Sempat muncul banyak figur yang disebut bakal mencoba peruntungan di panasnya perebutan kursi wali kota, namun nama mereka perlahan tenggelam setelah beberapa partai menutup masa pendaftaran dukungan bakal calon wali kota.
Di atas kertas, nama yang muncul sejauh ini hanya empat nama.
Antara lain H Mohan Roliskana (petahana wali kota), TGH Mujiburrahman (petahana wakil wali kota), Abd Rahman, dan H Weis Arqurnain.
Sedangkan nama lainnya yang diprediksi memanaskan pereburan kursi wali kota sampai detik ini tidak terbukti mendaftar.
Nama-nama itu antara lain H Didi Sumardi, Nyayu Ernawati, Hj Selly Andayani, Karman, Lalu Fatahillah yang langkahnya masih senyap.
“Saya kira figur-figur yang punya hasrat tampil di Pemilihan wali kota, tengah saling intip,” kata pengamat politik Dr Ihsan Hamid, Senin (21/5).
Pengajar ilmu politik di UIN Mataram itu melihat, nama besar Mohan (baca: petahana) cukup membuat beberapa politisi silau dan belum berani muncul kepermukaan.
“Walaupun sejatinya mereka sangat ingin tampil, tapi masih menunggu keputusan Mohan apakah akan tampil di Pilwali Kota Mataram atau Pilgub NTB,” imbuhnya.
Para figur dengan sendirinya akan menjamur bermunculan, bila Mohan resmi memutuskan tampil di Pilgub NTB 2024.
“Oh saya kira akan langsung begeruwus (bermunculan, Red) calon-calon ini. Mereka hanya menunggu kepastian Mohan tampil di Pilgub NTB, tapi kalau di Pilwali saya pikir mereka telah berhitung sulit melawan Mohan,” paparnya.
Dan situasi terkini, langkah politik Mohan mulai terbaca.
Keputusannya mendaftarkan diri sebagai bakal calon wali kota, telah membenamkan hasrat para figur lain bercita-cita tampil sebagai bakal calon wali kota.
Para figur telah berhitung kekuatan Mohan saat ini jauh lebih tangguh dari sisi logistik dan infrastuktur dibanding lima tahun yang lalu (baca: Pilwali 2020).
Saat Pilwali Kota Mataram 2020 lalu, kekuatan petahana terkonsentrasi pada dua pasangan: Mohan-Mujib dan Lalu Makmur Said-Badruttamam Ahda.
“Sekalipun demikian, Mohan berhasil keluar sebagai pemenangnya,” ucapnya.
Dan, Mohan saat ini, jauh lebih powerfull dengan logistik dan infrastruktur yang solid.
“Ini yang saya kira membuat figur calon lain hanya intip-intip dari jauh saja,” paparnya.
Justru yang dinamis menurut Ihsan adalah peta pertarungan siapa di nomor dua atau siapa yang akan mendampingi Mohan.
Frame politik ibu kota tergeser ke pertarungan siapa pendamping Mohan.
“Karena kalaupun Mohan nantinya melawan kotak kosong, misalnya, karena tidak ada lawan yang mendaftar, saya lihat dia sudah tahu bagaimana cara menang melawan kotak kosong,” paparnya.
Ihsan melanjutkan, justru yang seru saat ini adalah nasib Mohan-Mujib jilid 2 apakah berlanjut atau tidak. Ia membaca duet, Mohan-Mujib belumlah solid.
“Saya melihat, munculnya nama Didi Sumardi, Abd Rahman, dan tokoh-tokoh lainnya, bukan untuk ambil posisi melawan Mohan, tapi yang realistis adalah bersaing berebut kursi pendamping Mohan, inilah petanya,” analisisnya.
Di sisi lain, Ihsan belum melihat apa yang menjadi alasan Mohan untuk terus menggandeng Mujib.
“Kecenderungannya Mohan jauh lebih kuat saat ini dengan argumentasi yang saya sampaikan di atas. Artinya apa, Mohan kecendrungan politiknya mencari pendamping tidak lagi untuk membuatnya menang. Tapi gradenya dinaikkan seperti harus cakap dalam tata pemerintahan atau punya jaringan investasi yang luas untuk membangun ibu kota,” paparnya.
Alasan inilah yang dinilai membuat Mohan dan Mujib belum deklarasi saat ini. Lebih-lebih juga, Golkar tidak lagi bisa sendiri mengusung pasangan calon karena perolehan kursi turun dari sembilan menjadi tujuh kursi.
“Kenyataannya sampai saat ini belum deklarasi jilid 2, jadi peta masih bisa berubah untuk posisi nomor dua,” ucapnya.
Sementara itu, tokoh baru kembali muncul untuk di Pilwali Kota Mataram.
Setelah sebelumnya putra pentolan PPP NTB H Weis Arqurnain, kini muncul politisi PKS Baiq Zuhar Parhi yang disebut telah mengambil formulir pendaftaran di PKS.
Baiq Parhi diketahui adalah anggota DPRD Kota Mataram terpilih dari PKS hasil pemilu 2024.
“Betul salah satu yang ambil formulir ada Baiq Parhi,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu dan Pilkada (BP3) PKS Kota Mataram Dedy Sufyan, pada Lombok Post. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida