Imajinasi bisa memunculkan karya. Tidak hanya media yang terlihat. Tetapi, juga dari media yang dibaca. Hal itu yang dilakukan pelukis Nur Aisyah.
Pelukis surealis itu meluapkan imajinasi dari hasil bacaannya ke dalam lukisan.
-----------------
Pelukis juga memiliki berbagai macam aliran. Seperti realisme, naturalisme, surealisme, abstrak, deformatif, postmodernisme, dan pointilisme.
Dari berbagai macam aliran seni lukis itu tetap bisa menghasilkan suatu karya yang luar biasa.
Hanya saja, mereka yang masing-masing memegang aliran seni lukis itu bakal mencari materi dari imajinasi yang muncul di sekitarnya.
Salah satunya, pelukis Nur Aisyah. Perempuan asal Mataram tersebut memilih aliran seni lukis surealisme.
”Saya memilih aliran itu karena bisa menggambarkan imajinasi yang tidak dibatasi pemikiran rasional,” kata perempuan yang akrab disapa Ais itu.
Seniman seperti itu, menggunakan daya imajinasi untuk menyampaikan perasaan atau pikirannya. Ais lebih banyak mengkolaborasikan tulisan dengan seni lukis.
”Dari cerpen (cerita pendek) saya mengambil tema lukisan,” ujarnya.
Berbagai macam cerpen pernah dibacanya. Salah satunya, tulisan cerpen karya Imtihan Taufan, berjudul Oragada.
“Saya memilih judul itu sebagai bahan lukisan karena memunculkan bayangan kehidupan yang terbelenggu,” bebernya.
Konsep surealis yang diimajinasikan tersebut lebih terlihat seperti mimpi. Hal itu yang membuat taste para penglihatnya berbeda dari aliran seni lukis lainnya.
”Sebenarnya seni lukis itu memiliki makna yang sama. Hanya saja cara penyampaian dalam gambar itu sudah mewakili rasa dan pikiran dalam imajinasi kita,” kata dia.
Para seniman lukis tidak asal mencorat coret. Tetapi, semua memiliki makna yang terkandung dalam pemikiran si pelukis.
“Setiap coretan pada media lukis itu memiliki makna,” kata dia.
Saat melukis pun harus melihat kondisi. Perlu ada kenyamanan di sekelilingnya.
”Sebab, harus melukis dengan penuh konsentrasi untuk mendapatkan hasil maksimal,” ujarnya.
Waku menyelesaikan lukisan tergantung pada nilai yang akan digambarkan dalam lukisan. Jika pelukis sudah merasa puas, satu hingga dua hari saja bisa selesai.
”Tetapi, berbeda dengan lukisan yang digambar dengan penuh imajinasi. Itu memerlukan waktu hingga tiga sampai lima hari,” kata dia.
Ais mengatakan, menjadi seorang pelukis di Kota Mataram belum terlalu meningkatkan pendapatan. Itu hanya sekedar hobi yang dijalankan.
”Kalau lukisan saya hanya dibayar kisaran ratusan ribu. Hingga Rp 1 juta hingga Rp 2 juta,” ungkapnya.
Kendalanya menjadi pelukis di Mataram itu wadah yang tidak dimiliki. Peminatnya juga tidak terlalu banyak.
”Berbeda dengan kota-kota lain, hasil karya seni lukis sangat berharga di mata peminatnya,” ujarnya.
Beberapa media digunakan untuk memasarkan hasil karya seni. Mulai dari mulut ke mulut atau media sosial.
”Kalau pameran di Mataram jarang,” kata dia.
Ada beberapa kali pameran lukis di Kota Mataram dijalankan. Hanya saja, peminatnya baru sedikit.
“Makanya, kita bentuk perkumpulan atau sejenis komunitas. Bernama Raw Draw,” kata dia.
Pada komunitas tersebut tidak hanya sebagai tempat melukis.
Tetapi, berbicara mengenai banyak hal tentang dunia lukis.
”Salah satunya membahas mengenai sejarah dan nilai yang terkandung dalam hasil karya seni lukis para seniman,” ujarnya.
Melalui komunitas itu pemahaman mengenai seni lukis semakin luas. Tidak hanya sebagai tempat melihat hasil karya lukis lalu mempromosikannya.
”Tetapi, yang kita lihat itu adalah bagaimana sejarah dan bagaimana cara pelukis bisa menghasilkan karya itu,” kata dia. (Suharli/r3)
Editor : Kimda Farida