LombokPost-Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram mencatat pertumbuhan signifikan pada sektor usaha makanan.
Total ada 878 unit usaha terdaftar pada tahun 2024, berdasarkan data Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2024.
Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang substansial dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ya jadi yang naik itu usaha makanan ini, kafe-kafe, restoran kecil. Keliatan kok, di selatan itu banyak,” kata Kepala DPMPTSP Kota Mataram Amiruddin saat ditemui di kantornya Jumat, (10/1).
Amir menjelaskan, sektor klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) di industri kedai makanan pada 2023 ada 486, naik pada 2024 menjadi 878.
Sedangkan sektor produksi makanan lainnya pada 2023 ada 2.286 usaha. Sedangkan pada 2024 turun menjadi 942 usaha.
“Ini yang jualan kecil-kecil jual jajan, asongan. Ini yang banyak berkontribusi mengurangi NIB. Artinya secara kualitas naik, kuantitas turun. Tapi yang berdasarkan kualitas resikonya tinggi itu jauh lebih besar,” terangnya.
Selama Januari hingga Desember 2024, menerbitkan 7.477 Nomor Induk Berusaha (NIB).
Untuk berusaha melalui online single submission risk-bades approach (OSS RBA).
Angka tersebut terjadi penurunan jika dibandingkan dengan NIB tahun 2023 lalu yakni sebanyak 11.751 NIB.
“Secara total angka memang terjadi penurunan angka sekitar empat ribuan,” katanya.
Amir menjelaskan, meski adanya penurunan kuantitatif penerbitan NIB namun secara kualitas terjadi kenaikan kualitas di Kota Mataram.
Dalam artian, NIB yang berdasarkan resiko rendah atau memiliki modal dibawah Rp 1 miliar di 2023 dalam jumlah 15.094 sedangkan di 2024 ada sekitar 11.519.
Ini menunjukkan bahwa kualitas usaha di Kota Mataram meningkat.
“Ini kelihatan turunnya disini,” sebutnya.
Kemudian NIB dengan klasifikasi resiko menengah rendah atau dengan modal sekitar Rp.1 miliar sampai Rp.5 miliar, menengah tinggi dengan modal Rp.5 miliar sampai Rp 10 miliar, dan resiko tinggi dengan modal diatas Rp 10 miliar tidak terjadi perubahan secara signifikan.
“Seperti di menengah rendah itu di 2023 ada sekitar 1.514 dan di 2024 1.708. Sedangkan di menengah tinggi seperti apotek itu ada 2.354 di 2023 dan 2.292 di 2024. Dan beresiko tinggi seperti hotel dengan kamar diatas 100 itu ada 589 di 2023 dan 506 di 2024,” rincinya.
Menurutnya, untuk usaha mikro dengan resiko rendah pasti masih banyak yang belum memiliki NIB.
Dengan itu, jika pihaknya intens untuk turun ke lapangan, jumlah NIB dengan resiko rendah seharusnya ada diatas angka saat ini.
“Tidak cukup saya turun tiap tiga kali seminggu Senin, Selasa, Rabu, hanya 20 sampai 30 per hari,” akunya. (chi/r3)
Editor : Kimda Farida