LombokPost - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram mengambil langkah proaktif menjaga stabilitas harga bahan pokok (bapok) menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah.
Mengantisipasi lonjakan permintaan masyarakat, Disdag akan menggelar pasar rakyat selama enam hari berturut-turut di enam kecamatan berbeda.
Hukum ekonomi sederhana berlaku, saat permintaan meningkat dan pasokan terbatas, maka harga cenderung naik.
Karena itu, kehadiran pasar rakyat diharapkan menjadi penyeimbang.
“Kita tentu lakukan antisipasi, akan ada pasar rakyat nanti menjelang Idul Adha,” kata Plt Kepala Disdag Kota Mataram Lalu Martawang.
Martawang mengatakan, kegiatan ini bukan sekadar ajang belanja murah, tetapi juga intervensi strategis untuk menstabilkan harga yang kerap melonjak menjelang hari besar keagamaan.
Ia menjelaskan, pasar rakyat akan berlangsung mulai Senin, 2 Juni hingga Kamis, 12 Juni 2025.
Setiap kecamatan mendapat jatah satu hari pelaksanaan untuk memastikan pemerataan akses bagi seluruh warga.
“Untuk itu, kami berupaya menghadirkan keseimbangan melalui pasar rakyat. Dengan adanya distribusi kebutuhan pokok secara langsung ke masyarakat di tiap kecamatan, diharapkan harga tetap stabil dan terjangkau,” ujar Martawang.
Ia menegaskan, pasar rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menghadapi dinamika pasar yang cenderung mengarah pada inflasi musiman, terutama menjelang Idul Adha.
Barang-barang yang dijual mencakup kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, telur, daging, dan komoditas penting lainnya.
Kegiatan ini didukung oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, distributor resmi, serta Bulog yang turut menyediakan pasokan barang.
“Selain menstabilkan harga, kegiatan ini memberi ruang kepada masyarakat untuk mengakses bahan pangan berkualitas tanpa harus terbebani oleh harga yang melonjak,” pungkas Martawang.
Pasar rakyat akan digelar di enam lokasi berbeda.
Pada Senin, 2 Juni berlangsung di halaman Kantor Lurah Pejeruk, Kecamatan Ampenan.
Selasa, 3 Juni di halaman Kantor Lurah Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela.
Kemudian, Rabu, 4 Juni di halaman Kantor Lurah Kebun Sari, Kecamatan Ampenan.
Kamis, 5 Juni di Jalan Candi Pawon Getap Barat, tepatnya di depan masjid, Kelurahan Cakra Selatan Baru, Kecamatan Cakranegara.
Selanjutnya pada Rabu, 11 Juni di halaman Kantor Lurah Pagesangan Barat, Kecamatan Mataram.
Terakhir, Kamis, 12 Juni berlangsung di Kantor Lurah Babakan, Kecamatan Sandubaya.
Dengan adanya pasar rakyat ini, Pemkot Mataram berharap masyarakat lebih mudah memenuhi kebutuhan pokok menjelang Idul Adha, sekaligus menjaga daya beli dan menekan potensi inflasi.
Terpisah, Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida mengatakan, harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Mataram masih relatif stabil.
Namun, beberapa komoditas menunjukkan fluktuasi, dengan harga daging sapi menjadi perhatian utama.
“Alhamdulillah masih relatif stabil harga jelang Idul Adha, harga cabai saja sekarang mau mendekati harga normal,” ujarnya.
Harga komoditas yang dinilai stabil di antaranya beras medium Rp 13.000 per kilogram, beras premium Rp 15.000, gula pasir curah Rp 18.000, gula pasir kemasan Rp 19.000, cabai rawit Rp 28.000, cabai merah besar Rp 18.000, cabai merah keriting Rp 20.000, tomat Rp 16.000, bawang merah Rp 25.000, dan bawang putih impor Rp 30.000 per kilogram.
Nida mengungkapkan, harga telur ayam menunjukkan tren penurunan. Saat ini, harga telur ayam ukuran besar berada di kisaran Rp 58.000 per tray isi 30 butir, turun dari sebelumnya yang sempat di atas Rp 60.000.
Namun, tidak semua komoditas mengalami tren positif. Harga daging ayam broiler masih fluktuatif, berkisar Rp 36.000 hingga Rp 38.000 per kilogram, masih di atas harga normal sekitar Rp 32.000.
“Kondisi ini masih bisa berubah seiring dengan mendekatnya hari raya,” jelasnya.
Perhatian utama Disdag tertuju pada harga daging sapi segar.
Dalam sepekan terakhir, harga daging sapi segar naik dari harga normal Rp 125.000 per kilogram menjadi Rp 130.000 hingga Rp 140.000.
Menurut Sri Wahyunida, kenaikan ini dipicu oleh berkurangnya jumlah pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan (RPH).
“Banyak jagal memilih untuk tidak memotong sapi karena permintaan hewan kurban hidup mulai meningkat,” pungkasnya. (chi/r7)
Editor : Rury Anjas Andita