LombokPost-Aksi balap lari, balap sarung, panco, hingga perang sarung antar remaja memicu resah warga. Kelompok remaja dalam geng-geng kecil itu memakai jalan raya dan jalan lingkungan untuk aksi mereka.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Mataram Zarkasyi mengatakan, keributan muncul ketika mereka memasang taruhan untuk setiap lomba yang dimainkan. “Ramadan kali ini sedikit menarik, kalau di Ramadan sebelumnya kami disibukkan oleh aksi perang petasan dan mercon, sekarang kami turun menertibkan anak-anak yang lomba lari, lomba balap sarung, panco, hingga perang sarung yang diisi batu,” katanya, Rabu (20/3).
Rata-rata pada remaja ini memulai aksinya selepas berbuka puasa. Mereka berbondong-bodong ke luar dan memenuhi ruas-ruas jalan dengan membawa kelompoknya.
“Hampir semua ruas jalan dipakai dan sangat mengganggu warga (karena blokade jalan),” tuturnya.
Dalam beberapa hari bulan Ramadan, petugas gabungan harus kucing-kucingan memburu dan membubarkan mereka. Zarkasyi mengatakan pembubaran dilakukan karena aksi mereka telah mengarah perjudian.
“Makanya kami di sesama petugas ada seloroh ‘lama-lama Ramadan seperti Olimpiade, semua cabang olah raga ada di dalamnya’,” celetuknya.
Pihaknya tak mempersoalkan lomba-lomba yang dimainkan para remaja. Selama kegiatan mereka terorganisir dengan baik, tidak mengganggu fasilitas publik, dan tidak ada taruhan.
“Faktanya efek dari aksi mereka telah menimbulkan keresahan, karena selalu ada keributan,” tuturnya.
Setiap malam ia bersama camat, lurah, kepolisian, dan satpol pp turun membubarkan aksi remaja tersebut. “Kalau sudah ada yang taruhan pasti ada keributan dari pihak yang kalah, kami tidak ingin keributan itu semakin meluas menjadi keributan antar kampung,” tekannya.
Informasi yang dihimpun di lapangan, remaja yang ikut taruhan balap lari dan panco tidak hanya dari warga sekitar lingkungan. “Ada juga yang datang dari Lombok Utara, Lombok Barat, bahkan Lombok Tengah. Tahun lalu kami pernah dapati yang lomba lari ada yang dari Lombok Timur,” tuturnya.
Zarkasyi mengungkapkan, macam-macam aksi mereka yang mengganggu warga. Selain yang disebutkan di atas, ada juga yang bermain bola dengan menutup jalan.
“Dulu juga pernah kami temukan ada balap kuda dan cidomo. Tapi Ramadan kali ini belum ada laporan, semoga tidak ada,” harapnya.
Ruas jalan yang sering digunakan antara lain jalan Adi Sucipto, Udayana, Baru, Nangka, Lingkar Selatan, dan ruas-ruas jalan lingkungan. “Kami mengimbau jangan sampai citra Ramadan sebagai bulan suci dan tempat beribadah yang khusuk ternoda oleh kegiatan-kegiatan negatif,” harapnya.
Sejumlah langkah dilakukan untuk menekan jumlah remaja ikut dalam aksi tersebut. Mulai dari pengawasan langsung oleh tim, pelibatan pihak lingkungan, hingga keluarga atau orang tua.
“Juga kami berharap nantinya sekolah dapat mengedukasi anak didiknya supaya tidak melibatkan diri dalam aksi tersebut. Harapannya kalau semua bergerak, kita dapat meminimalisir bahkan meniadakannya,” harapnya.
Sementara itu, Zarkasyi mengklaim perang petasan dan mercon sudah berhasil dikurangi. Bahkan belum ada laporan meresahkan yang masuk sejauh ini.
“Trennya berubah ke balap lari, seperti di samping SMA 5 itu pernah ada yang tawuran karena kalah, mereka juga berkonflik dengan warga yang menegur,” jelasnya.
Kasatpol PP Kota Mataram Irwan Rahadi mengatakan pihaknya dipastikan akan terus turun dalam Ramadan. Memberikan imbauan pada warga agar bersama-sama membangun suasana yang aman dan kondusif selama bulan Ramadan.
“Kita juga patroli keamanan bersama aparat kepolisian setelah sebelumnya memetakan lokasi-lokasi rawan terjadinya gesekan,” katanya.
Selain itu koordinasi dibangun dengan aparat kecamatan dan kelurahan hingga lingkungan. Memudahkan koordinasi titik-titik yang perlu ditangani dengan segera.
“Kita terus berkoordinasi mencegah hal yang tidak kita inginkan terjadi selama bulan suci Ramadan,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Akbar Sirinawa