LombokPost – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram menggelar pertemuan dengan tiga komunitas ojek online (ojol) yakni Gojek, Grab, dan ShopeeFood.
Pertemuan ini bertujuan mencari solusi terkait penggunaan trotoar dan area pedestrian di depan Lombok Epicentrum Mall (LEM) yang kerap dijadikan tempat parkir oleh para driver saat menunggu pesanan makanan.
Baca Juga: Dishub Mataram Genjot PAD, 47 Titik Parkir Baru Didaftarkan, Potensi Retribusi Naik Tajam
“Kami mengambil inisiatif memfasilitasi pertemuan sebagai bentuk pelayanan publik dan upaya menjaga keteraturan lalu lintas,” kata Plh Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram Lalu Irfan Panca, Senin (3/11).
Di samping itu, membangun kenyamanan pengguna jalan di sekitar pusat perbelanjaan terbesar di Kota Mataram tersebut.
“Kita berangkat dari aspirasi para driver ojek online yang memanfaatkan trotoar di depan LEM untuk menunggu pesanan,” imbuhnya.
Dikatakan, pemkot posisinya memfasilitasi agar trotoar tetap digunakan oleh pejalan kaki. “Namun di sisi lain kebutuhan para driver untuk tempat parkir juga bisa difasilitasi,” ujarnya.
Dalam pertemuan yang diundang untuk tiga operator besar itu, hanya perwakilan dari Gojek hadir secara langsung. Grab dan ShopeeFood mengonfirmasi ketidakhadirannya melalui pesan tertulis.
Dishub, kata Irfan, tetap membuka ruang komunikasi dan berencana memanggil kembali pihak Grab dan ShopeeFood, sekaligus mengundang pengelola parkir Lombok Epicentrum Mall untuk mencari titik temu bersama.
“Kita akan dudukkan semuanya, termasuk pengelola parkir LEM dan juga Mataram Mall karena persoalan serupa juga muncul di sana,” ujarnya.
Menurut Irfan, permasalahan bukan pada aktivitas menurunkan penumpang (drop off), melainkan pada saat pengambilan pesanan makanan (pick up food). Dalam aktivitas tersebut, para driver harus menunggu pesanan yang kadang memakan waktu, sehingga memilih berhenti di trotoar untuk menghindari biaya parkir.
“Untuk drop penumpang tidak ada masalah tapi untuk pick up makanan, mereka harus parkir masuk ke dalam dan itu butuh biaya Rp 2.000–Rp 4.000.
Sementara ongkos pesanan hanya sekitar Rp 8.000. Jadi ini soal ekonomi juga, karena menurut mereka memberatkan,” terangnya.
Dishub menilai hal ini perlu diatur dengan pendekatan kolaboratif antara operator aplikasi dan pengelola parkir.
Pemerintah, kata Irfan, tetap pada posisi memfasilitasi komunikasi antarpihak swasta tersebut.
Dishub akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini dengan rapat lanjutan bersama pihak manajemen LEM, pengelola parkir, serta operator lainnya.
Tujuannya agar aturan penggunaan trotoar dan area publik tetap tegas, namun tidak menghambat kegiatan ekonomi para mitra ojek online.
“Kita ingin LEM tetap nyaman bagi pejalan kaki, tapi juga menjadi ruang kerja yang tertib bagi para driver,” ujarnya.
Perwakilan manajemen Gojek Rony, yang hadir dalam pertemuan itu, mengapresiasi langkah Dishub membuka ruang dialog.
Ia menyebutkan, pihaknya siap mematuhi aturan dan mendukung upaya penataan, dengan catatan ada kebijakan khusus bagi para driver.
“Kami usul opsi area parkir di sisi utara Epicentrum, tapi kami berharap biaya parkir bisa disesuaikan, tidak sama dengan kendaraan umum karena ini aktivitas kerja,” ujar Rony.
Baca Juga: Dishub Ingatkan Juru Parkir: Tertiblah, Jangan Ganggu Arus Kota!
Rony juga menambahkan Gojek akan mengomunikasikan ke pusat agar biaya parkir bisa diintegrasikan dalam sistem aplikasi.
“Kalau memungkinkan, kami ingin ada sistem yang otomatis memasukkan biaya parkir dalam biaya pemesanan makanan di aplikasi, tapi ini masih perlu pembahasan internal di tingkat nasional,” jelasnya. (zad/r9)
Editor : Kimda Farida