Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Setia Menunggu Semalam Suntuk, Pengantar Jamaah Calon Haji Penuhi Luar Gerbang Asrama Haji NTB

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 14 Mei 2024 | 11:30 WIB
RAMAI: Suasana pasar malam dadakan depan Asrama Haji NTB diramaikan pengantar jamaah haji, Sabtu malam (11/5).
RAMAI: Suasana pasar malam dadakan depan Asrama Haji NTB diramaikan pengantar jamaah haji, Sabtu malam (11/5).

LombokPost-Ketika musim haji tiba, ruas jalan depan asrama haji penuh semarak.

Pedagang kaki lima menjamur berburu rezeki dari para pengantar orang-orang ke tanah suci.

Ruas jalan depan Asrama Haji NTB, Kota Mataram beruang semarak ramai.

Kendaraan yang melintas merayap pelan, menyusuri jalan.

Di sisi kiri dan kanan, orang-orang berjalan santai. Taman pembatas di tengah jalan tak luput jadi tempat tongkrongan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ruas jalan depan asrama haji menggeliat.

Pasar malam hidup saat musim haji tiba.

Tidak hanya warga kota, pengunjung yang datang berbagai daerah.

“Keponakan saya, bersama suaminya (ke tanah suci),” tutur Lalu Wirasangka, seraya mengusap matanya yang perih.

Malam telah larut. Namun rombongan pengantar, setia di luar pagar gebang asrama.

Menunggu saat-saat keberangkatan jamaah ke bandara tiba.

Wirasangka mengungkapkan perasaanya yang campur aduk.

Keponakannya itu sangat dekat dengan dirinya.

“Tadi bawa makanan kesukaannya, dia pesan dibawakan ares (sayur gedebok pisang, Red),” ucapnya.

Wirasangka, tak lupa membawa serta keluarga besarnya dari Praya, Lombok Tengah.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia mengantar calon jamaah haji sampai di asrama.

Hampir setiap tahun, selalu saja ada warga di kampungnya yang menunaikan ibadah haji.

“Kebetulan punya mobil pick up, jadi kebagian tugas mengantar keluarga jamaah yang ingin melihat saat-saat keberangkatan keluarga ke bandara,” ucapnya.

Tahun ini giliran kemenakannya berangkat. Wirasangka, pun merasakan bagaimana beratnya berpisah dengan keluarga dekat.

Walau kepergiannya, terbilang tidak lama.

“Sekarang sudah ada HP, komunikasi tatap wajah langsung bisa setiap saat, tapi ya tetap saja suasana kebatinan berbeda. Ada campur aduk rasa bahagia, haru, dan rindu,” ucapnya.

Para pengantar sepertinya bisa semalam suntuk menunggu di luar gerbang.

Terutama bagi pengantar yang tidak punya keluarga di Kota Mataram untuk bermalam.

“(Keponakanya) sudah siap-siap berangkat dari asrama jam 03.00 dini hari,” ucapnya.

Untunglah ada pasar malam dadakan tempat menghibur diri.

Wirasangka mengatakan, anak-anak yang dibawanya turut serta, telah sejak tadi melebur di berbagai arena permainan pasar malam.

Nggak. Mereka tidak ikut menunggu. Nanti, pulang ke rumah keluarga di sini (Mataram), hanya kami-kami saja (orang dewasa, Red) yang menunggu keberangkatan sampai besok pagi,” ucapnya.

Saat-saat menunggu keberangkatan di depan gerbang itu sebenarnya tak seberapa.

Yang paling emosional adalah saat menyaksikan keberangkatan jamaah, dibawa bus ke bandara.

“Itu paling mengharu-biru, ketika mencari-cari bus yang mana membawanya. Setelah ketemu, dia (jamaah, Red) melambaikan tangan, rasanya air mata tidak bisa ditahan lagi,” timpal Baiq Rahayu, istri Wirasangka yang setia menemani di sampingnya. (zad/r3)

Editor : Kimda Farida
#Haji #Asrama Haji #Mataram