LombokPost - Udara pagi di Mataram masih lembap ketika deru roda sepeda mulai terdengar di Jalan Udayana. Warna-warni jersey menari di bawah sinar matahari yang baru naik. Tawa, teriakan penyemangat, dan dering bel sepeda berbaur di udara.
Bagi warga Lombok, terutama kalangan urban, gowes bukan cuma olahraga. Ia sudah jadi gaya hidup cara baru menikmati hari, menjaga sehat, dan tetap tampil gaya.
Bukan cuma urusan pedal dan roda, gowes kini jadi gaya hidup baru warga Lombok. Dari jalan Udayana, Senggigi hingga sejumlah ruas di Pulau Lombok, semangat sehat dan gaya berpadu di setiap kayuhan.
Bukan Sekadar Olahraga
Salah satu penggemar gowes adalah akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram) Dr. Muhammad Mujahid Dakwah. Bagi dia, gowes kini bukan sekadar olahraga, tetapi bagian dari identitas sosial masyarakat urban. “Gowes menggambarkan semangat hidup sehat, nilai kebersamaan, dan gaya hidup berkelas,” ujarnya.
Menurut Mujahid, tren gowes menggabungkan tiga elemen utama yakni, kesehatan, jejaring sosial, dan prestise. Banyak pesepeda yang memanfaatkan media sosial untuk berbagi rute perjalanan, pemandangan indah, hingga koleksi sepeda high-end yang menjadi bagian dari gaya hidup digital masa kini.
Dalam komunitas gowes, ada tiga tipe utama pesepeda. Pertama, BMX Riders yang menonjolkan aksi dan kebebasan berekspresi.
Road Bikers, yang mengutamakan kecepatan dan endurance di jalan raya.
Mountain Bikers, yang menyukai tantangan di medan berat seperti Pusuk dan Sembalun.
Mujahid sendiri dikenal sebagai penggemar sepeda gunung dan kerap menjelajah rute alam Pusuk hingga Lembar.
“Mountain bike bagi saya bukan hanya olahraga, tapi juga meditasi di tengah alam,” tuturnya.
Kendati tren gowes kian ramai, infrastruktur masih terbatas. Misalnya di Kota Mataram, jalur sepeda baru tersedia di Jalan Udayana dan kawasan Ampenan Heritage.
Meski begitu, pemerintah mulai berbenah lewat kegiatan rutin Car Free Day (CFD) yang selalu dipadati ribuan pesepeda.
Selain itu, konsep green mobility Mataram 2026 menjadi peluang besar untuk mengintegrasikan inovasi kampus seperti ReFlow dengan pembangunan kota.
“Kalau ini bisa diwujudkan, Lombok berpotensi jadi kota ramah pesepeda di Indonesia Timur,” kata Mujahid.
Bersepeda bukan hanya tentang kebugaran. Bersepeda juga menyimpan pesan ekologis yakni, mengurangi polusi, menghemat energi, dan menjaga bumi tetap hijau.
Kesadaran ini membuat gowes kian relevan dengan tren global menuju gaya hidup berkelanjutan.
“Setiap kayuhan adalah langkah kecil untuk bumi yang lebih sehat,” ucapnya.
Fenomena gowes mencerminkan perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat urban.
Dari sekadar olahraga kini menjadi bagian dari identitas sosial, sarana rekreasi, dan simbol kesadaran lingkungan.
Antara Gaya Hidup Sehat dan Transformasi Sosial Pariwisata
Fenomena gowes di Lombok telah berkembang menjadi gaya hidup sehat dan simbol transformasi sosial pariwisata.
Hal itu diungkapkan oleh Sosiolog Universitas Mataram Dr. Dwi Setiawan Chaniago, MA, yang menilai tren gowes di NTB, khususnya di Pulau Lombok terus meningkat meski di tingkat nasional cenderung menurun.
Menurut Dwi, fenomena gowes di Lombok menjadi bukti keberhasilan pembangunan kawasan pariwisata yang ditopang oleh infrastruktur modern. Jalan yang mulus, taman kota, dan pusat rekreasi yang semakin ramah pesepeda menciptakan ruang sosial baru bagi masyarakat urban.
“Tren gowes di Lombok berkembang karena didukung infrastruktur dan destinasi wisata yang semakin menarik. Aktivitas bersepeda kini menjadi gaya hidup rekreatif dan sehat,” ujarnya.
