Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tak Sekolah tapi Punya Alphard, Ketua Gerindra Mataram Bongkar Rahasia Lawan Miskin!

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 12 Agustus 2025 | 23:03 WIB

 

Abd Rachman
Abd Rachman

 

LombokPost – Di ruang kerjanya, Abd Rachman menyanderkan punggung ke kursi. Ketua DPC Partai Gerindra Kota Mataram itu mengawali dengan satu kalimat pendek, seperti pengakuan sekaligus tantangan.

“Kita belum optimal mengurus sumber daya yang kita punya,” ujarnya, Selasa (12/8).

Abd Rachman
Abd Rachman

 Baca Juga: Rachman Nilai Opening Ceremony FORNAS Spektakuler, Jalan Menuju Mataram – NTB Makmur Mendunia

Pernyataan itu muncul setelah ia membandingkan Indonesia dengan Tiongkok. Perbandingan yang menurutnya, bukan untuk merendahkan negeri sendiri, melainkan ajakan bercermin.

“Tiongkok itu negara dengan penduduk besar, tapi bisa menjadi yang terkuat dan termakmur di dunia,” katanya.

Ia lantas melihat ke negeri sendiri, bahkan ke kota ini. “Kita juga punya banyak orang pintar, banyak yang mapan secara ekonomi,” imbuhnya.

Namun, ia mengangkat alis. “Bersamaan dengan itu, masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan,” ucapnya dengan intonasi menurun. 

Bagi Rachman, memimpin bukan hanya soal mengelola birokrasi, melainkan mencari cara kreatif agar rakyat bisa bertahan hidup. “Kalau bisa, ya mengangkat mereka keluar dari kemiskinan,” tambahnya.

Masalah utamanya, ia menilai, bukan semata kurangnya modal atau sumber daya, tetapi koordinasi yang lemah. Potensi sektor swasta, kata dia, belum sepenuhnya disentuh.

“Kalau kolaborasi itu berjalan, kita tidak akan lagi bicara soal kemiskinan ekstrem,” ujarnya.

Faktanya, istilah ‘miskin absolut’ masih tercatat, bahkan bertambah. “Itu alarm,” tegasnya.

Yang ia maksud “bodoh” adalah sikap enggan belajar dari kehidupan, malas mencari ilmu, dan takut keluar dari zona nyaman. “Itu yang berbahaya,” tekannya.

Karena itu, ia menilai, peluang pendidikan—baik formal maupun informal—harus dibuka selebar mungkin. Tetapi sebesar apa pun peluang itu, jika mental masyarakat enggan berubah, hasilnya tak akan ke mana-mana.

“Bagaimana pemerintah bisa mengubah satu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mau berubah?” ujarnya blak-blakan.

Mataram, sebagai salah satu pusat pemerintahan di kawasan Indonesia bagian tengah, menjadi magnet bagi pendatang. Rachman melihat ini sebagai peluang sekaligus tantangan.

“Persaingan bisa memacu semangat warga lokal, tapi banyak juga yang tidak siap berkompetisi,” katanya.

Padahal, menurutnya, kemauan keras bisa menjadi modal lebih besar daripada sekadar ijazah. Daya juang sering lahir dari tempaan hidup.

“Ada yang tidak sekolah tapi bisa jadi kompetitor hebat karena mau belajar dari pengalaman,” ucapnya. 

Ia percaya, pemerintah wajib menciptakan ruang kompetisi yang sehat, di sektor formal maupun informal. Ruang yang memacu, bukan menjatuhkan.

Dalam konteks ini, ia menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat sebagai langkah konkret menyiapkan generasi masa depan. “Kalau gizinya baik, otaknya akan berkembang optimal,” ujarnya.

Anak-anak yang tumbuh sehat, kata dia, kelak bisa berpikir jernih, memecahkan masalah, dan bersaing dengan sehat. “Itu visi yang saya lihat dari Presiden Prabowo,” ucapnya.

Mengurangi kebodohan, menurut Rachman, lebih mungkin dilakukan daripada menghapus kemiskinan. Pemerintah bisa menyediakan kebutuhan dasar, tetapi untuk menjadi kaya adalah urusan pribadi. 

“Tidak mungkin seseorang menjadi kaya hanya karena bantuan pemerintah, harus ada usaha sendiri,” tekannya.

Ia lantas menyampaikan kegagalan dalam melihat fokus persoalan. “Kita terlalu sering fokus pada angka kemiskinan, lupa bertanya kenapa peluang yang ada tidak dimanfaatkan,” tekannya. 

Kesejahteraan, ujarnya, bukan sekadar siapa punya uang lebih banyak, melainkan siapa yang mau berjuang lebih keras. “Tugas pemerintah itu menyalakan lampu di jalan yang gelap, tapi lampu itu tidak ada gunanya kalau kita memilih duduk diam di tempat,” ucapnya.

Rachman lalu menghela napas. “Keberanian untuk berjalan harus lahir dari diri kita sendiri,” pungkasnya. (zad/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Refleksi Kemerdekaan #Ketua Gerindra Mataram #Abd Rachman #Kemiskinan Mataram #Pendidikan dan Ekonomi