LombokPost — Posyandu Cendana di Babakan Permai tampak lebih mirip laboratorium layanan publik ketimbang posyandu konvensional. Papan datanya rapi, dokumentasi kegiatan tersusun, hingga kader yang responsif memberikan layanan.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, hadir langsung menyaksikan evaluasi kinerja Posyandu Tingkat Provinsi NTB, kemarin (5/12). Di hadapan para kader dan tim penilai, arah kebijakan pembangunan manusia Mataram ditegaskannya.
“Semakin kuat posyandu, semakin kuat keluarga-keluarga di Kota Mataram,” ujar Mohan, Jumat (5/12).
Baca Juga: Posyandu Desa Jenggik Wakili Lotim Penilaian Posyandu Tingkat NTB
Posyandu Cendana bergerak dalam ritme yang teratur, menunjukkan satu hal: posyandu di era baru tidak lagi sekadar ruang timbang dan imunisasi.
Konsep Posyandu Keluarga (POSGA) yang mulai bergerak dua tahun terakhir membawa mandat yang jauh lebih besar. Posyandu kini menjadi gerbang pertama layanan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM): kesehatan, pendidikan, perumahan, pekerjaan umum, ketertiban–kesiapsiagaan bencana, hingga perlindungan sosial.
Praktiknya, kader harus mampu mendeteksi masalah keluarga secara menyeluruh. Mulai dari sanitasi rumah, gizi balita, keamanan lingkungan, hingga kerentanan sosial.
Baca Juga: Mendagri dan Mensos Integrasikan Puskesos dan Posyandu, Perkuat Layanan Sosial Desa
Ketua TP Posyandu Kota Mataram Kinnastri Mohan Roliskana, menyebut transformasi ini menuntut kerja lapangan yang lebih teliti. “Kader menjadi garda terdepan. Mereka masuk ke pintu-pintu rumah, mencatat persoalan, lalu menghubungkannya dengan OPD sesuai kebutuhan,” ungkapnya.
Agar pekerjaan itu efektif, Kota Mataram memperkenalkan aplikasi pelaporan berbasis IT yang dilengkapi checklist digital. Laporan kader masuk secara real-time dan langsung terbaca oleh OPD terkait.
“Kami ingin masalah terlihat sejak di bawah, bukan menunggu menumpuk di akhir tahun,” imbuhnya.
Baca Juga: Pemprov NTB Berupaya Maksimalkan Peran Posyandu
Posyandu Cendana menghadirkan deretan inovasi berbasis kebutuhan warga. Antara lain, pertama SERANK! (Serai Racikan Tolak Jentik Nyamuk), merupakan program gerakan tanam serai untuk menekan kasus DBD.
Kader meracik serai dengan cara diparut/diblender, diperas, lalu dikemas sebagai Abate Serai ketika stok abate terbatas. Kandungan citronella-nya efektif mengusir nyamuk.
Kedua, PB-IT (Pelaporan Berbasis Informasi Teknologi), merupakan transformasi digital posyandu.
Baca Juga: Poltekkes Mataram Latih Kader Posyandu Lombok Barat Tekan Stunting melalui Perawatan Bayi Baru Lahir
Dibuat sejak 2024 dan memudahkan pencatatan, penyimpanan data, hingga survei kepuasan masyarakat. Menjadi salah satu poin penilaian penting tim provinsi.
Ketiga, LIBER KOLOSA (Lingkungan Bersih Karena Kelola Sampah) adalah program bank sampah yang mendorong rumah tangga memilah sampah, menyetor sampah terpilah setiap bulan, hingga memanfaatkan barang bekas untuk polybag tanaman.
Berikutnya, keempat PALING APIQ (Pantau Lingkungan dengan Pedoman Awiq-Awiq) merupakan strategi penguatan keamanan dan kesiapsiagaan kampung. Antara lain pemasangan jalur evakuasi dan APAR di tiap RT, CCTV 12 titik, pembangunan multisport court bagi remaja, edukasi tertib lingkungan menggunakan pedoman lokal awiq-awiq.
Baca Juga: Kader Posyandu di Lombok Utara Diharapkan Aktif Turunkan Stunting
Kelima, OMABAS (Olahan Makanan Balita Atasi Stunting) merupakan olahan makanan bergizi untuk balita yang diracik kader sesuai takaran gizi. Didukung PKK, puskesmas, dan kelurahan.
Keenam Siaga Posyandu, Sumbangsih Warga Peduli Posyandu. Warga menyumbang sayur, telur, dan bahan pangan lain untuk mendukung partisipasi kunjungan posyandu sekaligus edukasi gizi.
P2L (Pekarangan Pangan Lestari) yakni menanam cabai, tomat, sawi, hingga apotik hidup tanpa pestisida. P2L memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung pencegahan stunting.
Baca Juga: Mohan Bangun Huntara Super Lengkap di Pamotan, Warga Dapat Rumah Baru Plus Musala & Posyandu!
“Hasil panen dibagikan kepada ibu hamil, menyusui, balita, dan lansia,” paparnya.
Sentra UMKM Babakan Permai merupakan kolaborasi posyandu dengan UMKM setempat seperti produsen roti, kerupuk, sablon, hingga mebel. Produk pangan dimanfaatkan untuk edukasi gizi posyandu, sementara UMKM berkontribusi pada pemasukan lingkungan dan penyediaan sarana posyandu.
Tim Provinsi NTB menilai Cendana melalui indikator lengkap, di antaranya: Pelayanan Posyandu (timbang, imunisasi, KIA, penyuluhan); Inovasi lokal dan keberlanjutannya; Sistem e-SIP dan administrasi Buku SIP; Program Unggulan P2L & Sentra UMKM.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Unram Ajar Kader Posyandu Desa Paok Motong Buat Jamu Tradisional
Berikutnya, keterlibatan toga–toma, camat–lurah sebagai pembina; Kolaborasi lintas program dan lintas OPD; Penyuluhan enam SPM; dan kegiatan KAP (Komunikasi, Aksi, dan Partisipasi masyarakat).
Bagi warga Babakan Permai, transformasi ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan baru: posyandu bukan sekadar tempat timbang balita, tetapi simpul membaca denyut persoalan keluarga secara utuh.
Suasana pagi itu mengirim pesan sederhana: membangun generasi masa depan memang dimulai dari unit terkecil, sebuah pos di jantung kampung.
Kota Mataram pun memasang target besar. “Kami berharap Posyandu Cendana bisa menjadi wakil NTB. Inovasinya hidup, kadernya siap, dan masyarakatnya bergerak bersama,” tutup Kinnastri.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin