Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenal Tea Mixologist Cakra Virajati, Sisipkan Kenangan dalam Secangkir Teh

Galih Mega Putra S • Jumat, 28 Juni 2024 | 12:10 WIB
TERUS BERKARYA: Cakra Virajati mengolah bahan teh menjadi minuman istimewa di salah satu hotel di Mataram, beberapa waktu lalu.(HARLI/LOMBOK POST)
TERUS BERKARYA: Cakra Virajati mengolah bahan teh menjadi minuman istimewa di salah satu hotel di Mataram, beberapa waktu lalu.(HARLI/LOMBOK POST)

LombokPost-Teh salah satu jenis minuman yang digemari. Sebagian besar orang terbiasa menyeduh teh jadi hidangan.

Tetapi, di tangan Cakra Virajati teh bisa menjadi sesuatu yang spesial. Dia menyisipkan story telling pada secangkir teh.

Selama ini, kita lebih banyak meminum teh dengan teknik konvensional.

Daun teh diseduh dengan air panas. Dicampur gula. Kemudian disajikan dalam cangkir ataupun gelas.

Padahal penyajian teh bisa juga dikreasikan.

Cara menyajikannya sangat beragam, teh sangat mungkin dikombinasikan dengan bahan lain. Bisa menciptakan sensasi rasa yang berbeda.

Rasa baru tanpa menghilangkan rasa teh itu sendiri.

 Tak banyak orang memang yang bisa mengawinkan teh dengan bahan lain. Salah satu yang mahir adalah Cakra Virajati.

Bisa dibilang, Cakra merupakan orang yang langka. Memiliki kemampuan untuk mengkreasikan teh dengan beragam bahan.

Keahlian itu pula yang membuat Cakra menjadi jawara nasional untuk kategori Tea Mixology.

Dia jadi juara pertama di kompetisi teh terbesar di Indonesia, yang diselenggarakan di Jakarta, 2018 lalu.

Capaian itu tak diraih Cakra dengan simsalabim.

Instan. Juaranya juga terasa istimewa.

Sebab, di Lombok tak ada kebun teh yang bisa dijadikan Cakra sebagai tempat untuk belajar mengenal teh.

Pria yang berusia 28 tahun ini mengatakan, ada proses pembelajaran yang panjang.

Juga keinginan kuat untuk mengenalkan minuman teh ke masyarakat.

”Niatnya memang ingin mengenalkan budaya teh di kota (Mataram),” kata Cakra.

Kesukaannya pada teh, lebih dulu dikenalkan ibunda tercinta.

Sedari kecil, Cakra kerap mendapat sajian teh.

Juga minuman bergizi lainnya, seperti jamu beras kencur.

Teh disajikan di pagi hari, sebelum dia berangkat sekolah.

Kondisi seperti itu membuat Cakra jatuh cinta terhadap teh.

Kecintaannya pun tak berkurang seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, kata Cakra, ketika dia kuliah di Jogjakarta.

Di Jogja terdapat banyak angkringan yang menyajikan teh.

Hebatnya, setiap angkringan memiliki rasa teh yang berbeda. Ada campuran yang membuat rasa teh memiliki ciri khas masing-masing.

”Jogja juga identik dengan teh. Enam tahun di sana. Kalau di Jawa, prinsip teh itu nasgitel. Panas, legi (manis), dan kentel (kental, Red),” terang dia.

Ketertarikannya kepada teh semakin tinggi di 2018.

Meski berada di Lombok, yang tidak ada kebun tehnya, Cakra tak patah arang.

Dia mencoba mengambil daun teh dari berbagai daerah. Seperti Ciwidey di Jawa Barat; Solok, Sumatera Barat; hingga Kaba Wetan di Bengkulu.

Seluruh upayanya dilakukan semata-mata atas kecintaannya terhadap teh Indonesia.

”Nah, pas saya tugas di Jakarta, di sana saya semakin mendalami teh. Ikut kelas teh. Bagaimana menyeduh teh yang baik dan benar. Termasuk bagaimana mencampur teh dengan bahan lain,” tutur dia.

Apa yang dipelajari Cakra dikenal dengan tea mixology.

Seni memadukan bahan cair lain dengan teh. Misalnya, mencampur teh dengan sirup, gula cair, atau jamu. Meski ada bahan campuran, rasa teh harus tetap terjaga.

”Harus tetap terasa tehnya. Jangan sampai malah seperti sup buah, hilang rasa tehnya,” sebut Cakra.

Kemampuan ini, membawa Cakra menjadi juara nasional tea mixology di ajang Tea Master Cup. Kala itu, dia membuat sajian dengan nama Pitutur Ibu.

Paduan dari teh hijau yang dicampur dengan kencur, kunyit, jahe, jeruk nipis, dan daun jeruk. Juga ditambahkan sedikit gula.

Melalui Pitutur Ibu, Cakra bercerita. Ada kenangan masa kecilnya dengan ibunda tercinta yang tak lekang oleh waktu. Saat kecil, Cakra sering diberikan minuman beras kencur.

Disertai dengan nasihat-nasihat positif. Salah satunya meminta Cakra untuk membahagiakan orang lain, saat dewasa kelak.

”Jadi sambil diberi minum ibu, saya diberikan nasihat. Itu akhirnya menjadi insipirasi hingga bisa membuat Pitutur Ibu,” tandas Cakra. (bersambung/r3)

Editor : Kimda Farida
#barista #teh