Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Abrasi Pantai Ampenan Mengkhawatirkan, Kajian Ilmiah Memperkirakan Pesisir Bintaro Tergerus Masif di Tahun 2039

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 6 Januari 2025 | 09:46 WIB

 

DARATAN MENGHILANG: Sebuah pohon waru di pantai Kampung Bugis, Bintaro, Kota Mataram terlihat akarnya karena terkikis abrasi, Jumat (3/1).
DARATAN MENGHILANG: Sebuah pohon waru di pantai Kampung Bugis, Bintaro, Kota Mataram terlihat akarnya karena terkikis abrasi, Jumat (3/1).
 

LombokPost-Dulu sebuah rumah kayu berdiri di bibir pantai Kampung Bugis, Bintaro, Ampenan.

Rumah itu berdiri tegar di hadapan debur gelombang pasang laut yang ganas.

Rumah kayu itu menjadi yang terdepan dari deretan rumah di kampung tersebut.

“Tapi sekarang rumah itu sudah tidak ada,” tutur Selamet Riyadi dalam bahasa Sasak, pada Lombok Post, Jumat (3/1).

Jangankan puing-puing rumah, sisa fondasi pun tak tersisa jejaknya sedikitpun.

Bagai ditelan bumi yang tersisa dari rumah itu hanya tinggal cerita.

Selamet mengatakan, apa yang terjadi pada rumah kayu itu akan terjadi juga pada rumah-rumah lainnya di kampung Bugis.

Hanya menunggu waktu saja, tanda-tandanya mulai terlihat.

Sebut saja jalan aspal yang menjadi ‘sabuk’ melingkar di kampung Bugis.

Kini jalan itu menjadi benteng terdepan kampung tersebut untuk mengadang gelombang pasang.

“Padahal dulu jarak jalan ini dengan pantai tidak sedekat ini. Ada-lah beberapa puluh meter sampai pantai. Ini (abrasi) yang paling parah terjadi,” ungkapnya.

Cerita yang dituturkan ini adalah yang terekam di ingatannya dalam lima tahun terakhir.

Ia masih punya kisah yang jauh lebih menciutkan nyali jika mengingat kondisi pantai belasan hingga puluhan tahun yang silam.

“Dulu di sini tanah lapang, kita harus jalan jauh ke tengah baru menemukan pantainya,” ungkapnya.

Namun bagi Selamet dan warga lainnya tak penting lagi merindukan tanah lapang yang sudah berubah jadi lautan itu.

Saat ini yang jauh lebih menyita pikiran mereka bagaimana mencegah abrasi terus meluas.

Cukup sudah abrasi ini ‘menelan’ sedikit demi-sedikit Kota Mataram dari kawasan pesisir.

“Bagaimana caranya agar kami bisa selamat?” ucapnya masygul.

Sementara itu, berdasarkan hasil kajian Arsyah Hutasuhut dari Universitas Brawijaya Malang, sarjana ilmu kelautan itu mendapati beberapa fakta menarik terkait abrasi di pantai Ampenan.

Dalam langkah penelitiannya ia membagi pantai Ampenan dalam 4 stasiun A, B, C, dan D.

Stasiun A dideskripsikan dari muara sungai Meninting sampai persawahan; stasiun B persawahan dan pemukiman warga; stasiun C pemukiman warga; dan stasiun D dari pemukiman warga sampai muara sungai Jangkuk.

Dalam rentang pengukuran perubahan surut garis pantai (baca: abrasi) untuk tahun 1998-2008 dengan menggunakan metode perhitungan NSM (Net Shoreline Movement) didapati abrasi paling pendek terjadi pada stasiun D.

“Dengan jarak kemunduran garis pantainya sebesar -1,28 meter/tahun,” katanya seperti dikutip dari hasil penelitian yang diterbitkan tahun 2019.

Sedangkan yang paling panjang abrasinya adalah stasiun A dengan kemunduran garis pantai -3,06 meter/tahun.

Disusul kedua stasiun B sebesar -2,35 meter/tahun, dan stasiun C -1,41 meter/tahun.

Padahal bila dicermati dari tinggi gelombang laut, stasiun B memiliki gelombang tertinggi mencapai 1,36 meter.

Di urutan kedua stasiun D memiliki tinggi gelombang 1,32 meter.

Disusul stasiun C memiliki ketinggian gelombang 1,27 meter.

Tapi uniknya stasiun A yang mengalami abrasi tertinggi ketinggian gelombangnya ‘hanya’ 1,14 meter.

Dari sisi kedalaman pantai pun, terjadi anomali. Di mana stasiun A relatif yang paling dangkal. Kedalamannya ‘hanya’ 1,27 meter.

Sedangkan stasiun D yang mengalami abrasi paling lambat memiliki kedalaman pantai mencapai 1,34 meter.

“Data kemiringan pantai diukur saat air laut sedang surut,” tulisnya.

Salah satu alasan yang mendekati penyebab terjadinya abrasi masif di stasiun A adalah tipe sedimen pasirnya.

Di sini diketahui jenis pasir sedang sebanyak 58,08 persen dengan ukuran butir 0,25-0,5 mm. Sedangkan di stasiun D jumlah pasir sedang sebanyak 64,44 persen.

Namun yang menarik, catatan berikutnya mengenai prediksi abrasi yang akan terjadi ke depan.

Arsyah memprediksi yang akan terjadi pada tahun 2039 atau 20 tahun lagi dari peneilitian itu dibuat.

Ia memperkirakan justru stasiun D yang akan mengalami abrasi secara masif.

Hal ini didasari dari perhitungannya berdasarkan rumus Manhor yang mendasari penyebab abrasi masif berdasarkan sifat gelombang (tinggi, kedalaman, dan jenis sedimen pasir).

Jika sebelumnya stasiun A yang masif alami abrasi, maka selanjutnya stasiun C yang akan mengalami abrasi besar-besar.

Salah satunya sebagai akibat penyeimbangan garis pantai yang telah berubah jadi bagian dari lautan.

Di stasiun A di tahun 2039 abrasi pantai mencapai -179,49 meter; stasiun B abrasi mencapai -291,21 meter; stasiun D mencapai -213,77 meter.

“(Sedangkan) stasiun C -505,44 meter,” tulisnya.

Mencermati kembali stasiun C dari peta sampel yang digunakan Arsyah merupakan kawasan yang diklasifikasikan sepenuhnya sebagai pemukiman warga.

Dan di peta kawasan ini diperjelas sebagai pemukiman pesisir Bintaro. (zad/r3)

Editor : Kimda Farida
#pesisir #Bintaro #Bugis #Ampenan #Fondasi #Abrasi #Gelombang #kampung