Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mataram Maggot Center: Solusi Limbah dan Misi Swasembada Pakan di Kebon Talo (2-Habis)

nur cahaya • Jumat, 7 Maret 2025 | 10:21 WIB

 

PENUH LALAT: Petugas peternakan Maggot Hendra memperlihatkan maggot-maggot yang mulai tumbuh dewasa, Rabu (5/3). 
PENUH LALAT: Petugas peternakan Maggot Hendra memperlihatkan maggot-maggot yang mulai tumbuh dewasa, Rabu (5/3). 
 

Hendra memilih jalan, tak biasa dibanding kebanyakan rekan. Alih-alih bekerja di perkantoran, ia justru mengabdikan diri sebagai petugas pengembangan maggot di Mataram Maggot Center (MMC).

-----

BAGI sebagian orang, maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) mungkin dianggap menjijikkan. Namun bagi Hendra, maggot solusi berharga untuk mengolah sampah organik dan mewujudkan swasembada pakan berkelanjutan.

“Iya hampir saya setiap hari di sini,” tutur Hendra, saat memperkenalkan Lombok Post bagian demi bagian dari MMC.

Hendra ingin membuktikan, sampah tak semuanya limbah, tapi bila diolah dengan benar menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi tinggi. Ketertarikan Hendra pada keanekaragaman serangga sudah dimulai sejak di bangku kuliah.

Awalnya, ia bercita-cita menjadi peneliti atau tenaga pengajar. Namun, setelah mempelajari lebih dalam tentang peran ekologis maggot, ia melihat potensi besar dalam bidang ini.

“Maggot punya kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi,” ucapnya.

Ia kemudian terdorong bergabung dengan MMC dan ingin berkontribusi membantu persoalan ibu kota yang terus menerus menghadapi persoalan sampah. MMC menurutnya tempat yang tepat, sebuah pusat pengolahan sampah organik yang menggunakan maggot sebagai solusi utama.

Ia bertugas membantu mengembangkan metode budi daya maggot yang lebih efisien dan mengoptimalkan kualitas pakan yang dihasilkan. “Ini, nanti mau tangani penetasan lalatnya,” katanya menjelaskan salah satu tugasnya.

Sebagai seorang petugas pengembangan maggot, pekerjaan Hendra jauh dari kata mudah. Setiap hari, ia harus berhadapan dengan tumpukan sampah organik yang berbau menyengat, memastikan maggot tumbuh dengan optimal, serta mencari sumber sampah yang berkualitas untuk pakan larva.

“Sampah TPS hingga susu (supermarket) yang kedaluwarsa, kita tampung di sini untuk makanan maggot,” ucapnya.

MMC membutuhkan sekitar 2 hingga 3 ton sampah organik per hari untuk menghasilkan 100 kg maggot, yang nantinya digunakan sebagai pakan ikan, unggas, dan ternak lainnya. Namun, pasokan sampah organik yang ideal masih menjadi tantangan besar.

“Kami sering kesulitan mendapatkan sampah organik berkualitas karena masih banyak yang bercampur dengan plastik dan bahan non-organik lainnya,” terangnya.

Selain itu, Hendra dan tim juga harus bersaing dengan pihak lain yang juga mencari limbah organik untuk kebutuhan pakan ternak mereka. “Kadang-kadang, sebelum kami mendapatkan sampah dari pasar atau restoran, sudah lebih dulu diambil oleh peternak lain yang juga membutuhkan untuk pakan,” tuturnya.

Peternak yang dimaksud adalah peternak babi. Sampah-sampah pasar terutama yang mayoritas sayur-sayuran sangat dibutuhkan sebagai pakan hewan itu.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Hendra tetap optimis dan berkomitmen turut serta membantu MMC mewujudkan Kota Mataram yang mandiri dalam produksi pakan. Ia ingin melihat Mataram tidak lagi bergantung pada pakan impor.

“Dengan maggot, kita bisa memproduksi pakan berkualitas sendiri dari limbah yang ada di sekitar kita,” ujarnya penuh semangat.

Budi daya maggot tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga menjadi solusi bagi peternak lokal yang sering mengalami kenaikan harga pakan konvensional. “Kalau kita bisa memanfaatkan maggot secara optimal, peternak ikan dan unggas di Mataram bisa mendapatkan pakan yang lebih murah, berkualitas, dan berkelanjutan,” terangnya.

Selain fokus pada pengembangan maggot, Hendra aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Ia terlibat dalam kegiatan sosialisasi, baik kepada warga sekitar, pemilik restoran, maupun para pelaku usaha pasar tradisional.

Menurutnya yang terpenting mengubah cara pandang masyarakat. “Sampah organik bukan sesuatu yang harus dibuang begitu saja, tapi bisa dimanfaatkan untuk menciptakan produk bernilai ekonomi,” katanya.

Hendra berharap semakin banyak anak muda tertarik terjun ke dunia pengolahan sampah berbasis maggot, karena menurutnya, bidang ini memiliki potensi besar di masa depan. “Di era keberlanjutan seperti sekarang, kita butuh lebih banyak inovasi dalam pengelolaan limbah,” tekannya.

Ia menekankan bekerja di sektor ini bukan hanya soal mencari nafkah, namun juga berkontribusi bagi masyarakat. “Ya, saya betah dan menikmati pekerjaan ini,” tekannya.

Direktur MMC Kamarudin, mengatakan, MMC memiliki peran penting dalam mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 3 ton per hari, terutama sampah organik, yang mayoritas berasal dari sisa makanan rumah tangga, restoran, dan pasar. Namun, saat ini MMC hanya mampu mendapatkan sekitar 2 hingga 2,5 ton sampah per hari.

Keterbatasan ini disebabkan oleh beberapa faktor cuaca yang memengaruhi produksi sampah organik; kualitas sampah yang kurang baik; dan persaingan dengan pihak lain, seperti peternak yang juga memanfaatkan sisa makanan untuk pakan ternak mereka.

MMC saat ini memiliki 60 biopond atau kotak budidaya, masing-masing berukuran 2x1 meter. Di Kebon Talo, seluruh proses mulai dari pembibitan lalat BSF, pembiakan maggot, hingga panen dilakukan dalam satu tempat.

“Ada burung liar yang masuk tapi tidak memakan maggot yang dimakan lalatnya,” ucapnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)

Editor : Jelo Sangaji
#pengembangan #maggot #produk #usaha #penetasan #organik #efisien #Pangan