LombokPost-Basarnas mengerahkan alat pendeteksi mayat mencari Bilal Al Farabi. Alat canggih itu diharapkan dapat memberi petunjuk jejak keberadaan bocah 3 tahun yang dikabarkan hanyut.
Camat Ampenan Muzakir Walad yang dihubungi Lombok Post menuturkan alat canggih itu berulang kali mendeteksi mayat di dalam sungai Jangkuk. “Beberapa kali berbunyi mendeteksi ada mayat, tapi belum berhasil menemukan adik Bilal,” katanya, Kamis (7/12).
Alat itu berbunyi karena mendeteksi bangkai reptil seperti biawak. “Ada juga setelah tim turun menyelam yang ditemui ternyata bangkai ayam,” terangnya.
Tim rescue telah tiga kali bolak-balik menyusuri titik di mana Bilal dikabarkan terjatuh. “Hingga yang terjauh kami menyusuri sejauh 3 mil atau 7 kilometer ke laut Ampenan, itu hampir sampai selat Lombok kami mencari,” terangnya.
Namun hingga hari ke 6 pencarian, belum ada tanda-tanda jejak Bilal. Setelah berbagai upaya penyisiran, penyelaman, hingga mengerahkan detektor mayat.
Sisi lain dari pencarian itu, Bilal juga berupaya dilacak dengan bantuan orang yang dipercaya memiliki kemampuan unik. “Ya memang ada upaya seperti itu dengan meminta bantuan orang Indigo,” terangnya.
Penerawangan orang yang dimaksud, mengarahkan tim melempar mainan yang disebut memiliki kedekatan dengan Bilal. “Orang itu bilang melalui mimpinya melihat, Bilal sedang membawa bola mainannya,” terangnya.
Setelah ditanyakan pada orang tua Bilal, bola dimaksud memang benar ada. “Sejenis bola bekel yang sering dimainkan Bilal,” tuturnya.
Bola itu kemudian dilempar ke sungai Jangkuk. Tetapi begitu tenggelam dan dilakukan pencarian di sana, hasilnya masih nihil. “Nihil juga,” ujarnya.
Hari ini rencananya tim rescue dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan masyarakat akan melakukan pencarian lagi. Posko yang semula di pesisir pantai Ampenan akan dipindah ke taman Bako.
“Hal ini kami lakukan berdasarkan analisa dan dugaan kami, adik Bilal masih di seputar sungai Jangkuk,” ujarnya.
Muzakir Walad memperkirakan tubuh Bilal terbenam dalam lumpur yang menumpuk di pertemuan antara arus sungai Jangkuk dengan arus saluran drainase. “Di sana memang ada tumpukan lumpur yang tebal. Pertemuan antara arus Jangkuk dengan arus saluran membuat air berputar di sana,” ujarnya.
Tim menduga, tubuh Bilal terbenam semakin dalam akibat pusaran air yang kencang. “Masalahnya detektor mayat tidak bisa mendeteksi keberadaan mayat bila terbenam di dalam lumpur,” ujarnya.
Para penyelam telah diminta mengaduk-aduk lumpur dengan harapan kalau ada tubuh atau mayat di sana akan terangkat. “Upaya mengaduk-aduk lumpur masih terkendala arus yang deras,” ujarnya.
Muzakir Walad meminta doa pada masyarakat agar ikhtiar tim rescue bisa membuahkan hasil. “Semoga adik Bilal bisa segera ditemukan, mohon doanya,” ungkapnya.
Sementara itu, Humas SAR Kota Mataram Lanang Wisnuwardhana mengatakan pencarian hingga hari ke 6 masih belum menunjukkan hasil. “Masih nihil,” katanya.
Pihaknya belum bisa memberikan keterangan lebih jauh karena pencarian masih sedang dilakukan. “Masih terus kita upayakan penyisiran,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten 1 Setda Kota Mataram Lalu Martawang mengatakan Bilal masih berstatus hilang. “Masih dinyatakan hilang, kita belum bisa memberi kesimpulan apapun sebelum ada kejelasan hasil,” katanya. (zad)
Editor : Kimda Farida