LombokPost - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan sikap terbuka dan penuh penghargaan terhadap inisiatif masyarakat dalam menangani bencana banjir bandang serta longsor di Sumatera. Pernyataan resminya pada Selasa (9/12) datang sebagai respons langsung terhadap gelombang solidaritas yang dipicu oleh tokoh-tokoh seperti Ferry Irwandi dan Praz Teguh, sekaligus kontras dengan nada kritis dari salah satu anggota DPR yang menyoroti narasi media.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang telah bahu-membahu menggalang bantuan bagi warga terdampak bencana banjir dan longsor di Sumatera,” ujar Gibran, yang baru saja menyambangi lokasi pengungsian di Tapanuli Selatan.
Sikap ini menegaskan gerakan dari bawah justru melengkapi upaya pemerintah, bukan menggantikannya. Lebih lanjut, Gibran secara spesifik memuji aksi-aksi cepat yang digerakkan oleh individu dan komunitas, menyebutnya sebagai wujud nyata nilai luhur bangsa.
“Gerakan warga bantu warga seperti yang dilakukan oleh banyak lembaga sosial, komunitas, hingga individu seperti Saudara Ferry Irwandi, Praz Teguh, Willie Salim, dan lainnya merupakan aksi nyata dari semangat gotong-royong dan kepedulian sosial yang sejak lama menjadi kekuatan bangsa kita,” tambahnya.
Pernyataan ini terasa lebih relevan mengingat kontroversi yang meledak sehari sebelumnya, saat anggota Komisi I DPR RI Endipat Wijaya, menyindir inisiatif swasta seperti yang dilakukan Ferry Irwandi. Dalam rapat kerja dengan Kementerian Komunikasi dan Digital pada Senin (8/12), Endipat menyinggung donasi Rp 10 miliar yang digalang Ferry disalurkan sebagai 5,2 ton logistik ke Aceh, Sumatera Barat, serta Sumatera Utara—seolah “sok paling-paling” dibandingkan bantuan pemerintah yang mencapai triliunan rupiah.
“Orang per orang cuma nyumbang Rp 10 miliar, negara sudah triliunan ke Aceh… Ada orang baru datang, baru bikin satu posko ngomong pemerintah enggak ada. Padahal pemerintah udah bikin ratusan posko di sana,” katanya, sambil meminta Komdigi lebih aktif memviralkan kinerja negara agar tak kalah sorotan.
Kritik Endipat ini langsung viral di media sosial, memicu backlash netizen yang menilai DPR lebih fokus pada “emosi” daripada aksi nyata, terutama saat BNPB mencatat lebih dari 800 korban jiwa dan 20 ribu pengungsi sejak akhir November 2025.
Ferry sendiri merespons santai via Instagram Story pada 9 Desember: “Gue malah ngerasa kurang euy, beneran. I wish I can do more,” dan mengonfirmasi bahwa Endipat telah meminta maaf secara pribadi kepadanya.
Sementara Praz Teguh, yang menggalang Rp 1,3 miliar dan turun langsung ke Padang Pariaman, juga tetap fokus lapangan dengan unggahan seperti “Selesai sudah kita di Sumbar… Mari berangkat ke Sumut.”
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin