Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengunjungi Dua Mata Air di Dasan Cermen yang Konon Dihuni Sidat Besar Warna Putih

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 7 Oktober 2024 | 13:48 WIB

Mata Air Taker di Kelurahan Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, kemarin (6/10).
Mata Air Taker di Kelurahan Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, kemarin (6/10).
Musim kemarau ini, beberapa daerah mengalami kesulitan air bersih. Mata air-mata air mengering. Tapi tidak dengan dua mata air di Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Mataram.

 

SEMILIR angin bertiup perlahan di pagi yang cerah. Menerpa badan meluruhkan beban pikiran.

Terdengar, gemericik air dari sela tembok. Mengalir jernih, segar.

Air itu mengalir ke saluran di bawahnya. Di sana ribuan benih ikan dengan jelas terlihat berenang mencari makan.

Air itu bersumber dari limpasan telaga di balik tembok. Di permukaannya yang tenang tumbuh mekar bunga teratai. 

Siti Aisyah termenung. Lama ia memandangi telaga tenang yang tak pernah kering itu. 

“Konon ada sidat warna putih (yang jadi penghuni telaga),” lirihnya kemudian, Minggu (6/10).

Perempuan asli Dasan Cermen itu memang tak pernah sekalipun melihat sidat dimaksud.

Tapi beberapa orang yang pernah bertutur padanya, bersaksi pernah melihatnya.

“Muncul di waktu-waktu tertentu,” terangnya.

Masa kecil Aisyah, memang sangat dekat dengan telaga ini. Masa-masa indah pernah ia lalui di telaga dengan beringin besar tumbuh di dekatnya.

Tempat itu memang sedikit berbeda dengan kenangan yang tergambar di masa kecilnya. Tapi perubahan yang terjadi semua karena proses alamiah.

“Telaga ini dulunya dalam,” tuturnya.

Sekarang, sedimentasi membuat telaga menjadi lebih dangkal. Lumpur hitam terlihat di dasarnya.

“Mata airnya ada di dasar telaga ini,” ucapnya.

Pancaran mata air itu tidak pernah mengering. Tidak hanya satu titik, tetapi banyak titik. 

Sumur di sisi timur telaga memperlihatkan betapa mudahnya menemukan mata air di kawasan itu. Begitu pula, pancaran mata air di sisi selatan telaga.

“Di sini ada beberapa titik mata air. (Mata air di sisi selatan telaga) dibuatkan saluran oleh pemiliknya ke saluran utama agar tidak menggenang (di area tempat itu),” terangnya.

Di lahan yang memiliki sejumlah mata air dan tenaga itu, berdiri sebuah tempat ibadah umat Hindu: Pura.

Namun, saat Lombok Post mengunjunginya, pemilik atau pengelola kawasan, tidak ada di tempat.

“Di waktu-waktu tertentu kawasan ini ramai didatangi umat Hindu,” tutur Aisyah.

Jumlah pengunjung cukup banyak. Mereka berasal dari umat Hindu di kawasan Abian Tubuh. 

Di sini salah satu keunikan pura ini. Di kawasan sekitar, tidak ada ada satupun warga Hindu bermukim.

Justru pura itu bersebelahan dengan Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) milik Yayasan Pendidikan Rohmatal Abror NWDI.

“Namun ketika mereka (umat Hindu, Red) berkegiatan keagamaan, warga di sini tetap menghormati dan menghargainya. Termasuk saat mereka memainkan baleganjur,” terangnya.

Begitu pula sebaliknya, ketika umat Islam di sekitar pura sedang beribadah maka dengan rasa toleransi, umat Hindu menghentikan sementara acaranya.

“Setahu saya tidak pernah ada persoalan, semua berjalan rukun, saling menghormati, dan menghargai perbedaan,” ucapnya.

Keberadaan mata air-mata air di area pura itu memang menjadi satu misteri atau katakanlah keajaiban yang menarik.

Di kawasan itu, sudah padat pemukiman dan pohon-pohon banyak yang dibabat.

Di tempat lain, mata air dengan cepat mengering apabila pohon-pohon yang berfungsi jadi resapan dibabat.

Tetapi, di sini mata airnya tetap memancar deras sekalipun telah melalui banyak kemarau.

“Tidak pernah kering,” ucapnya.

Salah satu argumentasi yang masuk akal mengenai mata air yang tak pernah kering di sana adalah topografi kawasan Dasan Cermen yang disebut lebih rendah di banding tempat lain. 

Sehingga air dari tempat lain akan meresap dan berkumpul ke kawasan itu.

Tetapi kebenaran asumsi ini harus diuji lagi, mengingat banyak pengerasan akibat pesatnya pembangunan.

Pengerasan ini bisa mengakibatkan, melambatnya aliran air, bahkan merusak jaringan mata air.

“Dulu di sini dikelilingi sawah-sawah, sekarang banyak rumah-rumah,” ucapnya.

Satu lagi, telaga itu dulunya menjadi tempat para pemuda atau lelaki Dasan Cermen mandi.

Tetapi, sejak jaringan air bersih PDAM tersedia tempat itu tak pernah dipakai lagi untuk mandi. (lalu mohammad zaenudin)

 

Editor : Marthadi
#kemarau #Dasan Cermen #mata air #Mataram