LombokPost-Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram siap mendukung adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan diuji cobakan pada pekan depan di Mataram. Salah satu yang menjadi atensi Dikes Kota Mataram adalah kewaspadaan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) pada saat pelaksanaan MBG nanti.
“Selain aspek gizi dalam program MBG, keamanan pangan olahan siap saji merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan,” kata dr Emirald Isfihan, kepada Lombok Post.
dr.Emirald mengatakan, makanan yang disiapkan harus aman untuk dikonsumsi. Sehingga harus dilakukan upaya pengamanan dan pencegahan agar tidak terjadi kontaminasi di sepanjang rantai pengelolaan pangan tersebut. Adanya penyiapan pangan olahan siap saji dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu bersamaan, maka risiko keamanan pangan yang akan ditimbulkan juga besar.
“Kita lebih tekankan pengawasan dari hulunya yaitu mulai dari dapur, proses pwnyimpanan bahan makanan, proses pengolahan, sumber air bersihnya, kesehatan karyawan, proses penyajian yg higienis sampai distribusi,” terangnya.
Karena berdasarkan data tahun 2024 di Kementerian Kesehatan terdapat 304 Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan dengan 11.213 kasus, serta 15 kematian (Case Fatality Rate 0,13%). Sebanyak 52.4% KLB Keracunan Pangan bersumber dari Rumah Tangga dan 15.7% bersumber dari Jasa Boga.
Hasil investigasi yang dilakukan menunjukkan bahwa proses pengelolaan pangan yang tidak memenuhi persyaratan higiene sanitasi menjadi salah satu faktor penyebab utama.
“Ya berlaku standarnya laik/layak higienes. Sesuai dengan edaran dari Kemenkes. Itu tupoksi dinas kesehatan,” terangnya.
Dengan itu, Dikes Kota Mataram sudah memiliki tim gerak cepat (TGC) untuk menangani dan melaporkan melalui sistem yang sudah ada di Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Jika sewaktu nanti ada pelanggaran atau kasus kejadian keracunan diluar dari perkiraan program MBG.
“Ya benar, untuk prosedur itu nanti masuk dalam ranah penanganan kita. Makanya kita fokus di upaya pencegahan berupa pembinaan dan pengawasan di dapurnya agar mengurangi risiko keracunan dan sebagainya. Tapi untuk sanksi kewenangan ada di badan gizi,” ungkapnya.
Terkait dengan waktu pengawasan di lokasi distribusi makanan tidak dilakukan tiap harinya. Dikes Kota Mataram, akan meminta 3 dapur yang disiqpkan di Kota Mataram untuk MBG dapat memenuhi persyaratan layak higiennya.
“Jadi tidak setiap hari dicek, tapi kita pastikan mereka memenuhi persyaratan untuk kita keluarkan layak higienenya,” terangnya.
Lebih lanjut, MBG yang menjadi program prioritas nasional. Sasaran program ini adalah untuk meningkatkan status gizi pada anak sekolah/satuan pendidikan lainnya, ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Untuk siswa itu menjadi ranah Dinas Pendidikan, sedangkan untuk Dikes Kota Mataram telah menyasar 350 orang yang mendapatkan MBG terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kalau pembagian MBG pun menjadi ranahnya penyedia dan dinas pendidikan untuk siswa. Sedangkan untuk ibu hamil dan balita langsung dg posyandunya atau melalui kader.
“350 orang itu 10% dari total sasaran. Ini sasaran saya di dinas kesehatan,” ucapnya.
Mengenai menu, itu juga wewenang dari Badan Gizi. Namun, Dikes dapat merekomendasikan agar Badan Gizi bekerjasama dengan Persatuan Ahli Gizi (Persagi) untuk menentukan menu.
“Jadi program MBG ini murni dari badan gizi, kami di dinas hanya terlibat dalam pembinaan dan pengawasan saja serta memberikan data sasaran. Untuk hal lainnya wewenang di badan gizi,” tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Lalu Hamzi Fikri mengatakan pihaknya sudah mulai berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Badan BPOM dan meminta faskes untuk turut mengawasi program pusat tersebut. Dirinya memastikan bahwa jangan sampai ada Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti keracunan, diare, dan sebagainya.
“Balai POM akan mengambil sampel di titik lokasi pemberian makan bergizi gratis. Kemarin juga saya lihat di Loteng sudah ada simulasinya. Yang jelas Dinkes akan mengawal memfungsikan puskesmas,” jelasnya.
Juga meminta setiap puskesmas untuk menyiapkan petugas sanitarian yang akan berkoordinasi dengan layanan pemberi makan bergizi gratis termasuk pihak yang bekerja di dapur untuk memastikan hygiene dan sanitasi. (chi/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post