LombokPost - Di balik pintu kaca buram berlogo “Lombok IVF”, sebuah ruangan menyambut dengan keheningan yang tidak hampa.
Di sinilah waktu tidak bergerak seperti jam dinding.
Melainkan berputar bersama rasa gugup, degup harapan, dan napas yang ditahan perlahan.
INI bukan sekadar ruang tunggu. Ini adalah peron paling sunyi dari perjalanan menciptakan kehidupan.
Ruang tunggu layanan bayi tabung (IVF) RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram berdiri dengan wajah modern, luas, sejuk, dan berbalut nuansa kepercayaan diri. Dindingnya dibungkus marmer putih bergaris halus.
Sofa empuk berwarna abu dan lavender membentuk setengah lingkaran psikologis: menciptakan rasa aman tanpa banyak bicara.
“Di sisi depan ini, meja administrasi,” terang dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc., Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram sekaligus dokter subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi.
Di belakangnya membentang panjang logo “Lombok IVF – The Right Place to Start New Life” menyala lembut. Kalimat itu bukan sekadar slogan.
Di ruang ini, setiap pasangan yang datang memang sedang memulai sesuatu yang baru. Entah itu langkah pertama menuju program bayi tabung, atau langkah kedua, ketiga, bahkan yang kesekian setelah gagal berkali-kali.
Baca Juga: Masuk ke Ruang Ini, Harapan Jadi Nyata, Meja Pertama Menuju Bayi Tabung di Mataram!
Kursi yang dipilih bukan kursi rumah sakit biasa. Ini sofa berkain tebal dengan sandaran lebar dan bantal kecil di pangkuannya.
“Desain ruang ini memang kami buat senyaman mungkin,” imbuh dr. Eka.
Pihak RS Ruslan tahu, setiap yang akan datang ke tempat ini bukan hanya membawa tubuh, perasaan. Bisa perasaan tentang harapan, trauma, kecemasan, bahkan mungkin rasa malu.
Tidak ada suara montase mesin, tidak ada denting peralatan medis. Hanya sesekali suara televisi dari pojok ruangan, atau sapaan pelan dari petugas administrasi.
Ini adalah ruang sunyi yang tidak dingin, tetapi juga tidak membanjiri pasien dengan basa-basi. Sebagian pasangan duduk berdua, menggenggam tangan satu sama lain.
Sebagian lagi hanya menunduk dalam diam, menunggu giliran masuk ke ruang diskusi atau pemeriksaan. “Ruang tunggu adalah ruang pengatur emosi,” katanya.
Mereka yang datang ke tempat ini harus lebih tentang sebelum bicara dengan dokter atau embriolog. “Dan itu butuh tempat yang tidak membuat mereka merasa seperti pasien,” tekannya.
Bagi mereka yang datang, lima menit bisa terasa sejam. Apalagi ketika menunggu hasil evaluasi ovarium, hasil sperma, atau menanti disebutkan untuk tindakan pengambilan sel telur.
Di ruang ini, detik tidak pernah benar-benar netral. Ada detik-detik yang menumbuhkan harapan, ada pula detik yang mengendapkan luka.
Karena itu, segala detail diatur: dari penataan cahaya lembut, lantai keramik mengilap, hingga pemilihan meja bundar kecil di tengah-tengah.
“Semua berfungsi secara psikologis agar pasien tidak merasa “diperiksa”, tapi justru “disambut”,” tekannya.
Ruang tunggu ini kelak juga menjadi ruang temu bagi banyak latar belakang sosial. Ada pasangan ASN, pengusaha, pedagang kecil, hingga buruh migran yang baru pulang kampung untuk mengikuti program ini.
Semua bertemu dalam satu kesamaan: keinginan untuk menjadi orang tua.
“IVF bukan hanya untuk kalangan tertentu, di sini kami ingin membuka layanan yang bisa diakses lebih luas, termasuk mereka yang sebelumnya tidak tahu harus ke mana,” kata dr. Eka.
Logo besar “Lombok IVF” di dinding bukan hanya tanda. Ia mengingatkan setiap tamu yang datang mereka sedang berada di tempat yang benar.
Bahkan sebelum bicara dengan dokter, sebelum melakukan tindakan medis apa pun, ruangan ini sudah lebih dulu menghadirkan ketenangan.
Di sisi kanan ruangan, jendela kaca tinggi memperlihatkan koridor luar yang tenang. Saat malam, lampu interior memantul seperti cermin, menciptakan efek ruang dalam ruang refleksi yang tak hanya visual, tapi juga emosional.
Kelak, akan banyak pasien datang malam hari untuk konsultasi lanjutan. “Dan di jam-jam seperti itu, ruang tunggu ini bisa berubah menjadi tempat kontemplasi kecil,” ucapnya.
Petugas administrasi di balik meja tidak hanya mencatat nama. Mereka dilatih memahami setiap pasien punya kebutuhan khusus.
Beberapa pasangan ingin cepat ditangani. Beberapa butuh waktu untuk menjelaskan.
Karena itu, komunikasi di ruang tunggu ini dibangun dengan kesabaran dan kepekaan emosional. “Kami menyiapkan SOP bagaimana menyambut pasien infertilitas dengan empati, karena banyak dari mereka datang bukan dalam kondisi biasa,” ujarnya.
Ruang ini memang tampak seperti ruang tunggu biasa. Tapi di sinilah keputusan penting diambil.
Di sinilah pasangan saling menguatkan. Di sinilah banyak yang menggenggam hasil USG dengan tangan gemetar.
Atau surat laboratorium dengan mata yang berkaca. Dan di ruang ini pula, banyak yang pertama kali berbisik pelan pada diri mereka sendiri: “Mungkin… kami bisa punya anak.” (zad/r9)
Editor : Pujo Nugroho