Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Adu Kuat Raup Ceruk Suara Gen Z di Mataram, Aria Petarung, Mohan Good Looking

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 5 November 2024 | 10:55 WIB
Kanan H Mohan Roliskana dan kiri H Lalu Aria Dharma BS.
Kanan H Mohan Roliskana dan kiri H Lalu Aria Dharma BS.

LombokPost-Pemilihan Wali Kota/Wakil Wali Kota Mataram 2024 menyisakan kurang dari satu bulan lagi.

Di tanggal 27 November 2024 nanti, warga Kota Mataram akan menentukan siapa pemimpinnya untuk lima tahun mendatang. 

Kedua paslon baik nomor 1 H Lalu Aria Dharma BS, SH-H Weis Arqurnain, Lc (AQUR) dengan paslon nomor urut 2 Dr H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (HARUM) tengah beradu “mekanik”.

Berebut ceruk-ceruk suara untuk menghimpun dukungan elektoral.

Salah satu ceruk suara yang menggiurkan adalah Generasi Z atau Gen Z.

Menurut data yang diungkapkan Bawaslu Kota Mataram, suara mereka sebesar 24,43 persen dari total DPT se Kota Mataram 320.604 suara.

“Sama dengan 78.321 suara,” kata Ketua Bawalsu Kota Mataram Muhammad Yusril dalam acara, Gen Z Fest: Aksi Pantau Pilkada, pada Sabtu (2/11).

Ceruk suara yang menggiurkan ini, telah menjadi bidikan kedua paslon.

Dalam berbagai keterangan terkait bidikan suara pemilih, masing-masing tim pemenangan mengungkapkan hasratnya mendapatkan dukungan pemilih ‘generasi digital’ ini.

Namun siapa yang paling efektif strateginya?

“Tentu untuk menjawab ini kita harus menjawab by data, tidak bisa hanya berdasarkan asumsi. Nah yang jadi pertanyaan, apakah ada lembaga kredibel yang bisa dijadikan acuan hasil survei, siapa di antara Aria atau Mohan yang menguasai gen Z?” ucap Pengamat Politik UIN Mataram Dr Ihsan Hamid, Senin (4/11).

Oleh karena belum ada lembaga yang secara segmented menjelaskan penguasaan suara paslon terhadap Gen Z, maka analisa terhadap kekuatan kedua paslon dapat dilakukan melalui pendekatan sosiopolitik.

“Kita perlu underline pendapat ini, sebagai pandangan gen Z yang mungkin muncul atas kedua figur berdasarkan pendekatan karakter kedua paslon,” paparnya.

Image Karakter

Secara umum, ada tujuh karakteristik gen Z yang dapat dijadikan parameter kesukaan atau kedekatan pada figur tertentu.

Antara lain, melek teknologi; menyukai hal yang terbuka dan inklusif; kepedulian pada gerakan sosial dan politik; multitasking; menyukai hal yang kreatif dan inovatif; menyukai figur yang adaptif dan fleksibel; dan menyukai hal yang terorganisir.

Ihsan melihat, baik Aria maupun Mohan sama-sama memiliki keunggulan masing-masing yang disukai gen Z.

“Misalnya di Aria, salah satu yang terlihat menonjol darinya adalah sosoknya yang mau berusaha keras. Petarung. Gen Z, menyukai karakter seperti ini,” ucapnya.

Salah satu yang memperlihatkan karakter Aria mau terbuka pada keberadaan gen Z dicontohkan Ihsan saat debat perdana.

Aria menampilkan diri sebagai figur yang friendly melalui fashion dan gesturnya.

“Pakai celana jeans, gaya santai ala Genji yang khas petarung, ini merupakan karakteristik yang disukai gen Z. Mereka suka melihat figur yang mau bekerja keras. Dan saya melihat, Aria walaupun secara usia sudah senior berusaha keras mendekati gen Z. Generasi ini akan sangat menghargai usaha-usaha keras seperti ini,” paparnya.

Sebenarnya, baik Aria maupun Mohan dari tahun kelahiran tidak ada yang merepresentasikan gen Z ataupun generasi milenial (disebut juga generasi Y).

Aria lahir tahun 1968 dan Mohan lahir tahun 1972.

Keduanya datang dari generasi X (1965-1979).

“Tapi mungkin Mohan dianggap lebih dekat dengan gen Z, karena dari sisi usia lebih muda dari Aria dan saya pikir banyak yang akan berpendapat Mohan lebih good looking,” ucapnya.

Baik figur “petarung” dan “good looking” sama-sama karakteristik yang disukai gen Z.

Oleh karenanya, dua figur ini berpeluang menambang suara di ceruk gen Z.

Namun, Ihsan merasa perlu membuat catatan khusus bagi Mohan.

Salah satu persepsi yang muncul mengenainya adalah sosoknya sebagai pejabat yang protokoler.

“Persepsi ini yang bisa beresistensi dengan figurnya yang good looking tadi, sehingga saya pikir dia perlu bekerja lebih keras untuk membangun karakter figurnya, apakah mau tampil menjadi sosok yang inklusif atau ekslusif,” ucapnya.

Kreatifitas Kampanye

Dari sisi desain APK, Ihsan melihat tim HARUM lebih memanfaatkan teknologi. Beberapa balihonya menggunakan desain Artifisial Intelligence (AI).

“Saya kira untuk desain APK, poin milik HARUM, begitu juga dengan pemanfaatan media sosial,” ucapnya.

Meski demikian, tim AQUR tidak terlalu telak tertinggal dalam kreativitas kampanye. Ihsan melihat, banyak pertemuan offline AQUR yang dihadiri gen Z.

“Salah satunya acara Milenial Talk yang beberapa kali digelar. Artinya secara penetrasi, AQUR lebih detail dan tajam, tapi secara jangkauan sosialiasi HARUM lebih luas karena menggunakan APK yang didesain modern,” ulasnya.

Baik AQUR dan HARUM juga punya kesadaran yang baik untuk menggunakan influencer menarik dukungan publik. “Dari sisi kreativitas, keduanya punya cara masing-masing,” paparnya.

Tidak Ada Tim Khusus Garap Gen Z

Sebagai catatan terakhir, kedua paslon dinilai masih menggarap suara gen Z di permukaan saja. Ihsan melihat, baik AQUR dan HARUM baru menggarap dari sisi kemasan.

“Saya melihat tidak ada tim yang secara khusus, ditugaskan menggarap gen Z ini. Seperti kalau di Prabowo-Gibran itu ada tim Fanta yang memang tugasnya menggarap milenial dan gen Z,” ucapnya.

Ihsan justru khawatir pemilih gen Z yang mencapai 70 ribu lebih pemilih hanya sebagian kecil yang berpartisipasi di Pilkada Serentak 2024 nanti.

Hal ini karena tidak ada paslon yang mampu masuk ke dalam dunia gen Z, kemudian mengajak mereka terlibat dalam politik.

“Yang saya khawatirkan, justru mereka akan diselesaikan melalui cara-cara transaksional (baca: politik uang) yang tidak sehat bagi pendidikan demokrasi,” pungkasnya. (zad/r3)

Editor : Kimda Farida
#politik #wali kota #lembaga #Mataram #Gen Z