Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TPAR Ditutup, Mataram Kelimpungan Sampah, Solusi Jangka Pendek Manfaatkan Insinerator RS Ruslan

nur cahaya • Selasa, 22 April 2025 | 09:14 WIB

 

MENUMPUK: Tumpukan sampah yang ada di pembuangan Kebon Talo, Minggu (20/4). 
MENUMPUK: Tumpukan sampah yang ada di pembuangan Kebon Talo, Minggu (20/4). 
 

LombokPost-Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, menyusul pembatasan pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok.

Kondisi ini mendorong Wali Kota Mataram Mohan Roliskana meminta bantuan dari Pemerintah Provinsi NTB untuk mengatasi potensi krisis yang berdampak pada Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.

“Saya minta pemprov juga bantu,” kata Wali Kota Mohan Roliskana.

Mohan menegaskan, pembatasan akses ke TPAR Kebon Kongok yang belum diketahui batas waktunya, akan memberikan tekanan besar pada sistem pengelolaan sampah di dua wilayah tersebut.

Mengantisipasi kondisi darurat itu, Pemkot Mataram bergerak cepat mencari solusi alternatif.

Mohan menyampaikan bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan Pemkab Lombok Barat untuk memanfaatkan lahan di wilayah tersebut sebagai tempat pembuangan sementara. Namun, ia tidak menyebutkan secara rinci lokasi lahan yang dimaksud.

“Tentu nanti ada kompensasi-kompensasi yang diwajibkan ke Pemkot,” jelasnya.

Photo
Photo

Selain mencari lahan alternatif, Pemkot juga berupaya memaksimalkan infrastruktur yang tersedia, salah satunya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya.

Pemanfaatan mesin insinerator milik Rumah Sakit (RS) Ruslan menjadi salah satu langkah yang diambil.

Mesin itu, yang sebelumnya digunakan untuk limbah medis dan kini tidak terpakai, rencananya akan dipasang di area TPST Sandubaya lama untuk membakar sampah.

“Semoga mesin insinerator tersebut bisa mengatasi sementara masalah sampah sampai sekitar enam bulan ke depan atau setelah TPA Kebon Kongok kembali aktif,” harapnya.

Mohan menyebut, pemanfaatan insinerator eks limbah medis itu sebagai solusi jangka pendek untuk mencegah penumpukan sampah di Kota Mataram selama masa penutupan TPAR Kebon Kongok.

“Pemanfaatan mesin insinerator milik RS Ruslan itu menjadi satu solusi jangka pendek yang kami lakukan untuk menghindari tumpukan sampah selama penutupan TPA Kebon Kongok,” jelasnya.

Senada dengan wali kota, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi menyoroti pentingnya realisasi proyek TPST Kebon Talo sebagai solusi jangka panjang pengelolaan sampah di Kota Mataram.

Ia mengatakan, TPST Kebon Talo dirancang dilengkapi insinerator yang mampu mengurangi volume sampah secara signifikan.

“Ya kalau sesuai rencana kita, tahun ini sudah mulai tender harusnya,” ungkapnya.

Namun hingga kini, proyek TPST Kebon Talo masih menunggu kepastian dari pemerintah pusat.

Denny menjelaskan, dengan adanya insinerator di fasilitas itu, tidak akan ada lagi residu sampah yang dibuang ke TPA.

“Itu kan kami mengolah sampah di situ. Kami minta ada insinerator, jadi tidak ada sampah yang tersisa,” tandasnya. (chi/r7)

Editor : Kimda Farida
#sampah #tpst #insinerator #Mataram #NTB #kebon kongok