LombokPost – Pemerintah Kota Mataram tengah mematangkan wacana untuk menghidupkan kembali denyut Kota Tua Ampenan di malam hari melalui agenda Car Free Night (CFN).
Inisiatif Wali Kota ini bertujuan ganda: memecah keramaian di Pantai Ampenan dan menyediakan ruang usaha bagi puluhan pedagang yang belum mendapat lapak pasca-revitalisasi.
Camat Ampenan, Muzakkir Walad, membenarkan bahwa usulan CFN ini sudah lama diimpikan dan kini memasuki tahap pematangan rencana.
“Iya itu baru diusulkan. Bisa ada puluhan lapak nanti di sana,” kata Muzakkir, Senin (24/11).
Dua Opsi Lokasi: Pabean atau Niaga
Dua lokasi utama menjadi pertimbangan untuk implementasi CFN, yang masing-masing memiliki kelebihan dan tantangan.
Jalan Pabean (± 1 km).
Keunggulan: Lebih representatif, mirip konsep Malioboro (Jogja) atau Braga (Bandung), dengan area yang luas dan potensi ruang bagi kelompok kesenian/kreatif.
Tantangan: Jalur ini dilintasi ekspedisi Pertamina Patra Niaga. Jadwal ekspedisi kosong hanya pada Minggu malam, waktu yang dianggap kurang representatif untuk CFN.
Jalan Niaga (± 500-600 m).
Keunggulan: Opsi cadangan yang lebih mudah dilakukan, membentang dari Gedung Huis hingga ACC.
Rencana Pengalihan Arus: Lalu lintas akan dialihkan ke Jalan Energi di Warung Banjar yang relatif sepi pada malam hari.
Muzakkir Walad menyebut tantangan terberat terletak pada jalur Pabean, karena harus bernegosiasi dengan Pertamina agar ekspedisi diliburkan pada Malam Minggu (Sabtu malam), waktu yang dinilai ideal untuk kegiatan publik.
"Masalah paling berat di sana adalah bernegosiasi dengan ekspedisi Pertamina itu. Makanya saya langsung nembak ke pimpinannya (Pertamina, Red). Saya minta waktu itu sama dia, bisa enggak malam Minggu itu yang diliburkan ekspedisinya, itu yang masih kita nego,” tegasnya.
Jika Jalan Niaga yang dipilih, area parkir akan memanfaatkan ACC dan kantong-kantong parkir sekitar Kantor Lurah, sekaligus menghidupkan juru parkir lokal yang terdaftar di Dishub Kota Mataram. (chi/r9)
Editor : Kimda Farida