LombokPost--Salah satu terobosan yang layak diacungi jempol pada pelayanan kesehatan yakni aplikasi Pendekar Serasi. Pendekar Serasi adalah akronim dari Penanganan Dini Emergency, Kuratif, Rehabilitasi, Stroke Terintegrasi.
Aplikasi ini bukan softwere biasa. Banyak pasien yang mengidap gejala stroke terselamatkan dengan aplikasi karya RSUD Kota Mataram. Saat ini, aplikasi ini menjadi salah satu andalan pemerintah kota meraih penghargaan Innovative Government Award (IGA).
“Aplikasi ini adalah tentang kecepatan respons melakukan report terhadap seseorang yang terindikasi memiliki gejala penyakit stroke dengan menekan emergency buttom (pada aplikasi),” kata Direktur RSUD Kota Mataram dr Hj Eka Nurhayati pada Lombok Post, Kamis (9/11).
Ulasan tentang aplikasi ini sudah cukup banyak. Tetapi persepsi yang muncul cenderung menyamakan dengan kebanyakan aplikasi lain.
“Pertanyaan yang sama kami terima juga dari tim penilai kemendagri yang menyebut ‘aplikasi stroke kan sudah banyak’,” tuturnya.
Eka mengatakan, aplikasi ini bukan sekadar aplikasi stroke. Tetapi kedaruratan penanganan pada seseorang yang memiliki gejala sakit stoke.
“Setelah tim penilai turun dan mengetahui cara kerjanya, mereka melihat ini inovasi yang sangat diperlukan saat ini,” tekannya.
Bahkan ia mendengar jika pihak kemendagri akan merekomendasikan RSUD Kota Mataram sebagai tempat sharing penanganan stroke dengan cepat dan tepat bagi Rumah Sakit lain. “Mereka melihat bagaimana cara kerjanya. Jadi ini bukan tentang aplikasi saja, tetapi yang lebih khusus kesiapan sistem mulai kader hingga pelayanan di RSUD memberi pelayanan yang cepat,” terangnya.
Eka menjelaskan, sebelum aplikasi ini bisa digunakan, kader yang melakukan pendampingan keluarga mesti mengetahui gejala dini stroke. “Begitu mereka tahu ada gejala yang muncul di tengah masyarakat, maka mereka bisa langsung menekan emergency buttom,” jelasnya.
Keberadaan kader PKK membantu masyarakat yang tidak melek teknologi. “Jadi walau warga tidak melek teknologi ada kader tempat bertanya untuk mendapatkan pelayanan dengan cepat,” jelasnya.
Kenapa harus cepat?
Eka mengatakan ini memang ada kaitannya dengan golden time penanganan stroke yang hanya berlangsung 4,5 jam. “Kalau bisa segera tertangani sebelum 4,5 jam insya Allah bisa sembuh,” jelasnya.
Ia menjelaskan 4,5 jam itu durasi sejak pasien merasakan gejala stoke hingga penanganan intensif di rumah sakit. Menyempurnakan langkah penanganan cepat itu, maka sejak tombol emergency buttom di tekan, pihak RSUD Kota Mataram langsung mengaktifkan code stroke.
Code stroke itu meliputi penggerakan sistem pelayanan pasien stroke meliputi IGD, radiologi, CT Scan, hingga laboratorium. “Jadi semua bergerak mempersiapkan pelayanan pada pasien yang dalam perjalanan ke RSUD,” jelasnya.
Penyiapan fasilitas bertujuan agar pasien dapat dilayani di rentang waktu golden time. “Pasien tidak harus menunggu dan buang-buang waktu. Begitu masuk rumah sakit langsung ditangani dengan cepat,” terangnya.
Inilah mengapa aplikasi Pendekar Serasi yang dibanggakan RSUD tidak bisa dipandang biasa. Software -nya merupakan piranti untuk mulai kerja terorganisir pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.
“Begitu ada gejala langsung dijemput sedangkan di rumah sakit menyiapkan segala sesuatunya untuk penanganan khusus,” paparnya.
Sejak keberadaan aplikasi ini, RSUD Kota Mataram telah membantu 266 pasien kasus gejala stroke. “Dari yang awalnya hanya sekitar 6 orang,” paparnya.
Meluaskan jangkauan pelayanan, RSUD Kota Mataram telah memberikan pelatihan pada dokter dan perawat se pulau Lombok. “Sudah kita ajari bagaimana cara deteksi dini, dan alhamdulillah ada orang yang tidak bisa gerakkan tangan setelah kita terapi bisa digerakkan lagi,” katanya memberi contoh.
Sebelumnya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Mataram Dr Mansur menyampaikan Pendekar Serasi salah satu unggulan inovasi merebut IGA. “Infonya kami masuk 5 besar, tapi belum tahu apakah yang nomor 1, 2, 3, 4, atau 5. Tapi yang jelas pak wali akan terima IGA lagi,” katanya. (zad)
Editor : Hidayatul Wathoni