Zaman serba sulit. Cari pekerjaan susah. Maman Firmansyah yang dahulunya seorang pengamen berusaha berinovasi.
Membuat kedai kopi kecil-kecilan di kawasan Kekalik, Mataram. Berikut cerita perjuangannya!
-----------------------
Sejumlah mahasiswa sedang kongkow. Cukup ramai. Mereka bercerita penuh tawa di kedai Teman Lama Kopi. Berada di Jalan Musi 2 Nomor 1, Kekalik Mataram.
Di meja lain, mahasiswa sibuk mengutak-atik laptopnya. Tempatnya cukup nyaman untuk dijadikan tongkrongan.
Kedainya sangat layak dengan gaya anak muda sekarang. Konsep itu diusung pemiliknya, Maman Firmansyah. “Sengaja konsep saya bikin begini. Agar bisa lebih welcome dirasakan para anak muda,” kata Maman.
Perjuangannya sampai bisa ke titik seperti ini cukup panjang. Meski bukan lulusan sarjana, tetapi mampu mengelola keuangan dengan baik. “Saya lulusan SMA. Sekolahnya dulu di SMAN 3 Mataram,” bebernya.
Sejak kecil, Maman sudah memiliki bakat jualan. Bahkan, dirinya pernah sempat mengamen.
”Saya ngamen sama teman-teman sewaktu masih SMA. Tempatnya di pedagang kaki lima di kawasan Mataram,” ujarnya.
Sambil mengamen, dirinya juga menjual berbagai produk jajanan rumah.
Dari jajanan itu, hanya mendapatkan keuntungan Rp 5.000 per biji.
”Uang itu yang saya tabung,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, Maman mencoba memberanikan diri membuka usaha yang lebih besar. Dengan diberikan tambahan modal dari temannya, Maman merintis.
”Saya buka Kedai Kopi ini sudah,” ujarnya.
Mulai dibuka tahun 2018. Awalnya hanya menyewa banguna kosong di kawasan Kekalik, Mataram.
”Di sewa dengan harga Rp 15 juta,” bebernya.
Pertama membuka, pelanggan yang datang hanya dari kalangan teman terdekat. Melakukan promosi dari mulut ke mulut.
”Kita mau promosi anggaran terbatas,” ujarnya.
Setahun berjalan, memungkinkan bisa terlihat hasilnya. Dengan dibantu dua temannya yang juga sebagai barista, Tari dan Lala, Maman mampu mengembangkan kopi.
“Semua kopi saya jual. Mulai dari harga Rp 5.000-an hingga Rp 25 ribu-an,” kata dia.
Meski terbilang murah, yang penting ramai dan dikenal banyak orang.
”Mengenai untung itu sudah ada yang ngatur,” ujarnya.
Intinya dalam berbisnis itu yang diperlukan adalah tekun. Ditambah pengelolaan keuangan yang baik.
”Kalau tidak bisa kita jalankan yang dua itu, tidak bisa kita berkembang,” ucapnya.
Maman menuturkan, sempat pada tahun 2020 tempat anjloknya penghasilan. Dikarenakan, covid-19.
”Saya malah obral setiap hari. 100 pembeli bisa membeli kopi Rp 1.000,” ujarnya.
Di saat semua sektor bisnis terpuruk, dirinya berani menjual dengan harga jauh lebih murah. Itu hanya untuk menutupi operasional.
”Sedangkan kalau gaji karyawan saya harus pikirkan dari bisnis yang lain. Seperti jualan kebab, dan lainnya,” kata dia.
Promosi juga diperkuat melalui media sosial. Pengaruhnya sangat besar. ”Waktu Covid-19, medsos sangat membantu sekali.
Banyak orang yang memesan. Syukur sampai sekarang kita masih bertahan dan melewati masa Covid-19,” ungkapnya.
Dia selalu bertahan menjalankan bisnis kopi. Sebab, kopi disukai semua kalangan saat ini.
”Bisnis kopi tidak akan pernah mati,” pungkasnya. (SUHARLI/r3)
Editor : Kimda Farida