Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Hayatun Nufus, Balitanya Disebut Alami Stunting

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 7 Mei 2024 | 10:00 WIB
LEKAS SEMBUH: Muhammad Alfan Ilmi tengah diperiksa dokter dari Puskesmas Karang Pule, Kota Mataram.
LEKAS SEMBUH: Muhammad Alfan Ilmi tengah diperiksa dokter dari Puskesmas Karang Pule, Kota Mataram.

Setiap ibu menginginkan anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan membanggakan hatinya. Tak terkecuali Hayatun Nufus yang telah mencurahkan seluruh kasih sayang untuk buah hatinya.

 

---

 

HAYATUN Nufus menggendong balitanya dengan erat. Di bawah matahari pagi yang masih hangat, ia mengajak Muhammad Alfan Ilmi memperkaya tubuhnya dengan asupan vitamin D.

Rona segar terpancar dari balita dua tahun yang digendongnya. “Dulu, nggak pernah mau minum susu,” tutur Nufus pada Lombok Post.

Sang anak selalu rewel. Menolak minum susu. Sejak itu, ia pun tak pernah lagi memaksanya meminum susu.

Termasuk dari susu formula yang mendukung perkembangan balita di usia yang masih muda. “Suatu hari saya bawa ke posyandu, timbang berat badan dan tinggi badannya, anak saya katanya punya gejala stunting,” tuturnya.

Sesampai di rumah Nufus mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang apa itu stunting. Ia terkejut setelah tahu, stunting dapat membuat anaknya tidak bisa tumbuh optimal.

“Ya kaget, cemas. Semua orang tua pasti ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan berprestasi,” ucapnya.

Ia mulanya ragu dengan vonis itu. “Sebab saya lihat tubuhnya normal dan aktif seperti anak-anak seusianya,” ucapnya.

Namun di sisi lain, hatinya waswas dengan informasi kesehatan anaknya. Nufus tidak mau hanya karena ragu pada penjelasan ahli, akhirnya menyesal di kemudian hari.

“Sejak saat itu saya rutin kontrol ke puskemas,” tuturnya.

Salah atau anjuran paling sulit menyembuhkan gejala stunting itu adalah membiaskan balitanya mengkonsumsi makanan berprotein tinggi. Salah satunya dari minuman susu yang mendukung peningkatan kerja otaknya.

“Berbagai trik saya coba untuk membuatnya senang meminum susu, awalnya sulit karena dia tidak biasa,” terangnya.

Tapi ketekukan Nufus meyakinkan balitanya bahwa susu itu enak dan sangat baik bagi tubuhnya berubah manis. Saat ini, Afan Ilmi secara rutin mau minum susu di samping ASI yang diberikannya setiap hari.

“Alhamdulillah, sekarang sudah mau minum susu,” ucapnya senang.

Sebenarnya di samping alasan anaknya tidak suka minuman susu, Nufus mengungkapkan keterbatasan kemampuan ekonomi memenuhi protein yang cukup bagi anaknya. Ia berharap pemerintah dapat meringankan beban kebutuhan gizi bagi putra kesayangannya dengan memberikan makanan sehat secara gratis.

“Tapi saya juga tidak ingin anak saya kalah dengan anak-anak yang lain, jadi sebisanya saya siapkan minuman susu untuknya,” terangnya.

Hal yang paling menyenangkan hatinya saat ini, balitanya terlihat lebih gemuk. “Yang penting dia tumbuh sehat dan kelak menjadi anak yang berguna bagi agama dan bangsa. Semua orang tua pasti menginginkannya dan tidak mau melihat anaknya mudah jatuh sakit,” pungkasnya. (*/r3)

 

 

 

 

 

 

Editor : Hidayatul Wathoni
#Kota Mataram #Gizi #ahli #puskemas #protein #Kesehatan #Dokter #Balita #Stunting