LombokPost-Saban pagi, sore, bahkan malam geliat olah raga terlihat di beberapa sudut Kota Mataram.
Namun sektor ini rupanya belum tergarap optimal sebagai pundi-pundi pendapatan asli daerah.
Ada yang jogging, sekelompok anak muda bermain basket, hingga atlet yang rutin berlatih di Mataram Water Park (MWP).
Namun geliat itu belum cukup menggoyang grafik pendapatan asli daerah (PAD) Kota Mataram.
Meski fasilitas olahraga di ibu kota provinsi ini cukup banyak, kontribusinya terhadap PAD nyaris tak terdengar gaungnya. Apa masalahnya?
Baca Juga: Ayo Daftar, Bank NTB Syariah Cari 12 Calon Direksi dan Komisaris
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Mataram Soehartono Toemiran mengakui hal ini.
“Lapangan kita banyak. Tapi apa ada yang sudah bikin exciting? Yang bikin orang datang terus, ramai, berputar, kita perlu kelola fasilitas ini lagi agar lebih maksimal,” ujarnya saat ditemui, Selasa (22/4).
Ia menyebut, Kota Mataram sejatinya tidak kekurangan infrastruktur.
“Kita punya MWP, Lapangan Selagalas, lapangan sepak bola juga ada. Tapi ya itu, belum jadi magnet ekonomi,” terangnya.
Fasilitas ada, namun pemkot dinilai belum menunjukkan keseriusan untuk berinvestasi jangka panjang di sektor ini.
“Ya kalau kita bicara investasi jangka panjang, sektor olahraga tempatnya. Kalau kita membangun sekarang, tentu ini buat generasi yang akan datang,” paparnya.
Soehartono mengungkapkan, upaya membangun fondasi investasi jangka panjang—baik dari sisi pendataan potensi maupun membentuk gaya hidup masyarakat—terus diupayakan.
Meskipun ia tidak menampik, keterbatasan anggaran masih menjadi masalah klasik yang dihadapi, tak hanya oleh Dispora, tapi juga OPD lainnya.
“Ketika kami ditargetkan agar MWP tahun kemarin bisa menghasilkan retribusi Rp 10 juta/tahun, alhamdulillah kami bisa melampauinya,” ucapnya.
Ia menilai, keterbatasan sumber daya tidak menjadi alasan untuk tidak mencapai target. Kuncinya ada pada keseriusan dan niat membangun tata kelola yang profesional.
“Tahun ini target MWP naik menjadi Rp 15 juta/tahun, kami optimis bisa mencapainya,” tegasnya.
Menurutnya, sejumlah aset olahraga sangat potensial menjadi sumber PAD yang menjanjikan.
Namun semua aset itu butuh dipoles agar mengundang minat banyak orang.
Ia menegaskan, banyak kota besar bahkan kabupaten di Indonesia sudah mulai menjadikan sektor olahraga sebagai lokomotif PAD.
Di kota-kota seperti Bandung, Surabaya, hingga Makassar, fasilitas olahraga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sekaligus ladang ekonomi.
Baca Juga: Hubungi LPA, Begini Perintah Gubernur Iqbal Terkait Pelecehan Seksual Walid Lombok
Dari penyewaan lapangan, sponsorship event, hingga UMKM yang menggantungkan hidup dari keramaian penonton.
Kota Mataram sebenarnya sudah memulai langkah serupa. Dispora menggagas pembangunan sport center yang ramah masyarakat.
“Ada rencana membangun pusat kebugaran, kolam renang yang bisa beroperasi sampai malam, bahkan ruang olahraga multifungsi,” terangnya.
Namun semua rencana itu masih sebatas di atas kertas.
“Kalau ada support (target berapa pun), tentu kami harus menyampaikan kesiapan diri (mencapai target baru),” tekannya.
Situasi ini menjadi ironi, mengingat Kota Mataram—seperti daerah lain—tengah menghadapi tekanan fiskal yang cukup besar.
Pendapatan daerah menurun, sementara belanja rutin, pembangunan, dan pelayanan publik tak bisa ditunda.
Sektor parkir yang selama ini jadi andalan retribusi belum mampu menembus target.
Pungutan liar masih terjadi, pengawasan lemah, dan sistem digitalisasi parkir belum berjalan maksimal.
Baca Juga: Semangat Hari Kartini, Wagub NTB: Perempuan Bukan Sekadar Pelengkap
Sementara itu, dana transfer dari pusat seperti Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai mengalami penyesuaian dan pemotongan akibat kebijakan fiskal nasional.
Dalam situasi ini, sektor olahraga sebenarnya bisa menjadi napas segar.
Ruang baru untuk pemasukan yang sehat, terukur, dan berkelanjutan.
Namun selama belum dikelola dengan orientasi sosial bisnis, yang menggabungkan pembinaan atlet dan ekonomi rakyat, potensi ini akan terus menguap seperti embun pagi.
“Kalau sektor olahraga ini dikelola profesional, bukan mustahil bisa seperti parkir bandara. Pakai sistem, ada kartu, ada perhitungan. Bisa diukur. Tapi ya itu tadi, harus mau investasi dulu,” tekannya.
Sejauh ini, belum ada sinergi lintas dinas yang solid untuk menjadikan olahraga sebagai ekosistem ekonomi.
Dinas Pariwisata belum sepenuhnya menggandeng Dispora untuk menyatukan event olahraga dengan atraksi wisata.
Dinas Perhubungan belum optimal dalam mendukung akses dan parkir fasilitas olahraga. Promosi digital pun masih minim, karena belum ada manajemen konten lintas sektor.
Padahal dunia tengah bergerak ke arah sana. Sport tourism berkembang pesat.
Gaya hidup sehat menjadi tren.
Kota-kota besar berlomba-lomba menjadikan stadion, taman, hingga sirkuit balap sebagai magnet ekonomi.
Sebagai kota yang dikenal dengan tradisi, budaya, dan semangat sportivitas, Mataram punya modal sosial yang kuat.
Namun tanpa kebijakan yang berpihak, keberanian berinvestasi, serta manajemen fasilitas yang profesional dan terbuka, potensi ini akan tetap jadi mimpi di atas proposal.
Sudah saatnya melihat olahraga bukan hanya sebagai kegiatan fisik, tetapi sebagai investasi nilai.
Untuk kesehatan warga, citra kota, dan sumber pendapatan daerah yang sehat dan membanggakan.
Salah satu fasilitas yang mulai menarik perhatian masyarakat dan atlet adalah MWP.
Koordinator MWP Damhuri menuturkan, sejumlah klub renang rutin memanfaatkan fasilitas tersebut untuk latihan.
“Kalau atlet sih rutin. Ada sekitar dua sampai tiga klub yang datang seminggu dua kali. Tapi masyarakat umum belum seintens atlet,” katanya.
Kendala utamanya, kolam di MWP dirancang untuk atlet profesional.
“Kolam ini kan dalam, panjang juga. Cocoknya buat atlet. Yang umum kadang takut. Sosialisasi juga masih kurang,” tambahnya.
Dalam sepekan, jumlah pengunjung berkisar puluhan orang. Tarif masuk Rp10 ribu per orang.
Sementara itu, tenaga operasional di MWP masih sangat terbatas.
“Pegawai tiga orang. Saya harus muter tenaga setiap hari, bahkan kadang hari Minggu saya panggil masuk karena butuh bersihkan kolam,” ujar Damhuri. (zad/r7)
Editor : Kimda Farida