Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ribuan Keris Dipamerkan, Hadirkan Keris Sepuh hingga Kamardikan dari Lombok, Bali, dan Jawa

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 1 Juli 2024 | 13:15 WIB
SENI: Suasana pameran keris di Taman Mayura, Kota Mataram, Sabtu (29/6).
SENI: Suasana pameran keris di Taman Mayura, Kota Mataram, Sabtu (29/6).

LombokPost-Paguyuban Keris Selaparang-Mandalika menggelar pameran keris Lombok-Bali-Jawa di taman Mayura Kota Mataram.

Ribuan bilah keris para mpu dipamerkan.

Ada jenis keris sepuh/kuno.

Juga bursa karya keris kamadrikan atau keris yang diproduksi setelah era kemerdekaan.

“Beberapa di antaranya adalah karya mpu di Lombok,” ungkap Ketua Kordinator Wilayah (Korwil) Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Kusnawan, pada Lombok Post, Sabtu (29/6).

Kekayaan khazanah keris sepuh dan kamardikan masih terjaga dengan baik di Lombok.

Selain paguyuban keris Selaparang-Mandalika, terdapat paguyuban keris lain yang secara aktif membangun komunikasi dengan SNKI.

“Paguyuban-paguyuban ini mewadahi UMKM atau pengerajin keris. Tidak hanya pembuat bilah, tapi juga pengerajin warangka, gagang, dan lain-lain,” ucapnya.

Saat ini 5 paguyuban keris aktif berkoodinasi dengan SNKI di Lombok.

Mereka secara bergiliran membuat jadwal pameran/bursa keris dalam setiap tahun.

“Sehingga dalam satu tahun, kegiatan kita full dengan agenda pameran keris,” ucapnya.

Agenda bursa keris ini telah secara langsung berdampak pada denyut UMKM perkerisan di Lombok.

Kusnawan menaksir, nilai transaksi keris dalam setiap bulan tembus di angka ratusan juta rupiah.

“Ini asumsi kalau sebilah keris kamardikan saja rata-rata nilai jualnya Rp 2 jutaan. Belum lagi keris sepuh yang harganya bisa lebih tinggi lagi. Ratusan juta rupiah,” ucapnya.

Melalui kegiatan pameran ini, pihaknya berharap pemerintah setempat dapat memberikan perhatian khusus pada pelaku industri Keris.

“Saat ini fungsi keris sudah bergeser menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan simbolik. Semisal cindera mata, oleh-oleh. Bukan lagi senjata tajam,” tekannya.

Di kesempatan itu, Kusnawan mengungkapkan visi ke depan bagi para pengerajin keris. Mereka didorong ikut program sertifikasi keris untuk menjaga mutu dan kualitas produksi.

Hal ini akan membuka kesempatan pasar lebih luas.

“Sertifikasi ini untuk para pelaku perkerisan yang membuat bilah, warangka, gagang, dan lain-lain,” ucapnya.

Proses sertifikasi tersedia melalui Lembaga Sertikadi Profesi (LSP) Perkerisan.

Terdapat 29 profesi di bidang pembuatan perkerisan yang dapat disertifikasi.

Dewasa ini permintaan keris sebagai koleksi dan cindera mata telah mengalami peningkatan.

Permintaan itu tergambar dari angka transaksi yang memperlihatkan tren peningkatan.

“Produksi keris telah membuka kesempatan banyak orang memilikinya. Tersedia berbagai karya keris dari yang harganya sangat terjangkau, sedang, hingga tinggi. Jadi setiap orang bisa membeli keris saat ini,” tekannya.

Sementara itu, Direktur LSP Perkerisan Agung Guntoro Wisnu menyampaikan, sertifikasi keris relatif terlambat dibanding profesi lain.

“Dibanding sertifikasi bidang perhotelan saja, sudah tertinggal jauh,” ucapnya.

Namun terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Agung menekankan hal ini perlu, mengantisipasi pihak luar mengambil kesempatan dalam industri keris.

“Jangan sampai keris kita diklaim negara luar baru merespons. Sertikasi ini bertujuan menjaga mutu keris sehingga jangkauan pasarnya semakin luas,” tekannya.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan memberikan sertifikasi pada 50 orang di Sumenep, Madura hasil kerja sama dengan Kemenparekraf.

“Kemudian disusul sertifikasi untuk 60 orang di Bali. Saya kira teman-teman di Lombok bisa ikut di Bali untuk mendapat kesempatan sertikasi gratis,” ucap Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Sertikasi, di SNKI Pusat ini.

Saat ini tercatat 270 paguyuban keris di seluruh Indonesia.

Semuanya didorong ke arah yang sama, ikut dalam program sertifikasi.

“Jangan sampai orang luar negeri yang lebih bersemangat menjaga kualitas dan mutu keris yang merupakan budaya negeri ini,” pungkasnya. (zad/r3)

Editor : Kimda Farida
#keris #pameran