farida
#Bank Indonesia #Bank NTB Syariah #Pembayaran #Lapak #QRIS