Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bincang Kiprah Mafindo NTB Melawan Hoaks dan Kekerasan Siber, Fokus Perempuan, Kekerasan Digital, dan Dialog

Lombok Post Online • Kamis, 12 Juni 2025 | 15:05 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Era digital membuat kekerasan menyebar begitu cepat. Bahkan tanpa kita sadari, pelakunya bisa saja orang tua kita sendiri.

NURLIYA N. Rohmah, ManagerPartnership sekaligus Koordinator Regional NTB untuk Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), terlihat menggebu berkisah. Bagaimana ia dan puluhan lawan lainnya, menghadapi kerasnya badai hoaks di era digital ini.

Setiap pernyataannya, terdengar lugas tapi menohok. Nurliya membuka banyak hal: mulai dari akar misinformasi, peran kaum perempuan, hingga tantangan besar edukasi digital di Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga: SI GESIT: Inovasi Digital Penanaman Karakter Anak Melalui Google Site

Mafindo bukan organisasi baru. Berdiri di Yogyakarta sebagai organisasi nirlaba, jaringan mereka kini telah tersebar di 44 wilayah di Indonesia.

"Di NTB sendiri, Mafindo baru satu yang berdiri, sekretariat kita ada di Terong Tawah (Lombok Barat). Dan meskipun kami baru satu cabang di NTB, tapi relawan aktif ada sekitar 20 orang. Lebih dari 60 persen di antaranya adalah perempuan," tutur Nurliya, pada Lombok Post, Rabu (11/6).

Dasar gerakan Mafindo adalah relawan. Secara nasional, ada sekitar 1.400 relawan yang menjadi tulang punggung penyebar literasi digital.

Baca Juga: Meta AI Siap Ubah Dunia Iklan Digital: Iklan Dibuat Otomatis, Agensi Terancam

Mereka aktif menyasar kelompok rentan yang kerap jadi sasaran (bahkan pelaku tanpa sadar) penyebaran hoaks.

“Salah satu program unggulan kami tahun lalu adalah Akademi Digital Lansia,” tuturnya.

Nurliya mengatakan para lansia, khususnya generasi babyboomer, sering kali menjadi penyebar hoaks tanpa menyadari dampaknya.

Baca Juga: Microsoft Resmi Hadirkan Cloud Region Pertama di Indonesia, Targetkan 1 Juta Talenta Digital

"Bukan karena jahat, bukan karena ingin mencelakai siapa-siapa. Tapi karena tidak tahu. Mereka hanya meneruskan informasi yang dianggap benar," jelasnya.

Hoaks seputar isu politik, kesehatan, hingga agama banyak berseliweran di grup WhatsApp keluarga. Program ini bertujuan membekali lansia dengan kemampuan menyaring informasi, mengenali tanda-tanda misinformasi, dan melaporkannya.

Di sisi lain, Mafindo NTB juga aktif mendampingi perempuan. Apalagi dalam konteks literasi digital berbasis gender dan isu Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) yang makin marak.

“Perempuan sering kali jadi korban. Entah itu doxing, penyebaran foto pribadi, sampai ancaman siber. Di akhir peran kami dalam membuka ruang dialog, pelatihan, hingga pendampingan perempuan,” ujar Nurliya.

Baca Juga: Dorong Terciptanya Iklim Keterbukaan dan Kreativitas Informasi Digital Melalui Media Sosial

Dalam kerangka Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan, Mafindo mengambil dua ranah utama: pencegahan dan partisipasi. “Kami memfasilitasi perempuan untuk bisa menjadi pelaku perubahan. Menjadi fasilitator, edukator, bahkan penggerak di komunitasnya,” tambahnya.

Untuk tahun 2025, Mafindo telah menyiapkan strategi baru: edukasi AI. Dalam pandangan Nurliya, tantangan literasi kini semakin kompleks.

Bukan hanya hoaks konvensional, tapi juga hoaks yang diproduksi oleh teknologi kecerdasan buatan.

ManagerPartnership sekaligus Koordinator Regional NTB Nurliya N. Rohmah bercerita kiprah dan kegiatan Mafindo di NTB
ManagerPartnership sekaligus Koordinator Regional NTB Nurliya N. Rohmah bercerita kiprah dan kegiatan Mafindo di NTB

“Kita mulai menyasar isu-isu yang lebih futuristik, seperti deepfake, chat bot hoaks, dan algoritma penyebaran kebencian. AI bisa dipakai untuk kebaikan, tapi juga bisa jadi alat penyesat,” katanya.

Satu hal yang juga menjadi sorotan adalah lambannya pemerintah dalam merespons urgensi keterlibatan perempuan dalam menangkal ekstremisme digital.

“Sejak 2022 kita sudah berjejaring dengan UNICEF untuk mendorong berbagai upaya pencegahan bahaya teknologi,” tutur Nurliya.

Baca Juga: Sosialisasi Penegasan Status Kewarganegaraan Secara Elektronik Dorong Literasi Digital Warga

Di tengah derasnya arus informasi, Mafindo NTB berdiri sebagai penjernih. Mereka hanya sekedar melawan hoaks, tapi juga menyentuh akar-akar ketimpangan digital: dari ketidaktahuan, ketimpangan gender, hingga tantangan teknologi terkini.

 “Literasi adalah vaksin. Dan kami berusaha mempertahankannya sebelum racun hoaks menyebar lebih jauh,” tutupnya.  (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)

Editor : Kimda Farida
#digital #siber #Hoaks #Kekerasan #NTB