Ia menilai, perkembangan tren gowes di Lombok tidak bisa dipisahkan dari beroperasinya sejumlah kawasan wisata unggulan seperti Kawasan Mandalika, KSPN Rinjani, Senggigi, dan Gili Tramena.
Semua kawasan ini tidak hanya memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga melahirkan ruang sosial baru bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan alam melalui aktivitas gowes dan sport tourism.
“Pulau Lombok telah bertransformasi menjadi kawasan sport-tourism, yang menggabungkan olahraga, rekreasi, dan gaya hidup,” jelasnya.
Penciptaan Ruang Sosial Baru
Secara sosiologis, Dwi menjelaskan bahwa fenomena gowes di Lombok adalah bentuk dari reproduction of space, penciptaan ruang sosial baru dimana masyarakat bisa berinteraksi melalui aktivitas olahraga, ekonomi, dan rekreasi.
Beroperasinya destinasi pariwisata yang dilengkapi jalan berkualitas dan amenitas kota modern membuat aktivitas bersepeda menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat perkotaan Lombok.
“Aktivitas gowes kini menjadi praktik sosial baru yang merepresentasikan keseimbangan antara gaya hidup sehat, kemajuan teknologi, dan apresiasi terhadap alam,” ujarnya.
Tantangan ke Depan
Meski begitu, Dwi menilai tantangan ke depan adalah menciptakan konektivitas ruang yang lebih bike-friendly. Pemerintah daerah diminta melanjutkan pembangunan jalur sepeda representatif dan menggelar event gowes rutin yang mengangkat tema green mobility.
“Kampanye gowes sebagai bagian dari mobilitas hijau perlu terus digencarkan. Komunitas gowes di Lombok tidak hanya menjadi simbol gaya hidup, tapi juga bagian dari daya dukung pengembangan pariwisata daerah,” tegasnya.
Dengan dukungan infrastruktur, kebijakan ramah pesepeda, dan kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat, fenomena gowes di Lombok diyakini akan terus tumbuh sebagai kekuatan baru dalam membangun citra daerah sebagai surga bagi para goweser dan sport-tourism Indonesia.
Dukungan Pemerintah.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram tengah gencar mengusulkan penambahan jalur di ruas jalan strategis lainnya. Kepala Bidang Pengendalian dan Operasi (Dalops) Dishub Kota Mataram Arif Rahman menjelaskan, Jalan Udayana telah ditetapkan sebagai jalur sepeda secara penuh, mencakup sisi kiri dan kanan jalan.
“Jalur sepeda yang sudah kita uji coba di Kota Mataram adalah sepanjang Jalan Udayana kiri-kanan,” kata Arif, Kamis (7/11).
Penetapan jalur sepeda ini menjadi alasan kuat bagi Dishub Mataram untuk melarang aktivitas parkir kendaraan di sepanjang Jalan Udayana.
Selain sebagai jalur khusus sepeda, status jalan tersebut juga merupakan jalan provinsi, di mana kendaraan tidak diperbolehkan parkir sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).
Sebelumnya, beberapa ruas jalan nasional seperti Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Ahmad Yani memang sudah memiliki garis marka yang diperuntukkan bagi sepeda, namun belum sepenuhnya difungsikan sebagai jalur sepeda resmi, berbeda dengan Jalan Udayana.
Melihat tingginya animo masyarakat Mataram terhadap gowes, Dishub Mataram berkeinginan kuat untuk menambah infrastruktur jalur sepeda.
Namun, kendala utama adalah sebagian besar jalan di Mataram berstatus jalan provinsi dan jalan nasional.
Untuk itu, Dishub Mataram telah mengajukan usulan penambahan jalur sepeda ke Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II NTB. Lokasi yang diusulkan antara lain adalah Jalan Pejanggik, Jalan Majapahit, Jalan Lingkar Utara, dan Lingkar Selatan.
Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pantauan Dishub bahwa jalur-jalur tersebut merupakan rute favorit bagi pesepeda.
Sayangnya, usulan penambahan jalur sepeda yang diajukan sejak 2024 tersebut belum mendapatkan kepastian.
Hal ini disebabkan adanya kebijakan refocusing dan efisiensi anggaran di tingkat kementerian, yang turut berdampak pada rencana pembangunan infrastruktur di daerah.
"Kami tetap berusaha, Dishub Kota Mataram tetap berusaha bagaimana caranya supaya ada penambahan jalur sepeda," tandasnya. (rur/jay/chi/r3)
Editor : Kimda Farida