LombokPost – Kota Mataram kembali memancarkan sinarnya dari laut dan panggung budaya.
Pada 9–10 Agustus 2025, Atrium Lombok Epicentrum Mall akan menjadi pusat kemilau, ketika Festival Mataram Mutiara 2025 digelar untuk kelima kalinya.
Namun tahun ini berbeda.
“Lebih dari sekadar pesta pameran perhiasan, festival ini kini hadir dengan konsep edukatif dan partisipatif,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra.
Pengunjung akan menyelami dunia mutiara secara utuh: dari laut hingga leher pemakai.
“Festival ini bukan hanya soal penjualan, tapi tentang memperkuat identitas, mengedukasi masyarakat, dan membanggakan produk unggulan kota,” tegasnya.
Ia menyebut, tema tahun ini Edukasi Mutiara”. Tema ini dipilih untuk menampilkan sisi dalam industri yang selama ini tersembunyi dari publik.
Lewat konsep ini, pengunjung tak hanya bisa membeli, tetapi juga belajar dan menyaksikan langsung proses hatchery kerang, teknik penyuntikan nukleus, hingga panen mutiara. Semua ditampilkan dalam bentuk talkshow, pameran edukasi, workshop, dan demonstrasi langsung dari para ahli.
“Ini langkah besar, kita buka dapur industri kepada masyarakat,” tegasnya.
Cahya mengatakan, pihaknya percaya, makin tahu orang tentang prosesnya, makin tinggi apresiasi mereka. “Terutama terhadap nilai sebutir mutiara,” ujarnya.
Tak hanya edukasi, festival ini juga tetap mempertahankan pesona klasiknya: Fashion Show Perhiasan Mutiara, Bazar UMKM, dan yang paling ditunggu: Pameran Mutiara Raksasa.
Bahkan, akan ada sesi live crafting “How to Make the Craft of Pearl”. Ini akan menjadi tempat pengunjung bisa menyaksikan secara langsung bagaimana pengrajin lokal mengubah mutiara mentah menjadi karya elegan.
Sebagai kota pesisir dengan sejarah panjang perdagangan laut, Mataram kini menancapkan tonggaknya sebagai rumah dari perhiasan berkelas dunia. Festival ini adalah selebrasi terhadap keuletan petani mutiara, keindahan kriya lokal, serta kreativitas UMKM yang terus tumbuh di tengah tantangan.
“Festival ini juga bagian dari perjalanan menuju HUT ke-32 Kota Mataram, kami ingin semua warga dan tamu merasakan bangga yang sama,” lanjut Cahya.
Dalam dua hari pelaksanaan, festival ini tidak hanya akan dipenuhi kemilau perhiasan, tetapi juga denting musik. Selain itu, tepuk tangan peserta lomba, tanya-jawab penuh rasa ingin tahu, dan decak kagum dari penonton yang menyaksikan bagaimana sebutir mutiara benar-benar lahir.
Pada akhirnya, Festival Mutiara bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah cermin dari karakter Mataram itu sendiri: hangat, kreatif, dan tak pernah berhenti bersinar.
Dukungan terhadap pelaksanaan Festival Mataram Mutiara 2025 mengalir. Salah satunya dari Muhtar, anggota DPRD Kota Mataram Fraksi Partai Gerindra.
Menurutnya, keberadaan mutiara sebagai kekayaan khas Pulau Lombok, khususnya Kota Mataram, sudah selayaknya diangkat sebagai ikon wisata unggulan kota. “Mutiara Lombok ini sangat terkenal,” tegasnya.
Ia menekankan, Mutiara menjadi salah satu ikon di Kota Mataram. Terutama karena Mataram pusat kerajinan mutiara.
“Di samping ada emas dan perak, ada mutiara,”ujarnya.
Menurutnya, tamu-tamu selalu mengincar mutiara Lombok. “Mereka yang hadir di Kota Mataram tanpa menikmati indahnya mutiara Lombok, itu rasanya kurang sempurna,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kota Mataram memiliki beragam desain kerajinan mutiara yang unik dan berkualitas tinggi, hasil sentuhan tangan-tangan pengrajin lokal. Bagi Muhtar, kekayaan kriya ini harus terus dikenalkan dan dimanfaatkan dalam berbagai momen publik, baik berskala lokal, nasional, maupun internasional.
“Desain-desain mutiara kita itu banyak sekali dan perlu dijadikan ikon wisata Mataram,” tekannya.
Ia mencontohkan pelakat-pelakat yang dibuat oleh pengrajin ibu kota, memakai kerang mutiara. “Kerangnya saja sudah indah, apalagi mutiaranya, itu yang saya sering promosikan,” ungkapnya.
Oleh karenanya, Muhtar menyambut positif digelarnya Festival Mataram Mutiara tahun ini. Menurutnya, festival ini adalah langkah konkret memperkuat identitas Kota Mataram sebagai sentra kerajinan mutiara, emas, dan perak.
Namun ia mengingatkan kegiatan tidak berhenti sebatas pameran semata. Melainkan menjadi media promosi berkelanjutan di sektor kriya lokal.
“Kalau dari sisi kualitas, mutiara kita luar biasa, tapi promosinya yang masih kurang, maka mudah-mudahan lewat festival ini, Mataram bisa makin dikenal sebagai pusat kerajinan mas perak dan mutiara,” harapnya. (zad/r9)
Editor : Pujo Nugroho