LombokPost - Tradisi Praje dalam perayaan Maulid di Dasan Agung, Kota Mataram, sempat menuai sorotan. Arak-arakan yang telah diwariskan turun-temurun itu dianggap bergeser dari makna religius menjadi pesta hiburan jalanan.
“Ada yang keliru menafsirkan,” ujar Baihaqi, tokoh muda Dasan Agung, Minggu (5/10).
Kontroversi itu muncul setelah video sejumlah remaja berjoget dalam arak-arakan beredar di media sosial. Publik menilai prosesi itu keluar dari nilai sakral kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun, warga menyebut penilaian itu terlalu dangkal.
“Joget itu, hanya sebagian kecil,” jelas aktivis pemuda yang juga Ketua DPD KNPI NTB ini.
Ia menegaskan Praje bukan sekadar hiburan, melainkan simbol doa kolektif masyarakat. Anak yang baru dikhitan diarak layaknya raja sebagai lambang harapan masa depan.
“Harapannya anak (yang dikhitan) jadi orang besar,” imbuhnya.
Makna penokohan ini mengandung pesan penting agar anak kelak membawa manfaat bagi lingkungan. Praje bukan sekadar pawai, tetapi tanggung jawab sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Maknanya harus dimurnikan lagi,” tegas Baihaqi.
Sayangnya, derasnya arus modernisasi membuat makna luhur Praje sering tereduksi dalam persepsi generasi muda. Karena itu, para tokoh kampung kini gencar menyampaikan kembali filosofi dan nilai-nilainya agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kalau tak bernilai, tak diwariskan,” katanya.
Sebagai warga asli, Baihaqi merasa terpanggil untuk meluruskan persepsi yang keliru. Ia mengingatkan bahwa melihat budaya hanya dari cuplikan media sosial akan menyesatkan penilaian.
“Banyak yang tidak tahu tentang Dasan Agung, hanya lihat dari sosmed,” ucapnya.
Praje, tambahnya, akan terus hidup selama maknanya dijaga. Tradisi itu bukan sekadar pawai jalanan, melainkan cara masyarakat berbicara dengan masa depan dan menanamkan nilai kebesaran sejak dini kepada anak-anak pewaris tradisi.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin