Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lahan Semakin Sempit, Tak Akan Ada Sawah Baru di Mataram

Galih Mega Putra S • Senin, 22 Juli 2024 | 17:10 WIB
MASIH PRODUKTIF: Lahan sawah milik warga masih cukup luas yang berada di Kecamatan Selaparang, Mataram, beberapa waktu lalu. Kota Mataram tidak usulkan program cetak sawah baru.(IVAN/LOMBOK POST)
MASIH PRODUKTIF: Lahan sawah milik warga masih cukup luas yang berada di Kecamatan Selaparang, Mataram, beberapa waktu lalu. Kota Mataram tidak usulkan program cetak sawah baru.(IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Pemerintah pusat telah merekomendasikan kepada seluruh kabupaten/kota di Indonesia untuk menjalankan cetak sawah baru.

Tujuannya, untuk memperkuat ketahanan pangan di daerah masing-masing.

“Kalau kita tidak usulkan program itu (cetak sawah baru),” kata Asisten II Setda Kota Mataram Miftahurrahman.

Pemkot Mataram tidak mengusulkan program tersebut dikarenakan melihat kondisi wilayah.

”Kita tidak punya gunung atau lahan perbukitan yang bisa kita ciptakan untuk jadikan lahan sawah baru,” tegasnya.

Jangankan untuk menciptakan sawah baru, untuk menambah lahan persawahan saja sulit. Bahkan, kawasan LSD (Lahan Sawah Dilindungi) saja semakin merosot.

Awalnya kawasan LSD 509 hektare. Kini diusulkan untuk diubah menjadi 339 hektare.

“Itu yang harus kita manfaatkan dengan optimal. Hasil produksi padi kita harus stagnan untuk menyuplai ketahanan pangan di daerah,” ujarnya.

Kota Mataram sebagai ibu kota NTB sebagai konsumtif. Artinya, penopang ketahanan pangannya dari kabupaten/kota lainnya.

“Masyarakat kita ini kan sebagai pengguna. Jadi, pangan yang disuplai dibeli masyarakat kita,” ungkapnya.

Miftah menegaskan, pihaknya sudah bersurat ke Pemerintah Pusat untuk tidak mengikuti program tersebut.

Kabupaten/kota lain yang ada di NTB yang mengusulkan program tersebut.

"Seperti, kabupaten di wilayah Pulau Sumbawa, atau kabupaten Lotim (Lombok Timur), Loteng (Lombok Tengah), dan Lobar (Lombok Barat). Mereka yang masih banyak memiliki lahan kosong untuk dijadikan lahan produktif,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) M Saleh mengatakan, tidak mungkin menciptakan sawah baru di Mataram.

“Lihat kondisi wilayah kita. Tidak ada pegunungan. Kalau ada pegunungan kita punya, pasti saya akan ubah menjadi lahan sawah yang produktif,” tegas Saleh.

Meski tidak memiliki lahan untuk cetak sawah baru, hasil panen tetap stabil. Per sekali panen menghasilkan 8 ton lebih per hektare.

“Bahkan ada yang mencapai lebih 10 ton per hektare.  Itu panennya dua kali setahun,” terangnya.

Hasil panen per hektare yang dihasilkan Kota Mataram jauh lebih besar dibanding kabupaten/kota lain di NTB.

”Kalau daerah lain, hanya bisa panen 5-6,5 ton per hektare,” klaimnya.

Menurutnya, penyebab tingginya produksi panen di Kota Mataram bukan hanya dipengaruhi lancarnya pengairan. Melainkan juga unsur zat hara tanahnya yang bagus.

”Ada juga peran penyuluh yang sigap memberikan metode tanam yang baik. Serta gerak cepat mereka mengantisipasi serangan hama,” terangnya.

Saleh mengatakan, dengan adanya hasil panen yang baik, pihaknya optimis bisa memproduksi padi sesuai target.

”Kita ditargetkan produksi padi mencapai 25 ton per tahun,” jelasnya.

Dari catatan, produksi padi tahun 2023 tidak mencapai target. Hanya bisa memproduksi 24 ton lebih.

”Tahun ini harus bisa tercapai target produksi,” harapnya. (arl/r3)

 

Editor : Kimda Farida
#sawah #Lahan #Mataram