Hal itu ditunjukkan dengan keberhasilan ibu kota provinsi NTB ini menurunkan angka kasus stunting dari angka 8,98 persen ke angka 8,61 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr Emirald Isfihan mengatakan, keberhasilan menurunkan angka stunting ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak.
“Menurut saya ini adalah hasil kerja sama semua pihak di Kota Mataram yang didasari kuatnya komitmen bapak wali kota dan bapak wakil wali kota. Termasuk peran penting PKK dan semua organisasi terkait. Jadi kerja kolaborasi ini menghasilkan hal yang signifikan penurunannya,” katanya.
Selanjutnya dokter Emir mengatakan, dinas kesehatan sebagai pemegang peran intervensi spesifik, telah merapatkan barisan untuk terus menggerus kasus stunting.
“Kami merapatkan barisan seluruh petugas yang ada di lapangan dan komando terarah dari dikes,” ucapnya.
Secara spesifik, dokter Emir menjelaskan ada peran Perhimpunan Ahli Gizi (Persagi) juga berkontribusi menekan stunting.
“Kami duduk bersama dengan seluruh petugas gizi puskesmas se Kota Mataram untuk melihat data. Dari data yang valid ini kita turun melakukan intervensi salah satunya melalui Jas Kuning, jadi kita bisa tahu secara riil kondisi balita yang stunting,” paparnya.
Pihaknya berjibaku menangani kasus stunting yang tidak dengan penyakit.
“Kita fokuskan di pemberian makanan,” ujarnya.
Sementara yang stunting dengan penyakit mendapat pengobatan.
“Kita dampingi untuk mendapat pengobatan sambil diberi makanan tambahan khusus,” paparnya.
Selain itu penguatan peran kader dan posyandu juga telah terbukti berkontribusi menekan stunting.
“Berikutnya peran bapak-bapak camat dan lurah kita yang terus mengawal kasus di wilayah masing-masing,” paparnya.
Koordinasi lintas sektor ini telah meningkatkan akselerasi pengawasan dan penindakan. Pihaknya dapat dengan segera mengambil langkah kebijakan saat ditemukan kasus stunting di tengah masyarakat.
Sebagai gambaran, sebelumnya kasus stunting di angka 8,98 persen atau setara 2.190 balita. Turun menjadi 8,61 persen atau setara 2.000 balita.
“Data ini berdasarkan penimbangan balita pada bulan Januari 2024,” terangnya.
Angka ini mencerminkan progres positif penurunan stunting terjadi setiap bulan. Hal ini seiring dengan semangat berkesadaran masyarakat mendatangi posyandu.
Dokter Emir berharap, angka stunting terus dapat ditekan hingga kasusnya bisa menjadi nol. Oleh karenanya, koordinasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat peran kader dalam memberikan edukasi melalui kegiatan posyandu keluarga (posga).
“Kami juga tidak hanya menunggu warga datang ke posga atau posyandu, tetapi kita juga melakukan layanan dari pintu ke pintu dan pendampingan,” paparnya.
Seperti disampaikan di awal, pelibatan tim ahli gizi bekerja dalam layanan dari pintu ke pintu. Mereka memantau kualitas makanan sekaligus memberikan pendampingan balita yang mengalami stunting.
Saat ini dinas kesehatan fokus melakukan penanganan terhadap balita usia 0-24 bulan. Sedangkan di atas itu sampai usia lima tahun diintervensi melalui program berbeda termasuk kasus stunting dengan penyakit bawaan.
Pada kasus stunting untuk penyakit bawaan, penanganan dan pendampingan membutuhkan waktu yang relatif panjang.
“Kami harus selesaikan dulu penyakitnya, barulah kita bisa intervensi tumbuh kembang sehingga bisa terlihat progres pertumbuhannya,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Marthadi