LombokPost – Selasa siang, halaman Kantor Wali Kota Mataram berdenyut seperti pasar rakyat.
Spanduk warna-warni terpasang di setiap sudut, musik mengalun, dan kelompok ibu-ibu berbalut seragam PKK bersorak lewat yel-yel penuh semangat.
Itulah atmosfer Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia yang disambung HUT ke-32 Kota Mataram. Di antara deretan acara, Lomba 10 Program Pokok PKK menjadi pusat perhatian.
“PKK hadir menjalankan 10 program pokok, mulai dari kesehatan, pendidikan anak, sampai peningkatan ekonomi keluarga,” kata Ketua TP PKK Kota Mataram Kinnastri Mohan Roliskana atau yang karib disapa Bunda Kikin, Selasa (19/8).
Ajang tahunan ini digelar sekaligus menandai Puncak Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-53, dan selalu ditunggu.
Kegiatan yang selalu sukses memadukan kompetisi, kreativitas, serta pesan kebersamaan.
Bunda Kikin menyebut, perlombaan ini lebih dari sekadar unjuk keterampilan.
“Melalui lomba ini kader diuji, apakah mereka mampu menerjemahkan itu ke dalam aksi nyata,” katanya.
Ragam lomba memang mencerminkan spektrum peran PKK: presentasi tentang PAAREDI, lomba kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), fashion show, hingga cerdas cermat kader.
Lomba UP2K menjadi sorotan karena mendorong UMKM dari tingkat kelurahan untuk tampil. Kota Mataram, kata Kikin, selalu punya tradisi kuat mengirim kader terbaik ke tingkat nasional.
Baca Juga: PKK NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Mataram
Tahun lalu juara dua, tahun ini targetnya lebih tinggi.
Namun yang membuat acara benar-benar hidup adalah bagian non-formalnya.
Ada cooking demo, lomba masak nasi goreng yang diikuti kepala sekolah se-Kota Mataram, lomba mengulek sambal untuk kepala OPD, hingga lomba kreasi menu oleh tim PKK sendiri.
Sorak-sorai peserta tak kalah ramai saat lomba yel-yel berlangsung.
PKK, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) beradu atraktif di panggung.
Teriakan kompak, gerakan serentak, dan improvisasi humor membuat penonton larut.
Lomba 10 Program Pokok PKK sudah lama menjadi identitas perayaan HUT di Kota Mataram.
Menggabungkan dua hal yang kerap dipandang remeh: kerja-kerja domestik perempuan dan perayaan publik.
Di sinilah relevansi PKK terasa, bahwa ruang keluarga sesungguhnya bagian dari pembangunan kota.
Setiap tahun, kegiatan ini juga memperlihatkan sisi lain para kader.
Mereka tak hanya datang sebagai istri ASN atau pengurus organisasi, melainkan agen perubahan yang membangun jejaring hingga tingkat kelurahan.
“PKK bukan hanya lomba, tapi jalan untuk memastikan keluarga di Mataram kuat dan mandiri,” tegasnya.
Di titik ini, acara PKK menjelma ruang berekspresi yang cair dan tak kaku.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana yang membuka acara dengan memberi penghargaan kepada para ibu yang sehari-hari mengurus rumah tangga sekaligus aktif di organisasi.
“Hari ini istimewa untuk ibu-ibu, tapi bapak-bapak juga tak kalah, ada lomba mengulek sambal untuk ikut meramaikan,” ujarnya, disambut tawa hadirin.
Menurut Mohan, kegiatan semacam ini penting sebagai momentum merawat kebersamaan.
Tagline “Kota Kita, Masa Depan Kita”, katanya, bukan sekadar slogan.
“Ada doa dan harapan agar Mataram menjadi kota yang nyaman dan menjanjikan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Kolaborasi dengan pihak swasta dan media membuat acara semakin inklusif. ABC, misalnya, menghadirkan lomba-lomba unik yang memberi warna.
Sementara Lombok Post hadir sebagai mitra yang mendokumentasikan energi ibu-ibu PKK agar sampai ke publik lebih luas.
Ketika siang tiba halaman kantor wali kota, acara ditutup dengan semarak.
Para kader masih tampak riuh berfoto, mengabadikan momen sebelum kembali ke rutinitas masing-masing.
Di balik keriuhan lomba, ada pesan yang lebih dalam: PKK bukan sekadar organisasi seremonial, melainkan wajah lain dari kota yang bergerak melalui tangan-tangan perempuan. (zad/chi/r9)
Editor : Kimda Farida