Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Sekolah Pedalangan Wayang Sasak Mengenalkan Wayang Sasak Hingga Beijing (1)

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 3 Desember 2024 | 09:00 WIB

 

ATRAKTIF: Tim dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak saat mentas di gedung Akademi Seni Nasional Beijing, pada 25 November 2024.
ATRAKTIF: Tim dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak saat mentas di gedung Akademi Seni Nasional Beijing, pada 25 November 2024.
 

 

Upaya hebat melestarikan budaya wayang kulit Sasak patut diberikan apresiasi kepada Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS). Di tengah gempuran sengit budaya luar dan hiburan modern yang dengan mudah masuk ke ruang-ruang pribadi generasi masa kini.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

RAJA Raden Jayengrane gundah. Tokoh sentral dalam dunia pedalangan wayang Sasak itu mendapati kabar wayang telah ditinggalkan oleh masyarakat.

“Ia lantas memerintahkan raden Umar Maye, orang kepercayaannya, untuk mencari tahu kebenaran informasi tentang keberadaan wayang sasak itu,” tutur Ki Dalang H Safwan, menuturkan sepenggal kisah yang dipentaskannya di negeri tirai bambu China pada 25 November lalu, Minggu (1/12).

Raden Umar Maye dalam diperintah untuk menghadap raja Ong Te te. Maka tanpa pikir panjang berangkatlah pria bertubuh gempal dengan hitung bulat itu ke negeri China. 

“Perjalanan Raden Umar Maye tidak mulus. Ia menghadapi sejumlah tokoh jahat yang ingin merampas bekal hingga menganggalkan misinya,” imbuhnya.

Perang tanding pun pecah. Ilmu kedigdayaan dipertontonkan kedua belah pihak.

Alhasil, Raden Umar Maye mengalahkan para tokoh jahat yang berupaya menghalangi misinya. “Namun perang itu sama sekali tidak memberikan jawaban atas misi yang dijalankannya. Raden Umar Maye semakin tenggelam dalam kesedihannya,” ucapnya.

Dalam rasa gundah gulana, tiba-tiba Raden Umar Maye dikejutkan oleh kemunculan sosok yang menyerupainya. Bedanya, penampilan sosok yang muncul di depannya itu memiliki dimensi yang berbeda dengannya.

Raden Umar Maye Wayang Kulit adalah sosok yang hidup di dimensi dua. Sedangkan Raden Umar Maye Wayang Botol sosok yang berasa di dimensi tiga.

“Dia (Raden Umar Maye wayang botol, Red) mengabarkan bahwa informasi tentang wayang Sasak yang tak lagi dicintai, tidak benar adanya,” ucapnya.

Menurutnya, masih banyak orang-orang yang mencintai wayang Sasak. Untuk membuktikan perkataanya, raden Umar Maye wayang botol mengajak semua hadirin yang menyaksikan pentas di China itu bersaksi.

“Bahwa mereka mencintai wayang Sasak,” tuturnya.

Sesaat kemudian, terdengar jawaban riuh. Hadirin menyampaikan kalimat yang kurang lebih maksudnya sama.

“Raden Umar Maye, don’t worry we love You. We love Wayang Sasak,” tutur Ki Dalang Safwan menyampaikan yang diungkapkan hadirin.

Mendapat pekikan seramai itu Raden Umar Maye tak berubah. Rasa gundah tergambar dari gerakannya yang tak bergeming sedikitpun.

“Rupanya dia tak mengerti apa yang diucapkan para hadirin,” ungkap Ki Dalang Safwan. 

Mendapati ‘saudara’ beda dimensinya tak paham bahasa Inggris, Raden Umar Maye Wayang Botol kemudian meminta hadirin mengulangi perkataannya. Tapi kali ini dalam bahasa yang dimengerti Raden Umar Maye Wayang Kulit: Bahasa Sasak.

“Raden Umar Maye, ndeq iroq aseq, ite selapuqan masih pade demen pade girang Boye Wayang Sasak,” ucap mereka mengulangi yang disampaikan hadirin.

Mendengar kalimat itu, gestur Raden Umar Maye berubah. Tubuhnya yang membungkuk sedih, terangkat riang.

Jawaban itu harus segera ia sampaikan pada Raden Jayengrane, sang raja yang dikenal sebagai tokoh arif nan bijaksana. Ini adalah kabar gembira yang harus disampaikan pada raja.

“Ia kemudian pulang ke kerajaan untuk melaporkan kabar gembira itu pada Raja Raden Jayengrane,” ucapnya.

Potongan adegan wayang berjudul Negero Percinan itu dimainkan secara kolaboratif olah dalang wayang kulit sasak Safwan dan dalang wayang botol Abdul Latief Apriaman. Pertunjukan wayang itu digelar Sekolah pedalangan Wayang Sasak (SPWS) di gedung Akademi Seni Nasional Beijing, pada 25 November 2024. (bersambung/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Gembira #Tokoh #Sekolah #wayang #Sasak #Pedalangan