LombokPost – Di tengah hiruk pikuk tren gaya hidup dan investasi, I Made Adiyasa Kurniawan menemukan jawabannya di atas dua roda.
Bagi anggota Rinjani Cycling Club (RCC) ini, bersepeda bukan sekadar hobi atau alat transportasi, melainkan sebuah gaya hidup, jaringan sosial, dan investasi kesehatan yang tak ternilai.
Pria yang akrab disapa Dego ini telah menekuni gowes sejak 2007, sebuah perjalanan selama 18 tahun yang telah membawanya melintasi puluhan ribuan kilometer.
Dego menjelaskan perbedaan mendasar antara sepeda sebagai olahraga dan sepeda sebagai alat komuter. “Kalau kita ngomong sepeda, sepeda itu bisa dikatakan sebagai aktivitas olahraga rekreasi. Kita aktivitasnya pasti happy kalau naik sepeda,” jelasnya.
Ia memilih sepeda sebagai pilihan olahraga utama untuk menjaga kesehatan dan menghindari kebosanan. “Saya ngelihat sepeda ini bisa jadi lifestyle, bisa jadi sarana komunitas, dan kita bisa banyak jaringan di sepeda,” tegasnya.
Baginya, gowes adalah olahraga komunal yang melibatkan banyak orang, menumbuhkan persahabatan, dan membuka peluang kuliner serta eksplorasi spot pariwisata baru.
Di NTB sendiri, popularitas gowes, terutama road bike, melonjak tajam saat masa pandemi.
Ia melihat fenomena ini sebagai kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan.
“Masyarakat banyak tidak beraktivitas, akhirnya mereka menjaga kesehatan dengan salah satunya sepeda,” katanya.
Ia menyaksikan peminat road bike terus tumbuh di berbagai kalangan usia.
“Ke depan salah satu pilihan olahraga yang relatif tidak cepat bosan, sepeda. Karena enggak monoton kan, kita bisa selalu explore hal yang baru,” tambahnya.
Inilah yang melahirkan tagline populer: “Satu sepeda sejuta teman.”
Ia sendiri merupakan bagian integral dari sejarah gowes di NTB, pernah menjabat sebagai ketua Rinjani Cycling Club (RCC) periode 2021-2023.
RCC, yang berdiri sekitar tahun 1990an, merupakan klub sepeda tertua dan fokus pada intensitas olahraga.
“Atlet-atletnya NTB untuk road bike lahirnya dari RCC,” ungkapnya.
Komunitas ini punya jadwal latihan rutin yang ketat tiga kali seminggu, yakni Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Mereka memulai gowes pukul 16.30 WITA dan menempuh rata-rata 50 kilometer di setiap sesi. Menanggapi anggapan bahwa gowes adalah olahraga mahal, Dego tersenyum.
Ia mengakui, sepeda memang memiliki rentang harga yang lebar, mulai dari level entry sekitar Rp 5 juta hingga kategori high end yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
“Ono rego ono rupo,” katanya, mengutip peribahasa Jawa, yang berarti ada harga ada kualitas.
Bahkan bisa dikatakan empat unit sepeda yang dimilikinya saat ini bisa termasuk Limited Edition yang harga jualnya bisa lebih tinggi dari harga belinya.
Beberapa unit itu ada hanya seratus sepeda di dunia dan di Indonesia hanya dia yang memiliki. Sedangkan unit lainnya merupakan unit yang langka dan akan sulit ditemukan yang lainnya.
”Kalau sepeda Limited Edition bisa jadi investasi karena harga jual kembalinya bisa sampai tak terharga karena langkanya unit tersebut,” imbuhnya.
Sepeda mahal mencerminkan teknologi terkini, seperti bahan titanium, keramik, yang membuat sepeda lebih ringan dan aerodinamis.
Namun, ia menekankan, kemampuan bersepeda ditentukan oleh kerajinan berlatih, bukan semata harga sepeda. Perjalanan gowes Dego tidak hanya di Lombok.
Ia pernah bersepeda dari Bima ke Lombok saat HUT NTB. Ia bahkan rela terbang ke Sumatera dan Makassar demi mengikuti event-event sepeda bergengsi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bersepeda adalah soal pride dan pencapaian.
Made mencontohkan pengalamannya ikut event seperti Tour de Borobudur atau GFNY ke Kintamani.
“Cuma buat fotoan. Ada kepuasan sendiri,” katanya.
Di platform Strava, bukti gowes ribuan kilometer menjadi “medali” kebanggaan.
Ia sendiri memperkirakan menempuh rata-rata 12 ribu hingga 15 ribu kilometer setahun.
Apa yang ia dapat dari ribuan kilometer itu?
“Badan saya fit, saya badan rasanya sehat, tidur kita teratur,” tegasnya.
Bersepeda telah menjadi motivasi kuat untuk hidup sehat, bahkan membantunya berhenti merokok sejak 2007.
“Karena takut tidak bisa mengimbangi komunitas kita,” akunya jujur.
Pola hidupnya pun berubah: ia berusaha tidur pukul setengah sembilan malam agar bisa bangun jam empat pagi untuk gowes.
Di akhir perbincangan, Dego menyampaikan harapannya bagi generasi muda: “Hiduplah sehat, investasilah di kesehatan karena yakinlah berobat jauh lebih mahal daripada kita menjaga hidup sehat,” pesannya.
Baginya, gowes adalah pilihan olahraga seru yang tidak akan pernah membosankan karena selalu ada hal baru di situ.
Editor : Kimda Farida