LombokPost-Sischaa Adelia, pengunjung yang dijumpai koran ini tengah asyik berfoto di taman Sangkareang. Wajah segar di pagi hari diabadikan dalam frame demi frame yang tersimpan dalam memori gawainya.
“Mataram bersih ya,” ucapnya, pada Lombok Post yang meminta penilaiannya di sela berswafoto, Selasa (12/11).
Ia mengatakan ini adalah kunjungan kali ketiganya ke Kota Mataram. “Tahun 2019, tahun 2023, dan sekarang,” tuturnya menyebut waktu kedatanganya ke Ibu Kota Provinsi NTB ini.
Sischaa adalah pengusaha furniture. Koran ini telah meminta izin mempublikasikan fotonya, namun Sischaa menolak dengan lembut.
“Terima kasih, saya pikir komentar saya saja yang dimuat ya,” ucapnya sembari senyum dan sedikit membungkukkan badan memberi hormat.
“Betul, bertemu relasi sekalian berlibur,” ucapnya masih dengan senyum lebar.
Sischaa menilai dalam tiga tahun Kota Mataram semakin tertata baik. Begitupun orang-orangnya yang ramah dan peduli.
“Kalau kita kebingungan cari tempat, mereka (warga kota) tanya mau ke mana? Bukan hanya ditunjuin jalan, tapi dianterin, emang terbaik sih Mataram ini,” pujinya.
Sischaa berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Di tempatnya juga bersih dan terawat.
“Saya pikir, Mataram punya pemimpin yang memiliki gagasan sama dengan pemimpin kami, ingin kotanya sebagai rumah tempat tinggal yang nyaman,” ucapnya.
Sischaa senang pemerintah Kota Matara. memperhatikan hal-hal detail. “Oh ya, tugu Mataram Metro-nya sekarang selain bersih juga lebih hijau (oleh tanaman). Saya suka,” ucapnya ekpresif wajah senang.
Selain aspek kebersihan, ia memberikan kredit poin pada penataan taman, jalan, trotoar dan infrastruktur lainnya. Sischaa mengatakan tak tahu bila trorotar di Kota Mataram pernah dipuji personil Project POP Tika Panggabean.
“Oh ya? Saya tidak tahu. Tapi setuju. Trotoar di sini lebar, bersih, dan sangat berpihak pada pengguna jalan,” ucapnya.
Sischaa mengungkapkan, salah satu daerah yang ingin dijadikan tempat tinggal adalah Kota Mataram. “Saya pengen punya rumah kedua di sini (setelah di Surabaya),” ungkapnya jujur.
Ia menekankan, jawaban ini bukan karena tengah berada di Kota Mataram. “Ini kota yang istimewa, kita bisa mendapatkan banyak hal dalam waktu yang cepat,” ucapnya.
Akses ke berbagai fasilitas hiburan dapat ditempuh dalam waktu singkat. Berbeda dengan di kota tempat asalnya yang butuh waktu lama.
“Mau ke pantai cepet, ke kawasan sejuk (daerah Lombok Barat Lingsar dan Narmada) juga cepat, pusat perbelanjaan dekat, dan yang penting nggak macet,” pujinya.
Baca Juga: Media Netral, Pilkada Ideal
Mungil tapi Centil
Heri Purnomo, pengunung taman Sangkareang memuji konsep penataan yang terarah di Kota Mataram. “Bos, susah loh menata kota yang kecil menjadi tempat yang nyaman,” ucapnya.
Pria yang datang bersama Sischaa itu mengibaratkan Kota Mataram seperti sebuah toko kecil. “Anda punya barang dagangan banyak, tapi toko kecil. Orang lain lihat, bukan takjub tapi sumpek,” ucapnya.
Tapi di tengah tingginya minat investasi di kota, vibes daerah ini menurutnya berbeda. “Semakin mungil, seperti seorang gadis, semakin centil, menawan,” pujinya.
Heri senang, dalam beberapa tahun terakhir Kota Mataram dibangun namun tak kehilangan identitas dan jati dirinya. Termasuk dalam menghargai budaya leluhur dan keyakinan yang sangat heterogen.
“Semua hidup rukun dan damai, penuh warna namun padu,” ucapnya.
Bukti Ada Pemimpin yang Cakap
Kota Mataram menjadi daerah yang nyaman tak bisa dinafikkan karena peran pemimpin yang pandai menjaga keseimbangan. “Pemimpin Kota Mataram yang dalam dua tiga tahun terakhir, jago menjaga keseimbangan berbagai kepentingan yang masuk ke daerahnya. Saya tidak bisa berkomentar lima tahun yang lalu karena saya belum pernah datang ke sini saat itu,” ucapnya.
Pemimpin Kota Mataram, memahami kepemimpinan bukan hanya sekadar menancapkan ego idenya. Namun bagaimana mengakomodir berbagai kutub kepentingan, dikelola, dan dicari titik keseimbangannya.
“Mereka yang punya naluri kepemimpinan saja yang bisa melakukan itu. Makanya, pemimpin itu bukan kita cari siapa yang pintar karena yang pintar itu banyak. Yang pintar belum tentu punya naluri mencari keseimbangan berbagai kepentingan. Hanya seseorang yang punya naluri keseimbangan yang bisa jadi pemimpin,” ucapnya.
Baginya, Kota Mataram disebut sebagai daerah yang nyaman melegitimasi daerah ini punya pemimimpin. “Nggak bos, ini bukan daerah yang auto pilot. Kalau nggak sudah rusuh di mana-mana, nggak nyaman, kriminalitas tinggi. Tapi kan Mataram ini nyaman, artinya ada pemimpin yang bagus di sini,” pungkasnya.
Apresiasi atas Kota Mataram sebagai daerah yang nyaman, sebelumnya telah dibuktikan dengan hasil survei yang diterbitkan Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) tahun 2024. Daerah yang dipimpin oleh Dr H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (HARUM) ini berhasil masuk dalam daftar kota paling layak huni di Indonesia.
Mataram berada di peringkat ke 7 dalam Most Livable City Index (MLCI) di Indonesia dengan skor 72,2 poin. Survei IAP melibatkan lebih dari 20 ribu responden dari 52 kota di 32 Provinsi Indonesia.
Skor yang didapat didasarkan pada survei persepsi warga terkait 28 indikator yang terdiri atas fasilitas kesehatan, transportasi, keamanan, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, dan pelayanan pemerintah di masing-masing kota. Dalam Survei ini, Kota Solo menduduki peringkat pertama kemudian Yogyakarta, Cirebon, Magelang, Semarang, Kediri, Mataram, Pangkal Pinang, Medan dan Samarinda.
“Ini adalah penghargaan yang luar istimewa yang membuat kami semakin optimis dalam menata Kota Mataram menjadi lebih nyaman lagi di masa yang akan datang,” ucap Asisten 1 Setda Kota Mataram Lalu Martawang. (tim/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post