Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tari Rudat SDN 5 Ampenan, Langkah Kecil Menjaga Warisan Besar

Lombok Post Online • Kamis, 19 Juni 2025 | 11:09 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
  

LombokPost - Jika banyak anak SD sekarang hafal nama-nama idol K-Pop, anak-anak di SDN 5 Ampenan justru punya cara keren merayakan masa kecil mereka.

Berlatih dan menari Rudat, seni tarian tradisional Suku Sasak yang sarat nilai dakwah dan keberanian.

HARI itu, belasan bocah berseragam oranye berbaris rapi. Usai tampil di hadapan Wali Kota Mataram, mereka berbicara lugas soal kecintaan pada budaya sendiri — dengan gaya polos khas anak-anak, tapi maknanya dalam sekali.

Kenapa pilih Rudat?

“Karena (ingin) melestarikan budaya Lombok,” Husna, siswi kelas lima, menjawab tegas.

Seorang bocah perempuan tak kalah antusias. Ia mengangkat tangan ingin memberikan jawaban juga. 

“Untuk memperkenalkan budaya Lombok ke semua orang,” timpal Husna.

Ketika ditanya seberapa besar rasa cinta pada budaya sendiri, suasana mendadak ramai.

“100 persen!” Yumna, berteriak. 

“Seribu persen!” disusul Rahel menambahkan.

“Satu juta persen!” dan Lizwa memecahkan rekor.

Lalu seseorang di antara mereka iseng menutup, “Infinity, Kak, tak terhingga!” disambut tawa teman-temannya.

Bagi banyak orang, Tari Rudat memang bukan sekadar seni pertunjukan. Jejaknya di Lombok sudah ada sejak para penyebar Islam datang ratusan tahun lalu.

Diyakini berakar dari budaya Turki Utsmani, rudat diadopsi sebagai seni dakwah, menanamkan nilai keberanian, bela diri, dan persaudaraan umat.

Uniknya, gerakan rudat menggabungkan unsur pencak silat dengan formasi prajurit: tendangan, sapuan tangan, gerak menangkis, hingga formasi berbaris.

Kostum penarinya pun menyerupai seragam tentara Ottoman: tarbus, baju panjang, epaulet di bahu, ikat pinggang rapi. Semua ini menjadikan Rudat punya ciri khas tegas, gagah, namun tetap Islami.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Kelompok rudat cilik SDN 5 Ampenan sudah kenyang pengalaman panggung. Mereka pernah mentas di Teras Udayana, panggung sekolah, hingga ikut lomba di berbagai ajang.

“Kemarin juara 1, 2, dan 3, dapat enam piala!” kata Diana, penari yang tampak bangga diapit teman-temannya.

Rasa grogi? Nyaris tak ada. Justru, panggung membuat mereka semakin bangga.

“Kami sudah terbiasa, nggak malu, malah bangga,” kata mereka kompak.

Lebih membanggakan lagi, anak-anak ini datang dari latar keluarga sederhana: anak nelayan, pedagang pasar, buruh sampan, hingga PNS. Tapi di panggung rudat, semua beda melebur dalam irama rebana, mandolin, dan lantunan syair dakwah.

Ditanya soal apa yang mereka tahu tentang Rudat, jawaban anak-anak sederhana tapi tepat sasaran.

“Pencak silat, tarung, perang,” ucap Sirin.

Gerakan mereka memang meniru keprajuritan: perang, berdoa, maaf-maafan, hingga formasi sambutan tamu. Semua sudah mereka hafal di luar kepala.

Harapan mereka sederhana, tapi bermakna dan mendalam. “Supaya Rudat ini banyak yang lebih tahu, dari sebelumnya,” kata salah satu anak.

LESTARIKAN BUDAYA: Sekelompok siswa SDN 5 Ampenan berpose bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Yusuf, guru, dan pendamping usai tampil dalam sebuah acara.
LESTARIKAN BUDAYA: Sekelompok siswa SDN 5 Ampenan berpose bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Yusuf, guru, dan pendamping usai tampil dalam sebuah acara.

Seni Rudat di Lombok kini memang tak seramai dulu. Banyak kelompok Rudat dewasa perlahan vakum. Namun kelompok cilik seperti SDN 5 Ampenan ini membuktikan, regenerasi masih ada, asal diberi ruang, panggung, dan semangat.

Selagi rebana masih ditabuh, langkah kaki tetap selaras, dan seruan “100 persen sampai infinity” terucap polos, maka warisan leluhur ini tak akan punah. Mungkin, merekalah prajurit kecil terakhir yang menjaga tarian Rudat tetap hidup di jantung Lombok. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r7)

Editor : Jelo Sangaji
#wali kota #anak-anak #Ampenan #Mataram #Rudat #warisan