Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cabai Masih Mahal, Operasi Pasar Digelar Dua Kali Sehari

nur cahaya • Rabu, 12 Maret 2025 | 09:15 WIB

 

MASIH MAHAL: Seorang pedagang di pasar Kebon Roek sedang melayani pembelinya, Selasa (11/3). 
MASIH MAHAL: Seorang pedagang di pasar Kebon Roek sedang melayani pembelinya, Selasa (11/3). 
 

 

LombokPost-Upaya menurunkan harga cabai di Kota Mataram telah dilakukan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram. Namun, dampaknya belum terasa.

Kepala Bidang Bahan Pokok Penting (Bapokting) Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida mengatakan, harga cabai di pasar induk masih berada di angka Rp 100 ribu per kilogram, sementara di pasar lainnya, berkisar Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram.

”Ini harga cabai lokal, termasuk yang jenis Baskara,” kata Nida. 

Harga cabai juga dipengaruhi jumlah stok di pasaran. Nida menyebut, di pasar induk stoknya hanya ada sekitar 700 kilogram dari biasanya 2 ton per minggu. ”Ini menunjukkan pedagang masih berhati-hati dalam mengambil stok karena pasokan yang tidak stabil,” ujarnya.

Masih tingginya harga cabai, membuat Disdag Kota Mataram meningkatkan operasi pasar. Dalam kegiatan tersebut, Disdag menyediakan cabai dengan harga terjangkau, berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu.

Operasi pasar dilakukan setiap hari. Dua kali sehari hingga menjelang Idul Fitri. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan cabai bagi masyarakat.

"Operasi pasar akan terus kami lakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang hari raya,” jelasnya. 

Selain cabai, harga telur juga menjadi perhatian. Saat ini, harga telur di pasaran mencapai sekitar Rp 60 ribu per tray. Namun, melalui operasi pasar, Disdag Kota Mataram menekan harga menjadi Rp 48 ribu hingga Rp 50 ribu per tray.

”Distributor menyediakan 250 hingga 300 tray telur per titik operasi pasar, dan tidak ada pembatasan pembelian bagi masyarakat," katanya. 

Sementara itu, untuk MinyaKita, Disdag Kota Mataram memberlakukan pembatasan pembelian agar semua masyarakat dapat memperolehnya. Sebanyak 50 kardus MinyaKita disediakan per titik operasi pasar, dan minyak goreng kemasan ini sangat diminati karena harganya yang paling terjangkau.

"MinyaKita sangat laku karena harganya yang paling murah, sehingga kami perlu membatasi pembelian agar semua masyarakat kebagian,” tandasnya. (chi/r7)

Editor : Akbar Sirinawa
#bahan pokok #disdag #pembelian #Cabai #stabilitas #Mataram #Ketersediaan