Cairan kimia mendidih, mendesis-desis. Merobek keheningan di lorong gelap pasar Cakra. Tukang sepuh emas yang terkantuk-kantuk, menyeruput kopi melawan malas yang mengganggu fokus pekerjannya.
---------
“CKRAK WUZZ!”. Alat patri Yusran menyala. Dari ujungnya tersembur api berderajat tinggi dengan warna biru terang.
Kaki Yusran naik turun. Memompa angin. Sesaat kemudian tangannya menari memainkan alat patri di atas cin-cin perak tadi. Meluruhkan karat dan kontoran membandel.
“Biar kotorannya cepat rontok,” katanya, Senin (4/9).
Sejurus kemudian, tugasnya selesai. Tiga cin-cin itu kemudian diserahkan pada rekannya yang telah menunggu di samping. Rekan Yusron, Pathan menerima tugas selanjutnya.
Pria berkaca mata itu, membawa cin-cin perak yang masih panas ke bejana berisi air dan potasium. Lalu bergiliran mencelupkannya dengan teratur.
“Tidak ada air raksa. Cuma air dan potasium,” kata Yusron menjawab pertanyaan isi bejana-bejana itu.
Pathan, rekan kerja Yusron masih membisu. Ia fokus mencelup-celupkan cin-cin. Sesaat kemudian, tangannya menyambar sikat. Lalu dengan cekatan membersihkan sisa-sisa karat dan noda yang menempel.
“Tuh, kan sudah cemerlang sekarang,” timpal Pathan memperlihatkan hasil kerjanya dengan bangga. Kepalannya manggut-manggut. Puas.
Sesepi-sepinya orderan patri dan sepuh emas, Yusron dan Pathan tidak pernah sampai berpangku tangan. Ada saja permintaan yang datang sekedar mencuci cin-cin atau perhiasan lainnya.
“Ya, alhamdulillah ada saja setiap hari,” kata Yusron lagi.
Lebih-lebih Yusron punya mitra kerja. Biasanya datang siang hari membawa sekantung cin-cin perak dan emas yang perlu diperbaiki. Orang itu disebutnya ‘Bos’.
“Ada bos, siang biasanya datang,” tuturnya.
Tidak setiap hari bos itu datang. Namun, Yusron dan Pathan bisa tetap mengerjakan permintaan patri dan sepuh emas dari orang yang datang langsung ke lapaknya.
Pengunjung lapaknya tidak hanya dari kampung. Tetapi dari desa hingga warga perkotaan. Keperluannya beragam. Mulai sekadar cuci perhiasan, sepuh, hingga reparasi.
Jasa sepuh atau menuakan warna biasanya untuk perhiasan dengan kadar emas 22 karat ke bawah. “Nah sudah lebih kuning cemerlang kan?” kata Yusron memperlihatkan cin-cin yang baru saja selesai dilarutkan di cairan potasium mendidih.
Tadinya emas yang dipamerkan Yusron kusam dan pucat. Kini berubah lebih kuning dan mengkilat. Serupa emas 24 karat.
“Ini cuma (emas) 17 karat,” celetuknya.
Permintaan sepuh emas ada musimnya sendiri. Biasanya mendekati momen hari besar semisal lebaran. Di saat itu, Yusron dan Pathan bisa kebanjiran order sepuh emas. Belum lagi dari orang yang disebutnya sebagai bos tadi.
Pendapatan pun berlipat-lipat. Tembus jutaan rupiah. Walau enggan menyebut kisaran, namun keduanya tak menampik rezeki berlimpah datang menjelang hari-hari berkah.
“(bisa sampai jutaan rupiah?), alhamdulilah,” ujarnya.
Yusron menggeluti pekerjaan itu sudah sangat lama. 30 tahun lamanya. Keahlian patri dan sepuh emas didapat secara otodidak.
“Kalau saya diajak (Yusron), baru tahun-tahun kemarin ikut,” timpal Pathan.
Hasil dari usaha itu, Yusron dan Pathan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Begitu juga biaya sekolah anak-anak mereka.
“Pokoknya, alhamdulilah,” sahutnya lagi.
Layanan cuci kuning dan cuci putih standarnya Rp 20 ribu. Cat ulang Rp 25 ribu. Patri kuning Rp 30 ribu. Patri berlian Rp 100 ribu.
“Biaya sepuh tergantung gramnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Rury Anjas Andita