Meski berada dalam kondisi alam yang tidak prima akibat abrasi pantai yang semakin parah, ratusan pengunjung memadati kawasan ini dalam empat hari terakhir.
Dari pantauan langsung di lokasi, terlihat kunjungan wisatawan dari berbagai penjuru Pulau Lombok datang silih berganti.
Anak-anak tampak berlarian di pasir hitam yang perlahan tergerus ombak, sementara para orang tua duduk bersantai, berbincang, atau sekadar menikmati semilir angin laut.
Sebagian pengunjung bahkan datang membawa bekal dan menggelar tikar, menjadikan Pantai Gading sebagai ruang berkumpul keluarga yang hangat.
Antusiasme Tak Surut Meski Alam Terkikis
Fa’at, salah satu penjual cilok ditemui di lokasi, mengaku tidak menyangka pantai akan seramai ini.
“Empat hari terakhir, ramai terus. Mungkin karena libur panjang, banyak orang ingin cari suasana segar, walaupun pantainya rusak karena abrasi,” ujarnya sambil menunjuk ke bagian pantai yang telah longsor beberapa meter dibanding tahun lalu, Sabtu (5/4/2025).
Kerusakan akibat abrasi tampak jelas di beberapa titik.
Pohon-pohon di tepi pantai mulai miring, sebagian akarnya sudah terekspos akibat gerusan ombak yang datang tanpa henti.
Namun kondisi ini tampaknya tidak cukup menjadi penghalang.
Pengunjung tetap datang, bahkan cenderung bertambah, terutama di siang dan sore hari.
Kawasan ini menjadi favorit bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena lokasinya yang strategis dan mudah dijangkau dari pusat Kota Mataram.
Tak heran jika pengunjungnya datang dari berbagai tempat, seperti Ampenan, Cakranegara, hingga dari luar kota seperti Lombok Barat dan Lombok Tengah.
Pokdarwis Hadir, Petugas Resmi Absen
Kehadiran ratusan pengunjung tentu menuntut pengelolaan yang lebih baik.
Namun yang terlihat berjaga di lokasi hanyalah para relawan dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) setempat.
Mereka menjaga area pantai sebisanya — dari mengatur lalu lintas kendaraan hingga mengingatkan pengunjung untuk tidak berenang terlalu jauh.
Sayangnya, tidak terlihat satu pun petugas resmi penjaga pantai dari pemerintah kota atau dinas pariwisata yang hadir untuk mendukung kelancaran aktivitas wisata ini.
Tidak ada pos pengawasan, tidak ada peralatan keselamatan laut, bahkan tidak ada imbauan tertulis soal batas aman berenang.
Hal ini tentu menjadi catatan serius, mengingat potensi bahaya di wilayah pantai yang mengalami abrasi.
Dilema Wisata Alami yang Terbengkalai
Fenomena yang terjadi di Pantai Gading mencerminkan dilema umum di banyak kawasan wisata alami di Indonesia: potensi besar tetapi tidak didukung oleh pengelolaan yang memadai.
Di satu sisi, masyarakat haus akan ruang rekreasi murah meriah yang mudah diakses.
Di sisi lain, pemerintah kerap tertinggal dalam merespons kebutuhan infrastruktur, keselamatan, dan konservasi lingkungan.
Abrasi yang terjadi di Pantai Gading bukanlah hal baru. Setiap tahun, garis pantai terus menipis.
Bila tidak ada intervensi nyata, dalam beberapa tahun ke depan bisa jadi area ini akan hilang sama sekali.
Terlebih lagi, ketidakhadiran otoritas dalam momen-momen ramai seperti ini berisiko menimbulkan insiden yang tidak diinginkan.
Harapan dari Pesisir
Meski dengan segala keterbatasan dan kondisi lingkungan yang mengkhawatirkan, Pantai Gading tetap menunjukkan pesonanya.
Bukan hanya karena keindahan lautnya, tetapi karena interaksi sosial yang tumbuh di antara pengunjung, warga, dan relawan yang mencoba menjaga semangat gotong royong tetap menyala.
“Selama masih ada yang mau datang, kita harus terus jaga,” ucap Fa’at. (zad)