Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rafli Aqilasyach, Anak Pondok yang Jadi Putra Pendidikan NTB, Bawa Misi Besar Memutus Rantai Pernikahan Anak

Lombok Post Online • Selasa, 17 Juni 2025 | 16:02 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Berawal dari unggahan di media sosial yang nyaris terlewat, Rafli Aqilasyach, santri asal Sumbawa Barat, menjelma menjadi Putra Pendidikan NTB.

Tekad, keberanian, dan kepeduliannya terhadap isu pernikahan anak membawanya meniti peran sebagai duta perubahan di tengah tantangan pendidikan daerah 3T.

Kisah inspiratif datang dari seorang pemuda asal Sumbawa Barat, Rafli Aqilasyach.

Saat masih disibukkan dengan persiapan kelulusan di Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram, ia mendapat informasi tentang ajang Duta Pendidikan NTB.

Informasi itu datang sebulan setelah pendaftaran dibuka.

Tak disangka, jalan hidupnya justru mengantarkannya meraih gelar bergengsi, yakni Putra Pendidikan NTB.

Saat itu, Rafli sedang fokus menyelesaikan pendidikannya di pondok.

Ia pertama kali melihat unggahan terkait Duta Pendidikan NTB di media sosial.

Tanpa berpikir panjang, unggahan itu ia simpan.

Sebuah isyarat kecil dari takdir, yang kelak akan ia genggam erat.

Ketika masa libur tiba, rasa penasaran mendorongnya membuka kembali unggahan itu.

Ia lantas meminta izin kepada sang ibunda.

Meski merasa tidak memiliki banyak prestasi, Rafli punya modal utama, kepercayaan diri.

“Memang prestasinya tidak banyak, tapi saya percaya diri bisa masuk ke dalam itu,” ujarnya.

Dengan tekad bulat, Rafli memberanikan diri mengirim pesan langsung (DM) kepada admin Duta Pendidikan NTB untuk menanyakan ketersediaan kuota.

Jawaban yang diterima sangat melegakan, kuota masih tersedia.

Bahkan, akun media sosialnya sempat dilirik pihak panitia.

Sebuah pertanda bahwa langkahnya tidak akan sia-sia.

“Semakin semangat saya untuk daftar ini,” ucapnya.

Setelah mendaftar, Rafli berhasil melaju ke tahap wawancara.

Ia menghadapi sekitar 30 pertanyaan yang menguji wawasan kebangsaan dan pengetahuan umum.

Dari seluruh pertanyaan, 28 berhasil ia jawab dengan tepat.

Capaian yang tak mudah, mengingat ketatnya persaingan.

“Dari 30 soal itu, 28 soal bisa saya jawab,” kenangnya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Dari sekitar 300 pendaftar se-NTB, Rafli berhasil tembus sebagai finalis pertama.

Banyak peserta lain gugur di tahap wawancara.

Selain wawasan dan akademik, penampilan juga menjadi pertimbangan penting dalam seleksi ini.

Nilai wawancara Rafli cukup tinggi, disusul terbitnya Surat Keputusan (SK) penetapan.

Nilai 98 yang ia kantongi menjadi salah satu yang tertinggi di antara seluruh peserta.

Gelar Putra Pendidikan NTB bukan sekadar titel.

Rafli membawa niat tulus untuk menjadi bagian dari gerakan ini.

Semangatnya dalam bersosialisasi dan berbicara di depan umum selaras dengan peran seorang duta pendidikan yang akan terjun langsung ke masyarakat menyuarakan isu-isu penting.

“Dari awal memang saya melihat kegiatan Duta Pendidikan ini sesuai sama passion yang saya pelajari. Jadi saya coba tes kemampuan diri melalui ini,” imbuhnya.

Kemampuan public speakingnya bukan datang tiba-tiba.

Ia telah memupuknya sejak di pondok pesantren.

Rafli kerap tampil dalam berbagai ajang lomba, termasuk Festival Abu Hurairah yang digelar setiap tahun.

Hampir setiap kesempatan, ia selalu keluar sebagai juara pertama.

Hanya saat kelas X ia menempati juara empat untuk lomba pidato bahasa Arab.

Dari pidato bahasa Indonesia di kelas VII, syair bahasa Arab di kelas IX, hingga pidato di UIN Mataram yang diselenggarakan UPT Pengembangan Bahasa, semua menjadi bukti bakatnya yang terus terasah.

“Memang dari pondok selalu berani mengambil kesempatan untuk mengikuti lomba,” tutur Rafli.

Ia merasa bidang public speaking sangat cocok dengannya.

Itu sebabnya ia terus mendalami dan mengasah kemampuannya.

Berbagai prestasi tersebut menjadi modal berharga saat mengikuti seleksi Duta Pendidikan NTB.

“Jadinya kan sedikit tidak dibantu oleh prestasi itu, walaupun memang tidak terlalu banyak ya,” ucapnya sambil cengengesan.

Sebagai Putra Pendidikan NTB, Rafli akan mengemban tugas selama satu tahun ke depan.

Bersama para duta lainnya, ia akan menyosialisasikan isu-isu pendidikan di berbagai sekolah dasar, terutama yang berada di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal).

“Kami sudah mulai sosialisasi ke beberapa sekolah sebelum ada penganugerahan ini,” jelasnya.

Salah satu isu yang diadvokasinya adalah pernikahan anak. Rafli memilih isu ini bukan tanpa alasan.

NTB termasuk salah satu provinsi dengan angka pernikahan anak tertinggi di Indonesia.

Kondisi ini berdampak serius terhadap kelanjutan pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan anak.

BERPESTASI : Rafli Aqilasyach saat menerima penghargaan dan dinobatkan sebagai putera pendidikan NTB beberapa waktu lalu. 
BERPESTASI : Rafli Aqilasyach saat menerima penghargaan dan dinobatkan sebagai putera pendidikan NTB beberapa waktu lalu. 

“Saya menyadari betul bahwa NTB masih dicap sebagai provinsi dengan kasus pernikahan anak tinggi di Indonesia. Dan Indonesia pun kasus pernikahan dininya tinggi di Asia. Jadinya, saya mengambil advokasi itu,” jelas Rafli.

Bagi Rafli, pernikahan anak adalah hambatan besar bagi kemajuan pendidikan.

Lewat perannya sebagai duta, ia ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak negatif dari pernikahan dini dan pentingnya menuntaskan pendidikan dasar dan menengah.

Setiap duta membawa advokasi masing-masing.

Rafli fokus pada penyadaran bahaya pernikahan anak.

Ia akan menyampaikan kampanyenya melalui forum formal di sekolah maupun pendekatan langsung ke komunitas.

“Tujuannya untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan yang masih melegitimasi pernikahan anak, juga mengadvokasi pentingnya menuntaskan pendidikan dasar dan menengah,” terangnya.

Rafli berharap, bersama dua duta lainnya yang masuk tiga besar, ia bisa mewakili NTB di ajang nasional di Jakarta.

Di sanalah suara pendidikan dari NTB akan bersanding dengan suara-suara muda dari seluruh Indonesia.

Dan perjuangan Rafli, yang dimulai dari unggahan kecil di media sosial, akan menemukan panggung yang lebih besar. (SANCHIA VANEKA, Mataram/r7)

Editor : Kimda Farida
#pendidikan #media sosial #duta #Pernikahan Anak #Sumbawa #NTB